Aman Ber-Sandal


Beberapa hari yang lalu saya membaca berita berjudul Pengendara Motor Bersandal Jepit Bakal Disemprit pada situs Republika. Berita itu cukup membuat saya ketawa dalam hati, karena isinya (kurang lebih) memberitakan bahwa ada aturan baru yang mewajibkan pengendara motor untuk memakai sepatu. Dalam hati saya berfikir, saya kan sering bermotor pake sandal jepit, apalagi jika sekedar ‘jalan’ ke depan (maklum kontrakan saya lumayan jauh dari jalan raya, -red.). Kalo dipikir2 sebenernya aturan itu bener juga sich, namanya safety riding ya harus gitu. Yang bikin saya ketawa adalah, (misalnya) masa saya mau pergi jum’attan, pake koko, pake sarung pula terus saya harus pake sapatu? Yang ini jangan dibayangin. Tapi bukan masalah berkendara motor yang ingin saya bahas disini. Kali ini saya ingin membahas tentang adab-adab bagaimana memakai sandal atau sepatu. Kelihatannya memang sepele, tapi mari kita simak bagaimana keagungan Islam mengajarkan kita setiap jengkal kehidupan, bahkan untuk sekedar memakai sandal.🙂

Memakai sendal atau sepatu sudah menjadi budaya umat manusia sejak dulu kala. Seseorang yang hendak berjalan, biasanya membutuhkan sesuatu sebagai alas kakinya, baik berupa sandal maupun sepatu. Tujuannya adalah untuk menjaga dan melindungi kedua kakinya.

Berkaitan hal ini islam telah memberi tuntutan bagaimana memakai sandal atau sepatu tersebut. Berikut beberapa adab memakai sandal :

1. Niat yang benar

Ketka seorang muslim memakai sandal/ sepatu, hendaknya berniat untuk melindungi kaki dan menjaga kebersihannya serta untuk memperlihatkan nikmat yang telah Allah Ta’ala berikan kepadanya. Tidak ada niat yang salah (jelek), seperti menunjukan sifat sombong karena memakai sepatu berharga mahal dan lain-lain.

2. Memeriksa kebersihannya

Hendaknya seseorang memeriksa kebersihan sandal atau sepatu dari berbagai najis yang mungkin menempel dibagian telapak atau ujungnya. Sebab terkadang seseorang terpaksa shalat dengan memakai sepatu stelah ia mengusapnya dan yakin akan kebersihannya untuk keabsahannya untuk keabsahan shalat yang akan ia laksanakan.

3. Mendahulukan kaki kanan

Hendaklah mendahuluikan kaki kanan ketika memakai sandal dan mendahulukan kaki kiri ketika melpaskannya. Dalam hal ini Rasulullah bersabda: “Jika salah seorang kalian memakai sandal, mulailah dengan yang kiri. Jadikan kanan yang pertama dipakaikan dan kiri yang pertama dilepaskan” (HR Bukhari dan Muslim)

4. Tidak memakai sandal sepatu sambil berdiri

Tidak memakai sandal sepatu sambil berdiri berdasar sabda Rasulullah yang diriwayatkan dari Abu Hurairah: “Dilarang memakai sandal sambil berdiri”. Mengenai hadits ini, Al Manawi berkata: “Perintah dalam hadits ini merupakan nasehat, karena memakai sandal sambil duduk itu lebih mudah dan lebih memungkinkan”.
(Al silsilah al Shahihah (719)

5. Dimakhrukan memakai satu sandal

Seorang muslim dimakruhkan memakai satu sandal berdasar sabda Nabi Muhammad SAW: “Jika terputus ‘syis’u’ (tali sandal) salah seorang di antara kalian, janganlah ia berjalan dengan sandal sebelahnya hingga ia memperbaikinya (tali sandal yang terputus trsebut)”. (Shahih Al Adab (732)).

Asy-syis’u maknanya adalah tali sandal yang dimasukkan di antara dua jari kaki (saat memakainya). Ujung tali dimasukkan ke dalam lubang yang berada di bagian depan sandal.

[Lisaanul-‘Arab,8/180]

Adab Memakai Sendal: Eramuslim
gambar: link

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s