Spion



Seorang siswa setir mobil begitu menyimak arahan-arahan dari instrukturnya. Sesekali, ia mengangguk-angguk seperti memahami sesuatu. “Prinsipnya, kita harus hati-hati dan konsentrasi dalam berkendaraan,” ucap sang instruktur sambil menyudahi bicaranya.

Sesaat setelah itu, mereka pun praktek lapangan. Mobil latihan sudah disiapkan. Satu per satu, siswa akan diberikan kesempatan untuk mengendarai mobil di jalan umum. “Ingat, kita harus hati-hati dan konsentrasi,” ujar instruktur sambil mengawasi salah seorang siswanya yang mulai melajukan mobil yang mereka tumpangi.

Siswa ini tampak tenang ketika mobil masih di areal sepi. Tapi, ia mulai gelisah saat mobil memasuki jalan umum. Mobil-mobil lain seperti tak peduli kalau mereka sedang belajar. Berbagai kendaraan saling mendahului dari sebelah kanan dan kiri mobil latihan. “Tiiin…!” suara klakson mobil yang mendahului kian menciutkan hati si siswa. Tapi, ucapan sang instruktur terus saja menyadarkan, “Hati-hati dan konsentrasi!”

Ada satu kebiasaan siswa yang sangat mengganggu konsentrasinya sendiri. Siswa begitu sering menatap kaca spion mobil. Kadang spion kiri, kadang tengah, kadang yang kanan. Setiap kali siswa menatap spion, kali itu juga konsentrasinya buyar. Ia seperti dihantui bayang-bayang seram.

“Murid-muridku,” ucap sang instruktur sambil mengawasi seorang siswa yang memarkir mobil di tempat yang aman. “Kalian dapat pelajaran berharga dari teman kita,” tambahnya seraya menatap satu per satu siswa yang ada dalam mobil.

Para siswa mulai menyimak. “Jangan pernah menatap kaca spion selama kalian tidak ingin berbelok atau berhenti. Karena kebiasaan itu akan mengganggu kenyamanan kalian dalam berkendaraan. Semakin sering kalian menatap spion, sebanyak itu pula kalian dihantui rasa takut,” jelas sang instruktur begitu gamblang.

**

Hidup merupakan perjalanan panjang yang melalui berbagai kesan dan pengalaman. Ada kesan pahit, manis, sedih, senang, takut, dan lain-lain. Kesan dan pengalaman yang pernah terlalui kadang menjadi bayang-bayang yang mengusik pandangan seseorang untuk melihat kedepan.

Saat itulah, tidak sedikit dari kita yang sulit menangkap pemandangan jernih di depan karena cengkraman pengalaman buruk di belakang. Enggan beranjak ke hari esok karena takut akan terulang dengan kesedihan di hari kemarin.

Mungkin benar apa yang disampaikan instruktur setir mobil. ”Jangan pernah menatap cerminan bayang-bayang di belakang, kalau memang tidak begitu perlu untuk dilakukan!”

source: eramuslim

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s