Halal Saja Tidak Cukup


Satu malam, seorang wanita paruh baya baru keluar dari sebuah hotel. Di luar turun hujan sangat lebat, angin pun bertiup kencang. Nampaknya wanita paruh baya tersebut takkan bisa keluar hotel tanpa mobil. Benar saja, beberapa saat kemudian, wanita itu meminta karyawan hotel tersebut untuk memanggilkan taksi.

Selang berapa lama, taksi yang dipesan pun datang. Tak disangka, ternyata si wanita tersebut enggan naik taksi itu. “Jangan, jangan taksi yang ini”, keluhnya pada karyawan hotel di depannya. Taksi kedua pun menghampiri lobby hotel, tapi karyawan hotel itu masih mendapatkan jawaban yang sama dari wanita itu. Pun begitu dengan taksi yang ke-tiga, ke-empat, dan seterusnya.

Baru pada taksi yang ke-sepuluh wanita itu mau menggunakan jasa taksi tersebut. Spontan, karyawan hotel pun bertanya, “maaf bu, kenapa ibu gak mau naik sembilan taksi yang sebelumnya?” tanyanya lugu. “Saya tidak tahu pasti, siapa pemilik perusahaan kesembilan taksi tersebut”, jawab wanita itu yakin. “Sedangkan taksi yang ini, saya yakin milik pengusaha Yahudi”, tutup wanita  paruh baya itu sambil berjalan menuju ke arah taksi.

*****

Dari cerita di atas, kita bisa mengambil pelajaran: mereka (yahudi, -red.) begitu berhati-hati memilih produk. Mereka harus memastikan bahwa setiap uang yang mereka keluarkan, nantinya masuk ke kantong sesama mereka. Dengan kata lain mereka begitu getol memboikot produk-produk diluar mereka (Muslim, -red.). Sedangkan kita Umat Muslim, baru mendengar ada ulama yang menyerukan untuk memboikot produk-produk pendonor Gerakan Zionisme Internasional, sudah di-counter sendiri oleh ulama yang lainnya secara habis-habisan. Tidak boleh mengharamkan yang halal-lah. Tidak ada produk alternatif-lah. Dan banyak lagi alasannya.

Tapi, kalau mau mencoba berfikir jernih, mari kita coba lihat dari perspektif lain. Kita simak apa kata Al-Qur’an: ‘Yaa ayyuhalladzina aamanu kuluu mimma fil ardhi halalan thayyiban’, hai orang-orang yang beriman, makanlah dari apa-apa yang ada di bumi itu yang halal lagi baik. Saya ingin menggaris-bawahi kata-kata halalan thayyiban, halal lagi baik. Ternyata perintah Alloh itu jelas, seruan boikot produk-produk yang tidak thayyib pun sudah jelas. Bahkan sudah ada sejak 14 abad yang lalu. Artinya yang halal saja belum cukup, karena selain harus memenuhi kriteria halal, apa-apa yang kita pakai juga harus thayyib, baik.

Baik disini bisa dilihat dari banyak aspek, baik dari segi kesehatan, baik dari segi ekonomi, politik, sosial dan semua aspek yang ada. Sebagai contoh, satu botol minuman bersoda boleh jadi halal. Namun menjadi tidak thayyib karena beberapa hal. Diantaranya, karbonasi dari minuman bersoda dapat merusak liver, tinggi kandungan gula sehingga memicu kegemukan; dan sebagian keuntungannya disumbangkan kepada zionist israel utk menyerang saudara-saudar kita di palestina. Wajarlah jika produk tersebut layak untuk diboikot.

Nah, karena yang halal saja belum cukup, mari kita pastikan produk apapun yang kita konsumsi bisa memenuhi standar produk yang halal dan thayyib.

 

Untuk mengetahui produk-produk pendukung Zionis Israel silahkan klik link ini.

2 thoughts on “Halal Saja Tidak Cukup

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s