Komitmen Muslim kepada Islam (1)


Pict: republika.co.id

Mu’jizat Islam tidak akan pernah habis tergali. Semakin digali akan semakin banyak dan besar keindahan serta kekuatan Islam yang dirasakan manusia. Sebegitu indah, tinggi, dan mulianya Islam. Dengan keagungan karakteristik Islam –meskipun manusia tentu punya keterbatasan dalam menjabarkannya– sangat  mudah kita fahami jika sebagian non-Muslim sepanjang sejarah menyadari kekuatan ajaran Islam dalam memengaruhi manusia dan menyadari kecemerlangan masa depan Islam.

Misalnya Emmanuel Deutch. Ilmuwan Jerman ini menilai Islam dengan kalimatnya, “Dengan bantuan Al-Qur’an orang-orang Arab menaklukan suatu dunia yang lebih besar dari dunia Alexander Agung dan dunia Roma. Dan dalam masa puluhan tahun itu Alexander memerlukan ratusan pengganti untuk melaksanakannya. Sementara dengan pertolongan Al-Quran hanya orang Arab-lah, dari segala bangsa Semit, datang ke Eropa sebagai raja ke negeri-negeri dimana orang-orang Persia telah melawat sebagai orang-orang dagang dan orang Yahudi sebagai orang-orang buruan atau tawanan.”

Itu hanyalah satu dari sekian banyak penilaian orang, bukan Islam terhadap Islam dengan segala perangkat sumber hukumnya. Tapi apa arti Islam yang luhur itu bagi manusia jika ia tidak berkomitmen dan berpegang teguh padanya? Lalu, bagaimana cara orang berkomitmen atau berpegang teguh kepadanya? Dengan kata lain, orang yang dianggap berkomitmen kepada Islam itu orang yang seperti apa? Dengan apa seseorang bisa menisbatkan (menghubungkan) diri dengan Islam?

Apakah dianggap cukup ciri komitmen seseorang kepada Islam dengan cara, misalnya selalu berpakaian jubah- lengkap dengan sorban ala orang Arab, selalu memakai baju koko dan menghindari memakai batik, dengan dalih baju koko itu Islami dan batik itu tidak Islami? Apakah orang yang berkomitmen kepada Islam itu adalah orang yang wajahnya selalu ditekuk, murung, merengut, tak pernah ada rona keramahan, senyuman, sikap bersahabat –selain hanya dengan konco-konco “seperjuangan”? Dan apakah orang yang berkomitmen kepada Islam itu yang punya “keberanian” menghancurkan segala sesuatu dan semua orang yang dibencinya– karena semua itu dianggapnya sebagai thoghut yang harus dimusnahkan dari muka bumi? Apakah pula komitmen kepada Islam ditandai dengan hanya wirid, dzikir, doa, rajin merayakan berbagai peringatan yang diklaim sebagai peringatan Islam atau hari besar Islam, atau ritual-ritual yang kadang tidak jelas atas perintah ayat yang mana atau hadits apa?

Menjawab pertanyaan-pertanyaan itu saya akan berbicara tentang sesuatu yang ideal, sesuatu yang seharusnya terjadi atau seharusnya tercapai. Allah memang menghendaki kita mencapai sesuatu yang ideal itu. Tapi jangan kecil hati, karena hanya Allah yang Maha Sempurna. Justru karena ke-Mahasempurnaan-Nya itulah Dia juga bersifat pemurah dan pemaaf. Orang yang Allah nilai sebagai orang shalih bukan harus sesempurna para nabi dan para sahabatnya. Orang yang Allah cintai adalah orang yang memang bisa bersalah, tapi selalu  bertaubat dan menyucikan diri alias memperbaiki diri. Selama tidak melakukan dosa syirik, bolong-bolong sedikit bisa ditambal dangan amal kebaikan yang lain.

Mengapa kondisi ideal Muslim harus dipahami dan setiap muslim wajib berusaha untuk mencapainya? Karena meskipun memang urusan final manusia adalah urusan surga atau neraka, akan tetapi manusia beriman punya misi dalam kehidupannya di dunia. Kalau pun bicara “hanya” urusan akhirat yakni surga dan neraka, maka misi manusia beriman adalah menyelamatkan  manusia sebanyak-banyak dari perbuatan yang menyebabkan masuk neraka agar menjadi orang-orang yang layak diterima surga.

Namun kenyataannya, toh Islam bukan agama akhirat saja melainkan agama dunia dan akhirat. Jadi kebaikan sempurna adalah kebaikan dunia dan akhirat. Mari camkan doa yang Allah ajarkan kepada kita dalam ayat-Nya, “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.”(QS Al Baqarah: 201)

Dalam doa yang diajarkan langsung oleh Allah swt  itu justru kita diperintah mengejar kebaikan dunia terlebih dahulu sebelum kemudian kebaikan di hari akhirat. Logikanya, kebaikan yang kita capai di dunia punya kekuatan untuk mengantarkan pada kebaikan di hari akhirat.

Nah, itulah misi besar yang diembankan kepada manusia muslim selama hidup di dunia: mewujudkan hasanah (kebaikan) di dalam kehidupan dunia. Jadi misi besar manusia Muslim bukan hanya berurusan dengan hari akhirat melainkan juga dengan kehidupan dunia. Dan karena itulah dibutuhkan komitmen ‘sempurna’ dan ideal dari seorang Muslim kepada Islam. Seorang Muslim harus menjadi bagian dari umat yang layak menyandang predikat umat terbaik (khairu ummah). Tidak ada yang namanya khairu ummah jika tidak ada khairul-afrad (pribadi-pribadi terbaik).

Adalah kekeliruan besar jika ada orang yang mengatakan, “Kita ini sebagai Muslim, tidak apa-apa menderita di dunia yang penting di hari akhirat bahagia.” Kalimat ini sama dengan mengatakan, “Tidak apa-apa kita ditindas, dijajah, dizalimi, dan dipecundangi karena nanti kita akan masuk surga.”

Wajar jika ada tuduhan dari kaum atheis bahwa agama adalah candu (racun). Karena realitasnya memang ada doktrin yang diatasnamakan agama (mungkin juga diatasnamakan keshalihan Islam) untuk rela menerima penderitaan dunia demi mencapai kemuliaan akhirat. Termasuk harus rela dan sabar saat orang lain melakukan tindakan sewenang-wenang, kezaliman, bahkan pembantaian. Karena, kilahnya, orang yang zalim nanti akan disiksa dan orang yang dizalimi nanti akan mendapatkan kebahagiaan di hari akhirat.

Tidak! Pemikiran semacam itu sama sekali bukan bersumber dari akal Islam, apalagi aqidah Islam. Islam berlepas diri dari paradigma yang melahirkan mentalitas budak seperti itu! Pemikiran itu berasal dari akal penjajah yang dimaksudkan untuk melanggengkan cengkeraman penjajahannya –dalam segala bentuknya– dan tidak diusik dengan perlawanan dan sikap kritis orang-orang yang dijajahnya.

Karenanya, adalah salah besar jika tuduhan itu ditujukan kepada Islam. Karena Islam, sekali lagi, tidak mengajarkan kerelaan dan kesabaran untuk ditindas. Bahkan orang yang diperlakukan secara zalim dan tidak mau mengambil tindakan untuk minimalnya menghindari kezaliman orang lain terhadap dirinya disebut oleh Allah sebagai orang yagn menzalimi diri sendiri. Firman-Nya, “Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya,’Dalam keadaan bagaimana kamu ini? Mereka menjawab, Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah). Para malaikat berkata, ’Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu? Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS An-Nisa: 97)

Allah juga berfirman, “Dan (bagi) orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan zalim mereka membela diri.” (QS Asy-Syura: 39)

Ayat terakhir disebut itu adalah salah ayat yang diturunkan di Mekah. Ayat itu merupakan rangkaian dari ayat-ayat yang menjelaskan tentang karakteristik komunitas (baca: jama’ah) Muslimin yang kelak diharapkan mampu menjadi pengendali peradaban umat manusia saat berkuasa. Dan karena ayat itu Mekah, kita memahaminya bahwa ayat tersebut diturunkan pada masa-masa pembangunan jama’ah kaum Muslimin. Artinya, di antara sifat Muslim adalah yang berani –minimal – membela diri bila dizalimi.

Jadi, kesimpulannya, seorang Muslim hidup bukan untuk di akhirat saja melainkan di dunia dan akhirat. Dan di dunia ia mempunyai misi yang agung dan mulia. Orang karena itu, agar ia dapat menjalankan misinya dengan baik, ia harus berkomitmen kepada Islam secara kuat. Dengan cara bagaimana? Insya Allah akan kita bahas pada edisi-edisi selanjutnya. to be continued…

diambil dari: Majalah Ummi edisi No.7 Tahun XXI