Kami Bukan Laskar Pemimpi (Mengharamkan Pancasila – Jilid 1)


Oleh: Ust. Hamzah Al Mubarok

Inilah celah, dimana banyak mungkin diantara kita, terjebak dalam debat berkepanjangan, tentang perjuangan dakwah, lewat jalur parlemen dan demokrasi.

Untuk kasus Indonesia, Pancasila adalah pintu masuk menghambat laju gerak dakwah itu, maka notes ini merupakan kerja kecil untuk mencoba memberikan ruang yang bernama PENJELASAN.

selamat menikmati, selamat mengkaji

di temani kue merk Ukhuwah

dan secangkir teh Tabayyun…..

semoga memberi kebermanfaatan…~Hamzah~

MENGHARAMKAN PANCASILA

Beberapa cara telah dicoba untuk menghambat perjuangan umat Islam di parlemen, pertama, mencoba mencari-cari dalil yang mengharamkan parlemen, cara ini akhirnya menuntut pengharaman sesuatu yang tidak haram, misalnya sistem pajak 10%, libur sekolah dan kerja pada hari Sabtu, Minggu, dan libur keagamaan yang berlaku di Indonesia seperti libur kematian Yesus, Natal, Nyepi, Waisak dan lain-lain, di mana semua itu bukan berasal dari Islam melainkan dari Barat bahkan dari ibadah Yahudi, Kristen, Hindu dan lain-lain.

Kedua, berusaha mencari-cari dalil yang mengharamkan jalan menuju parlemen yaitu demokrasi, cara ini bagus, tetapi ternyata dalil-dalil yang digunakan untuk mengharamkan demokrasi jauh panggang dari api, antara nash dalil dan realita tidak mengena, hal ini dikarenakan pemahaman tentang perjuangan di alam demokrasi hanya sebatas dhahir demokrasi, sementara hakekat perjuangan umat Islam di alam demokrasi tidak dipahaminya,

Ketiga, membuat opini negatif saudara-saudara muslim yang berjuang di parlemen, cara ini ternyata telah menjadi boomerang bagi pembuat opini, misalnya diopinikan tidak mungkin berhasil perjuangan melalui parlemen dan demokrasi, ternyata, justru mereka yang tidak dapat menunjukkan hasil perjuangannya di luar parlemen, sementara itu telah banyak bukti nyata hasil perjuangan melalui parlemen dan telah dirasakan oleh umat Islam, misalnya kebebasan para dai untuk berdakwah yang mana dahulu dibatasi gerakannya, seperti ada seorang Ustadz yang sampai harus berhijrah ke Malaysia karena materi dakwanya, kini telah kembali lagi ke Indonesia dan bebas berdakwah di mana hal itu tidak lepas adanya kebijakan di parlemen atau pemerintahan,

contoh lagi, kebebasan berjilbab di instansi instansi formal, dahulu tidak bisa bahkan untuk foto ijazah saja tidak boleh, alasannya tidak kelihatan telinganya, contoh lain lagi, terbitnya ruu sisdiknas, SKB 2 menteri, pemberantasan perzinahan, perjudian, perda-perda bernuansa Islam dan lain-lain, bukti-bukti itu telah menjadi boomerang bagi pembuat opini, apalagi perjuangan di luar parlemen belum menampakkan hasil terutama dalam soal nahi mungkar, boomerang itu semakin tajam menukik ke yang empunya.

Tidak cukup dengan ketiga cara di atas, kini diupayakan cara lain yaitu mengharamkan PANCASILA dengan menyatakan PANCASILA adalah thoghut yang wajib dijauhi, alur maksudnya cukup jelas, bila berhasil menanamkan pemahaman kepada umat Islam bahwa PANCASILA adalah thaghut, maka hanya perlu selangkah lagi agar umat Islam dengan sendirinya mengharamkan perjuangan melalui parlemen yaitu menanamkan pengetahuan bahwa masuk parlemen harus menjunjung tinggi PANCASILA.

Padahal, andaikata PANCASILA itu benar-benar thaghut dan haram hukumnya sebagai dasar negara, tidak bisa begitu saja mengharamkan perjuangan melalui parlemen, Allah swt telah memberikan kisah tauladan nabi Yusuf as yang masuk ke dalam pemeritahan kafir yang tentu saja, dasar negaranya bukanlah syariat Islam.

Berkata Yusuf: “Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan”.

QS. 12:55.

Syaikh Al-Utsaimin ketika ditanya tentang hukum masuk parlemen yang tidak menerapkan syariat Islam, beliau menyatakan : membiarkan kesempatan itu dan meninggalkan kursi itu untuk orang-orang yang jauh dari tahkim syariah merupakan tafrit yang dahsyat.

Tidak selayaknya bersikap seperti itu.

Begitu juga dengan Syaikh bin Baz ketika ditanya tentang hukum masuk parlemen di negara kafir, beliau menyatakan tidak ada masalah – baca : buletin AL-ISLAH no 104-. Pendapat kedua syaikh tersebut selaras dengan ayat QS. 12:55 di atas.

Andaikata PANCASILA benar-benar thaghut, dan haram hukumnya sebagai dasar negara, tidak bisa begitu saja mengharamkan bila ada orang yang berjuang masuk parlemen, harus dilihat dahulu niat dan perbuatannya, apakah setelah masuk parlemen menyebabkan dia dilarang sholat, harus menyembah kuburan atau harus korupsi dan lain sebagainya, kita ambil perumpamaan gamblang dan ekstrim, misalnya, seperti yang kita ketahui tempat pelacuran adalah haram, mendekatinyapun haram, namun kita tidak bisa begitu saja mengharamkan seseorang yang masuk ke dalam tempat pelacuran, harus dilihat niat dan perbuatannya, kalau dia seorang pegawai pencatat meteran listrik dan masuk kesana berniat dan hanya berbuat mencatat rekening listrik, maka masuknya ia ke tempat pelacuran tersebut tidak menjadi ma-salah, kecuali masuknya ia ke sana harus ber-duaan dengan seorang pelacur di dalam kamar atau mau tidak mau harus melihat sesuatu yang dilarang melihat, maka masuknya menjadi ha-ram, seperti itu juga ketika Yusuf as menjadi pejabat kerajaan kafir, tidak adanya keharusan Yusuf as melakukan perbuatan yang melawan agama menjadikan Allah swt ridho terhadap masuknya Yusuf ke dalam kerajaan kafir.

Itu adalah asumsi jika PANCASILA benar-benar sebagai thaghut dan haram, tetapi sebaliknya jika PANCASILA bukan sebagai thaghut, maka tidak ada alasan lagi untuk tidak memasuki parlemen dan memperjuangkan nilai-nilai keIslam-an di sana agar dapat mewarnai kehidupan berbangsa ini, maka bila hal itu dilakukan tidak mustahil Islam sebagai agama rahmatan lil alamin bagi segenap manusia baik Islam maupun bukan akan tercapai.

Sebetulnya, tidak perlu lagi membahas PANCASILA thaghut atau bukan bila hanya untuk menghambat perjuangan umat Islam melalui parlemen, namun bila pembahasannya untuk menempatkan sesuatu pada kedudukan hukumnya, maka itu perlu dan penting, bila memang PANCASILA benar-benar thaghut maka harus dinyatakan thaghut dan sekali-kali tidak boleh dinyatakan bukan thaghut, begitu sebaliknya, bila PANCASILA bukan thaghut maka tidak boleh dinyatakan thaghut, oleh karena itu jangan sampai kita mudah menyatakan ini thaghut dan ini bukan, harus dikaji secara adil, mendalam, teliti, dan ikhlas, tidak boleh di dasari oleh apapun kecuali untuk menempatkan sesuatu pada kedudukan hukumnya.

Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang di-sebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “ini halal dan ini haram”, …… QS. 16:116

BUATAN MANUSIA

Ketika saya tanyakan dalam sebuah diskusi saya di internet mengapa mereka menthaghutkan PANCASILA, mereka menjawab bahwa PANCASILA adalah buatan manusia, padahal Allah swt memerintahkan kita untuk mentaati hukum yang berasal dari Allah semata :

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka dengan penyesatan yang sejauh-jauhnya.

QS. 4:60

Secara tekstual, segala sesuatu yang bukan dari Allah swt adalah thaghut termasuk PANCASILA, sehingga kita wajib menjauhinya, namun benarkah segala hukum buatan manusia dapat disebut thaghut, mari kita ambil contoh hukum atau aturan yang dibuat oleh hampir seluruh DKM di Indonesia yaitu adanya papan aturan yang bertuliskan :

LEPAS SANDAL, BATAS SUCI

Aturan tersebut berlaku bagi siapa saja yang hendak memasuki masjid dan harus di ta’ati, aturan tersebut tidak ada dalam al-Qur’an ataupun hadits, nah, apakah aturan buatan DKM semacam itu harus juga disebut sebagai thaghut ? tentu saja tidak, lalu mengapa PANCASILA disebut thaghut, bukankah sama-sama buatan manusia ?

Kemudian ada yang menjawab, bahwa aturan yang dibuat DKM tersebut tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan as-Sunnah, maka saya benarkan jawaban tersebut, lalu saya balik bertanya, lalu apakah ada sila-sila dalam PANCASILA yang bertentangan dengan al-Qur’an dan as-Sunnah ?

mari kita telusuri masing-masing sila dalam PANCASILA :

pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, sila ini selaras dengan Islam, bahkan siapa yang tidak berketuhanan Yang Maha Esa, kafirlah orang tersebut,

kedua, Kemanusiaan yang adil dan beradab, sila ini juga selaras dengan al-Qur’an, misalnya QS. 7:181:

Dan di antara orang-orang yang Kami ciptakan ada umat yang memberi petunjuk dengan hak, dan dengan yang hak itu pula mereka menjalankan keadilan.

Begitu juga dengan sila-sila yang lain, tidak satupun yang bertentangan dengan al-Qur’an dan as-Sunnah, maka menthaghutkan PANCASILA dengan argumen PANCASILA buatan manusia adalah sikap yang tergesa-gesa dan sepertinya hanya ingin menghambat perjuangan di parlemen, bukan secara ikhlas untuk mengetahui kedudukan hukum PANCASILA yang sebenarnya dari sudut pandang Islam.

MEMBENARKAN AGAMA LAIN

Ada argumentasi lain untuk mengharamkan PANCASILA, yaitu dengan mengutak-atik penerapan sila pertama, menurut mereka, dengan sila pertama berarti telah membenarkan akidah agama lain, buktinya yang diterima menjadi warga negara Indonesia bukan yang beragama Islam saja, tetapi juga pemeluk-pemeluk agama lain yang nyata-nyata menurut Islam tidak berketuhanan yang maha esa.

Memang secara dhahir, mengizinkan mereka yang tidak berketuhanan yang maha esa menjadi warga negara Indonesia, sepertinya telah membenarkan akidah mereka, namun hakekatnya tidaklah demikian, tidak seorang muslim-pun hingga kini yang menyatakan pemeluk agama lain berketuhanan yang maha esa,

kalau mereka dapat menjadi warga negara Indonesia, hal itu karena mereka mengaku berketuhanan yang maha esa dan pengakuan ini tidak di Indonesia saja tetapi di seluruh dunia, dan tidak mungkin bersitegang dengan pengakuan mereka, karena mereka tidak mengimani al-Qur’an kecuali kita dapat dengan telak membuktikan bahwa pengakuan mereka adalah salah.

Apakah hakekat semacam itu dapat dikatakan membenarkan aqidah agama lain, rasulullah saw pernah melakukan hal yang secara dhahir lebih dari itu, yaitu ketika diadakan perjanjian Hudaibiyyah, di mana orang-orang kafir Quraisy meminta sebutan rasulullah setelah Muhammad dicoret dan di ganti dengan bin Abdullah, permintaan tersebut dikabulkan oleh rasulullah, kemudian beliau memerintahkan kepada Ali ra untuk menghapusnya, karena begitu prinsip penghapusan sebutan rasulullah, Ali ra mengatakan

“Aku tidak mampu untuk menghapusnya ya rasulullah”

kemudian nabi Muhammad bersabda kepada Ali ra “Tunjukkan kepadaku mana kata rasulullah biar Muhammad yang menghapusnya”…

Apakah setelah disepakati untuk mencoret sebutan rasulullah setelah nama Muhammad saw para sahabat dan seluruh umat Islam membenarkan keyakinan orang-orang kafir bahwa Muhammad bukan rasulullah ?, tidak, sama sekali tidak, keyakinan dan sikap umat Islam adalah tetap yaitu Muhammad rasulullah, bila orang-orang kafir meyakini Muhammad bukan rasulullah itu adalah haknya karena mereka tidak mengimani Al-Qur’an, yang penting umat Islam tetap meyakini bahwa Muhammad rasulullah.

Begitu juga dengan sila pertama PANCASILA, tidak menyebabkan dan mengharuskan umat Islam membenarkan aqidah umat lain, bila mereka mengaku berketuhanan yang maha esa itu hak dan urusan mereka, yang penting bagi umat Islam meyakini bahwa Allah swt itu Esa, kalau pencoretan sebutan rasulullah tidak menyebabkan umat Islam membenarkan keyakinan orang-orang kafir, maka sila Ketuhanan Yang Maha Esa lebih mungkin tidak menyebabkan umat Islam membenarkan pengakuan aqidah orang-orang kafir.

Sekarang mari kita ambil contoh kasus yang ada di antara kita, kita tahu al-Qur’an menginformasikan bahwa nabi Isa as tidak dibunuh dan tidak pula disalib, sementara itu umat Kristen meyakini Yesus mati dibunuh dan disalib untuk menebus dosa dan memperingatinya setiap bulan April, hari kematian Yesus tersebut telah menjadi hari libur internasional dan nasional yang berlaku bagi sekolah-sekolah dan perusahaanperusahaan, pertanyaanya, apakah kalau kita memasukkan anak kita ke sekolahan yang ikut libur pada hari kematian Yesus atau kita menjadi karyawan sebuah perusahaan yang libur pada hari tersebut dan kita ikut libur berarti kita membenarkan aqidah yang meyakini Yesus mati di salib ? tentu saja tidak, kalau begitu sangat tidak beralasan melontarkan pernyataan : Sila Ketuhanan Yang Maha Esa menyebabkan umat Islam membenarkan aqidah agama lain dengan diterimnya mereka menjadi warga negara Indonesia.

BUKAN AGAMA

Walaupun PANCASILA dapat dipandang selaras dengan Islam dan atau mencerminkan tujuan luhur agama Islam, namun umat Islam tidak diperkenankan mengindentikkan PANCASILA dengan Islam atau menyatakan PANCASILA telah meliputi seluruh ajaran Islam.

Umat Islam Indonesia telah menerima Islam sebagai agama dan dasar hidup yang dapat menyelamatkan dunia dan akhirat, disamping itu umat Islam Indonesia telah menerima PANCASILA sebagai konsensus nasional yang harus dihormati sebagai landasan bersama hidup bernegara yang mengikat segenap warga negara Indonesia yang harus ditegakkan bersama dan saling menghormati, oleh karena itu umat Islam tidak boleh :

• Memandang PANCASILA lebih atau di atas proporsi yang seharusnya, seperti menganggap PANCASILA sakral, keramat, abadi, sumber dari segala sumber, mutlak, dengan perkataan lain menganggap

PANCASILA sebagai agama apalagi menganggapnya melebihi agama.

• Mengganti agama mereka (Islam) dengan agama lain atau aliran kepercayaan, ataupun ideologi serta filsafat apapun termasuk PANCASILA.

Tambahan lagi, kita harus yakin bahwa para perumus PANCASILA tidak sedikitpun berniat atau beritikad agar PANCASILA diberlakukan seperti dua butir di atas.

TERBUKA

Pancasila adalah dasar negara yang bersifat terbuka, sangat umum dan dapat ditafsirkan ke berbagai arah, misalnya, pada rezim orde baru, PANCASILA ditafsirkan menjadi 36 butir-butir ajaran PANCASILA, yang mana tafsiran tersebut hanya cocok untuk penguasa rezim orde baru saat itu.

Karena sifatnya yang terbuka itu, sangat mungkin umat Islam dapat mewarnainya agar selaras dengan Islam, kalau rezim orde baru sudah pernah berhasil menafsirkan dan menerapkannya sesuai kemauannya, maka umat Islam juga bisa menafsirkan dan menerapkannya sesuai ajaran Islam, dan itu harus masuk ke pemerintahan.

JADI PANCASILA ITU TIDAK HARAM

apalagi jika di anggap sebagai berhala ^_^

Bersambung Jilid 2

)I(Hamzah)I(

kutulis notes ini ketika 3-0 Indonesia kalah dari Malaysia, tapi sejarah mencatat, kekalahan itu bukan karena kualitas, tapi karena laser, dan tindakan tidak sportif Tuan rumah…maka kita kalah dengan kepala tegak….

Tetap semangat Pasukan Garuda, kami Bangga padamu..!!

Garuda didadaku…!!

Garuda kebanggaanku..!!!

2 thoughts on “Kami Bukan Laskar Pemimpi (Mengharamkan Pancasila – Jilid 1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s