Antara Qurban dan ‘Aqiqah



“kowe durung di-kekah, ora kena qurban disek”

Seperti kita ketahui bersama, Islam mensyari’atkan umatnya untuk ber-qurban sebagai cermin ketaatan mereka kepada Alloh swt. Umat Muslim ber-qurban setahun sekali, pada 10-13 bulan Dzulhijjah. Pada tanggal-tanggal itu, kita ‘diakrabkan’ dengan penyembelihan hewan beruap domba, kambing ataupun sapi. Untuk beberapa wilayah di Indonesia ada juga yang ber-qurban berupa kerbau, yang konon katanya sebagai bentuk asimilasi syari’at Islam dengan ajaran Hindu, dimana tidak diperkenankan menyembelih sapi.

Beberapa tahun yang lalu, saya pernah meminta ijin kepada Ibu saya untuk ber-qurban. Saat itu aku punya cukup tabungan untuk sekedar membeli satu ekor kambing. Malang, tak dinyana, ibu tidak berkenan mengijinkanku ber-qurban tahun itu. Alasannya, “kowe durung di-kekah, ora kena qurban disek”, -bahasa jawa dari: kamu belum di-aqiqah, jadi gak boleh qurban dulu- begitu Ibuku berujar. Setelah beradu argumen kesana kemari, akhirnya saya nyerah juga. Tapi bukan berarti Saya mengiyakan pendapatnya. Saya pun mencari-cari referensi buku yang membahas tentang keterkaitan antara Qurban dan Aqiqah. MR juga sempat mereferensikan Fiqih Sunnah-nya Sayyid Sabiq.

Beberapa hari yang lalu saya membuka situs Eramuslim, tak sengaja aku membaca artikel tentang Qurban dan Aqiqah di rubrik Ustadz Menjawab. Di sana tertulis ada seseorang yang menanyakan lebih utama manakah antara qurban dan aqiqah. Berikut ini uraiannya:

Jumhur ulama, diantaranya para ulama Syafi’i, Hambali dan pendapat yang rojih dari dua pendapat Malik adalah sunnah muakkadah berdasarkan apa yang diriwayatkan Imam Muslim dari Ummu Salamah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika telah tiba sepuluh (dzul Hijjah) dan salah seorang dari kalian hendak berkurban, maka janganlah mencukur rambut atau memotong kuku sedikitpun.” Dikatakan kepada Sufyan, “Sebagian orang tidak memarfu’kan (hadits ini)?” Sufyan menjawab, “Akan tetapi saya memarfu’kannya.”

Kata-kata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam didalam hadits itu,”Salah seorang dari kalian hendak berkurban.” Menunjukkan bahwa berkurban bukanlah sebuah kewajiban.
Sementara itu Abu Hanifah berpendapat bahwa kurban adalah wajib berdasarkan firman Allah swt :

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ ﴿٢﴾

Artinya : “Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah.” (QS. Al Kautsar : 2)

Mereka juga berdalil dengan apa yang diriwayatkan Ibnu Majah dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa memiliki keluasaan (untuk berkurban) namun tidak berkorban, maka janganlah ia mendekati tempat shalat kami.”

Adapun hukum pelaksanaan aqiqah ini adalah sunnah muakkadah, sebagaimana diriwayatkan dari Samurah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,”Setiap anak yang dilahirkan itu terpelihara dengan aqiqahnya dan disembelihkan hewan untuknya pada hari ketujuh, dicukur dan diberikan nama untuknya.” (HR. Imam yang lima, Ahmad dan Ashabush Sunan dan dishohihkan oleh Tirmidzi)

Sementara Zhahiriyah berpendapat bahwa aqiqah adalah wajib dikarenakan hal itu diperintahkan Rasulullah sebagaimana apa yang diriwayatkan Tirmidzi dari Aisyah pernah memberitahunya, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan para sahabat untuk menyembelih dua ekor kambing yang telah cukup umur untuk anak laki-laki dan satu ekor untuk anak perempuan.” Namun jumhur ulama mengatakan bahwa perintah itu adalah anjuran bukan sebuah kewajiban.

Dari penjelasan hukum kedua ibadah diatas bahwa keduanya adalah sunnah muakkadah menurut jumhur ulama. Adapun perihal anda yang belum diaqiqahkan orang tua sementara saat ini anda memiliki kemampuan berkurban maka jika anda mampu melaksanakan kedua-duanya dengan mengeluarkan satu ekor kambing untuk kurban dan dua ekor kambing untuk aqiqah anda sendiri maka itu lebih baik.

Akan tetapi jika anda tidak memiliki kemampuan untuk itu maka mendahulukan kurban pada waktu-waktu kurban adalah lebih didahulukan daripada aqiqah karena waktu pelaksanaan aqiqah terhadap diri anda sendiri masih bisa dilakukan pada hari-hari berikutnya berbeda dengan kurban yang terbatas pelaksanaannya. (baca : Aqiqah untuk Anak atau Saya)

Wallahu A’lam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s