Anda pernah mengenal tradisi kentongan. Jika belum pernah tahu, nampaknya anda perlu kembali ke ‘zaman’ dimana kentongan masih menjadi tradisi di masyarakat kita. Pertama kali mengenal tradisi kentongan, saya hanya tahu kalau kentongan itu digunakan sebagai penanda hari kemerdekaan. Karena, saat itu kentongan memang dipukul serentak oleh warga se-kampung pada malam 17 Agustus setiap tahun.

Ternyata perkenalan saya dengan tradisi kentongan itu tidak berhenti disitu. Kentongan, ternyata tidak hanya dipukul pada malam 17 Agustus sebagai peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia, tapi juga menjadi penanda akan peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di kampung. Sebagai contohnya, ketika ada warga yang meninggal, ada maling, ataupun keadaan darurat, seperti bencana alam atau yang lainnya.

Beberapa hari yang lalu, ada sebuah peristiwa yang mengingatkanku pada tradisi kentongan ini. Tsunami Mentawai, ya beberapa hari yang lalu gelombang yang orang banyak menyebutnya sebagai tsunami itu menghempaskan puluhan perkampungan di Kepulauan Mentawai, sebuah kepulauan yang secara geografis berhadapan langsung dengan Samudera Hindia dan masuk ke dalam wilayah Propinsi Sumatera Barat. Kepulauan mentawai terdiri dari gugusan pulau yang membujur dari utara ke selatan sepanjang pantai barat Sumbar mulai dari Air Bangis, Kabupaten Pasaman, hingga mendekati wilayah Bengkulu.

Kenapa peristiwa ini bisa mengingatkan pada tradisi kentongan. Ya, pada persitiwa yang terjadi pada 25 Oktober kemarin itu, ada satu kampung yang masih melestarikan tradisi kentongan. Tersebab masih melestarikan tradisi kentongan itulah –dan tentunya atas izin Alloh swt.- mereka terselamatkan dari bencana tsunami yang menerjang kampung mereka.

Subhanalloh, kata itu yang pertama kali terucap saat membaca headline berita, Ada Kentungan, Sedesa Lolos dari Tsunami.

Sampai tulisan ini di-publish, tercatat 490 orang meninggal, 96 orang hilang, 270 luka berat dan 142 orang luka ringan. Sementara warga yang mengungsi mencapai empat belas ribu lebih.

Mari kita berdo’a untuk saudara-saudara kita yang tengah tertimpa bencana, di Wasior, Mentawai, Merapi dan daerah-daerah lainnya di seluruh tanah air. Pray for Indonesia…

4 thoughts on “Kentongan, Tradisi Lokal yang Menyelamatkan

  1. Subhanalloh….., walaupun sudah dianggap jadul ternyata lebih efektif dan efisien sebagai sarana komunikasi warga.

    Jadi lebih baik ganti aja sirene tsunami sama kentongan.
    Lebih awet, murah, dan semua orang bisa menggunakan disaat diperlukan.

    Daripada bergantung sama sirene, mending bergantung sama kentongan. hehehe….

    Bertawakal tetap hanya pada Alloh SWT.

    • kita seringkali kung pede dengan warisan luhur nenek moyang. tapi, tidak jarang pula orang yang enggan memakai warisan dari nenek moyang itu lantaran menganggap bahwa semua yang berasal darinya ketinggalan jaman. Selayaknya kita hanya menggantungkan segalanya kepada Alloh swt.

      Allohu a’lam,

  2. wah..saya jadi kangen waktu masih kecil….. kentongan banyak manfaatnya… dan kegunaannya melebihi handphone pada masa kini. dulu kalo kentongan di bunyikan warga warga jadi pada datang berhamburan.. dan ini menandakan tingkat interaksi sosial yang bagus…….
    tapi sekarang…..??????

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s