Refreshing… (Biarkan Dakwah Bermetamorfosa 1)


Refreshing…

Kata-kata legendaries itu terucap dari lisan mulia sahabat pilihan, Muadz bin Jabal. “Ijlis binaa, nu’min sa’ah”, kemarilah sebentar, kita duduk untuk memperbaiki iman. Ucapan serupa juga dilontarkan Ibnu Rawahah kepada Abu Darda, “Ta’al nu’min sa’ah, innalqalba asra’u taqalluban minal qidri idzistajma’at ghilyaana”, kermarilah hai saudaraku, kita perbaharui iman kita sejenak, karena tabiat hati itu berbolak-balik, bahkan lebih cepat daripada berbaliknya air mendidih di dalam periuk. Dan salah satu pembalik hati yang paling dominan adalah rehat sejenak dari aktivitas rutin.

Ya, rutinitas kehidupan dunia memang pembunuh paling terselubung. Ia membunuh kreativitas dan mematikan kepekaan. Seorang teman yang dahulunya seorang programmer computer dan instruktur pada beberapa pelatihan leadership dalam tempo dua tahun telah berubah menjadi pegawai tulen, yang untuk berinvestasi kecil-kecilan pun mesti berpikir ratusan kali, ia begitu takut akan resiko. Ia terlalu menikmati kenyamanan dalam rutinitas sehingga ia tidak berkembang. Ia telah jumud.

Tak berbeda dengan dakwah. Hari-hari yang kita lalui bersama dakwah, di berbagai lininya, tarbiyah, siyasah, iqtishadiyah, perlahan berubah menjadi rutinitas yang terkadang mulai membosankan, melelahkan dan kehilangan makna. Tak seperti dulu, ketika kita dibina dalam halaqoh-halaqoh di rumah-rumah sempit, di pojok-pojok mushalla, namun semuanya terasa penuh warna dan gairah. Kini di saat semua kemudahan ada di depan mata, justru rasa itu perlahan pergi. Menguap, berganti kehambaran dan basa-basi. Maka saatnya utnuk kembali merenung, memikirkan segala apa yang telah kita lalui di jalan mulia ini dengan akal dan keimanan ktia. Agaknya ktia perlu berkontemplasi lama, mereorientasi arah gerak dakwah. Refreshing sejenak sebelum melakukan lompatan-lompatan dan perubahan. Menjelang tiba saatnya bermetamorfsa.

Kenapa Metamorfosa?

Seorang Syaikh Dakwah yang terkenal tajam bashiroh-nya pernah mengingatkan bahwa perubahan adalah sesuatu yang niscaya. “Bahkan ketika seluruh orang di dunia telah berkumpul hatinya sebaik Rasulullah sekalipun, perubahan kea rah capaian-capaian yang lebih baik tetap perlu dilakukan”, kata beliau. Sebab perubahan itu adalah spirit utama kehidupan. Sesuatu yang tidak berubah, berarti mengalami stagnasi kehidupan ataupun ruhnya telah mati suri. Rasulullah SAW mengatakan bahwa mereka yang hari ini tidak lebih baik dari hari kemarinnya, maka ia termasuk kalangan pecundang.

Dalam gerak dakwah, ada banyak rintangan yang menghambat kemajuan. Tapi kita tak hendak membicarakan tentang penghalang-penghalang berupa kemaksiatan dan kelalaian disini. Bab itu mudah-mudahan bisa kita hindari dengan pertolongan Allah Jalla Jalaluh. Yang dimaksud penghalang disini adalah cara pandang kita tentang dakwah. Begini, sebagai aktivis, para murabbi kita dulu telah mengajarkan bahwa dalam dakwah –dan dalam Islam secara keseluruhan- ada hal-hal yang bersifat tsawabit dan ada yang tergolong mutaghayyirat. Hal-hal tsawabit ini adalah ketentuan yang baku, rigid, tidak boleh dipertentangkan. Tidak ada ruang diskusi di sana. Ada pula hal-hal yang menganduk prinsip murrunah, keleluasaan. Ia bisa berubah sesuai tuntutan zaman, tuntutan keadaan.

Sebagaian kaum du’at, ada yang melebarkan batasan tsawabit, sehingga, sangat kaku. Hal-hal yang sebenarnya masih debatable diputuskan dengan tegas dan keras. Layaknya orang tua yang over-protective, seluruh kegiatan anaknya dibatasi. Bahkan menyebrang jalan pun sang anak tidak diperbolehkan. Maka jadilah anak ini seorang anak mami tulen. Mau andi dimandiin mama, mau makan disuapin mama, mau nikah… dilarang mama. Dakwah dikelola dengan gaya yang seperti ini akan menjadi bonsai, indah tapi kecil. Lama-kelamaan, resistensi akan muncul dari dua arah. Pihak eksternal yang seharusnya menjadi objek dakwah lari terbirit-birit atau membuang muka terhadap dakwah, karena telah terpatri di benak mereka kesan ekskluif di kalangan dai ini. Para dai pun dijauhi, termarginalkan dari pergaulan sehari-hari. Di sisi lain, kalangan dai yang bergaul secara homogen dan jarang mengetahui sumber kerusakan umatnya, cenderung menjadi pribadi yang penuh kecurigaan. Dari matanya ada pancaran sinis dan tidak percaya, dari mulutnya keluar segala klaim sesat dan bid’ah. Ia menjaga jarak sejauh-jauhnya dengan umatnya, dan pada saat yang sama setan datang menyanjungnya dengan sebutan generasi ghuraba. Akhirnya, umat menjadi golongan yang rusak dan dai terpisah dengan mereka di balik tabir kesucian. Begitu banyak dis-sinkronisasi antar mereka, begitu banyak diskonektivitas bahasa dan budaya. Mereka kadang duduk berdekatan tapi tak berani saling menyapa. Yang satu takut imannya ruask, yang satu takut dicap ahlul hawa’. Buat apa ada kemoceng, kalaulah tak digunakan untuk membersihkan debu di kaca yang kotor.

Cara pandang yang kedua sama bahayanya. Ada para da’i yang dengan semangat mutaghayyirat menjadi sangat luwes, dan saking luwesnya mereka lupa untuk kembali menjadi lurus. Ingin menyelam ke dasar laut mengambil mutiara malah kelelep. Ada yang terjebak pada dunia keartiasan, rajin tampil di infotainment, sehingga susah memprediksi peran sosialnya saat itu, apakah ustadz atau artis? Ada yang hanyut terbuai gelombang politik praktis sehingga lupa akan status da’inya. Seorang ketua dewan syuro partai Islam di Indonesia dengan santainya tampil di televise dengan celana tenis setinggi paha, jalan-jalan ke keramaian melayani wawancara seorang reporter wanita. Di hari lain berkhutbah tentang syari’at Islam di masjid, membuat bingung para konstituennya. Bukannya menutup aurat adalah penegakan syari’at paling mendasar, Pak?

Maka tugas berat kita saat ini adalah menyelaraskan itu semua. Memainkan peran ummatan wasathan, umat yang pertengahan yang menjadi penengah dan pengatur (wasit) kehidupan dimuka bumi dengan sempurna. Berpegang teguh pada prinsip syari’at, sambil melenggang lincah di kancah pergaulan dunia. Menyiapkan diri menjadi khalifatullah fil ardh, mengayomi semua kepentingan umat manusia dan alam semesta dalam naungan kasih sayang agama Allah yang mulia. Iqamatuddin wa siyasatuddunya bihi. Ustadz Rahmat rahimahullah menyebutnya hayawiyatu ta’shil wa salamatu taghyir. Keaslian yang dinamis serta perubahan yang selamat (dari kerancuan dan sikap berlebih-lebihan).

Di bab-bab berikutnya kita akan mencoba berbincang tentang perbekalan apa yang harus kita lakukan untuk menjalankan hayawiyatu ta’shil wa salamatu taghyir tersebut. Bab dua akan menancapkan secara kuat karakteristik generasi rabbani, bab tiga mengajak kita belajar dari komparasi sejarah kaum shalihin terdahulu, dan pada bab empat kita akan sama-sama take off, lepas landas menuju perubahan. Kita akan berdialog tentang metamorfosa. Ta’al nu’min (wa nufkir) sa’ah.


To be continued (insya Alloh)…

 

Sumber gambar: klik

2 thoughts on “Refreshing… (Biarkan Dakwah Bermetamorfosa 1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s