Matahari baru saja muncul, tapi teriknya sudah cukup menyengat di permukaan kulitku. Kali ini udara di jalanan Jakarta terasa lebih segar dari biasanya. Hujan yang turun sejak pagi, kini telah terusir oleh mentari. Masih banyak ratusan –bahkan mungkin ribuan- pengendara motor di jalan dari arah Tanjung Barat ke TB Simatupang masih mengenakan jas hujan. Ya, begitupun diriku jas hujan masih melekat di tubuhku yang kurus ini. Pagi ini, saya sebagaimana tiga hari ke belakang, sedang menuju ke rumah kontrakan-ku yang sederhana pulang dari mengantar isteri ku ke tempat kerjanya di daerah Kebagusan.

Pagi ini saya mengendarai motorku sedikit lebih hati-hati. Selain jalanan yang masih basah,  saya juga masih trauma karena akhir pekan kemarin saya terjatuh dari motor sesaat sebelum hujan. Sekitar seratus meter dari kolong fly over TB Simatupang ke arah Tanjung Barat, saya melihat seorang tukang sapu tengah membersihkan jalan yang masih basah oleh air hujan. Saya langsung teringat dengan apa yang disampaikan MR saya yang pertama ketika beliau menyampaikan materi tentang ‘Kesiapan Nikah’ (ehm, setiap kali ngomongin yang satu ini, pasti semua mentee (istilah keren untuk anak binaan di mentoring) akan serius menyimak bahkan mungkin ada yang gak sempat mengedipkan mata, hehehe). Ketika itu beliau menceritakan saat awal-awal lulus kuliah, beliau yang sempat ragu, apakah mampu menghidupi keluarganya (istrinya, -red.). Tapi, keraguan itu akhirnya terbuang jauh-jauh, ketika dia melihat seoarang tukang sapu di jalan sedang membersihkan sampah di jalanan. “Dari raut mukanya, tukang sapu itu sudah tua”, ujarnya kala itu. “Saya yakin, dia punya keluarga, punya anak dan istri”, lanjutnya. “Kalau tukang sapu yang saya yakin, dia tidak lulusan SMA apalagi sampai S1, saja mampu masa saya yang lulusan S1 tidak bisa menghidupi anak istri saya”, pungkasnya.

Pemaparannya waktu itu masih tersimpan rapi dalam ingatanku. Sewaktu-waktu kata-katanya itu ku ‘buka’ kembali untuk member semangat saat ‘penyakit futur’ itu menyerang.

Kepada pembaca yang hampir putus asa, atau yang baru saja merasa putus asa, marilah kita bangun kembali impian kita. Harapan itu akan selalu ada. Ingatlah, “Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Alloh…” [QS. Yusuf: 87]. Percayalah, rizki itu ada dimana saja, bahkan cacing pun yang tidak punya tangan dan kaki masih bisa makan. Masa kita manusia yang punya kesempurnaan fisik dan keunggulan akal tidak bisa mencari rizki.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s