Katakan Yang Benar Meskipun Pahit


“Qulil haqqo walaw kaana murron”

Anda pernah mendengar hadits ini, sepintas dari teksnya biasa aja. Tapi kita tidak bisa memahami makna hadits ini jika kita tidak pernah mengetahui konteks munculnya hadits ini. Oleh karena itu, marilah kita tengok, bagaimana konteks yang ada saat hadits ini muncul:

Hadits ini dibawa oleh Abu Dzar Al Ghifari dan diriwayatkan oleh Imam Attirmizi dan An Nasa’i sebagaimana tertulis dalam kita Asbabul Wurud karya Imam As Suyuti.

Suatu hari ada seorang pedagang datang dan bertanya kepada Rosululloh, ya Rosulalloh, saya ini sudah tertipu, saya sudah beli banyak barang yangsaya anggap kualitasnya bagus dan saya sudah membayar secara penuh. Begitu selesai transaksi baru saya cek, ternyata barangnya cacat, jelek dan rusak. Nah, apa yang harus saya lakukan, apakah saya harus jujur, terbuka, informatif kepada semua konsumen bahwa barangnya cacat, jelek dan rusak. Kemudian saya rugi dan tidak mendapat untung sama sekali. Ataukah saya boleh menutupi cacatnya barang ini, menyembunyikan aibnya, kemudian saya menjual barang ini sehingga barang ini laku, dan saya minimal tidak rugi. Atau dengan kata lain, Karena saya tertipu, bolehkah saya menipu lagi. Kemudian Rasululloh bersabda, “Katakan yang benar meskipun pahit”.

Jadi, pahit itu untuk siapa, ternyata pahit itu untuk orang yang berkata jujur, yang berkata benar. Kenapa pahit, karena rugi, karena tidak untung.

Tapi di sini Rasululloh ingin mengajarkan kita bagaimana menjaga reputasi seorang niagawan, seorang pedagang, seorang pebisnis. Bahwasanya sekali dia mengecewakan, menipu, berbohong kepada pembeli/ konsumen, maka akan habislah nama baik dan reputasinya di mata konsumen. Para konsumen akan menyiarkan semua kebohongan kita lantaran perbuatan kita itu. Ketemu di pasar akan bicara, di masjid dia juga bicara kebohongan kita, di-twitter-kan, di-facebook-kan, di-status-kan, di-kaskus-kan. Dan semuanya, dijamin bisnis kita akan hancur.

Memang, untuk memahami sebuah hadits, terkadang tidak cukup hanya dengan memahami maknanya secara tekstual, namun juga perlu memahami apa yang menjadi latar belakang hadits tersebut keluar dari lisan Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam. Nah, dengan memahami konteks dari munculnya hadits itu, mudah2an kita tidak lagi menjadikan hadits itu sebagai senjata yang kita gunakan untuk menyakiti hati siapa saja. Kenapa, karena ternyata konteks yang ada dalah pahit itu bagi orang yang mengatakan kebenaran itu.

di-review dari penggalan kajian Ust. Salim A. Fillah

gambar di ambil dari: link

2 thoughts on “Katakan Yang Benar Meskipun Pahit

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s