Kejujuran Sang Pendusta


Saya mungkin hanya satu dari sekian banyak orang yang kecewa dengan penegakan hukum di negeri ini. Seperti kita ketahui bersama, si Gayus Tambunan yang pada posting sebelumnya saya sebut sebagai ‘selebritis‘ dadakan ini, mendapatkan vonis yang terbilang sangat ringan jika dibandingkan dengan ‘prestasinya’ mengambil uang rakyat. Kalau yang mencuri semangka saja divonis 15 hari, kenapa mafia pajak hanya divonis 7 tahun penjara. Berapa ratus ton semangka jika uang yang diambil gayus dibelikan semangka. Dan silahkan Anda akumulasikan sendiri berapa lama seharusnya ‘selebritis’ kita ini menghuni hotel prodeo.

Kita semua juga tahu, setelah dibacakan vonis yang cuma 7 tahun itu, selebritis kita ini memberikan statement yang cukup menarik perhatian. Ada kemungkinan apa yang disampaikannya ini benar, namun masih perlu penyelidikan lebih lanjut. Tapi kita juga tidak bisa apatis dengan pernyataannya ini. Seandainya apa yang dikatakannya itu benar, sungguh negeri ini benar-benar berada diambang kehancuran.

Berikut ini ada kisah yang ‘sedikit mirip’ konteksnya dengan pernyataan ‘selebritis’ kita. Tidak tanggung-tanggung kisah ini terjadi pada zaman Rasulullah SAW. Mudah-mudahan kita bisa mengambil pelajaran bagaimana menentukan sikap menanggapi pernyataan Gayus adalah suatu kebenaran. Mari kita simak kisahnya sama-sama;

Dalam keheningan malam itu, Abu Hurairah diserang rasa ngantuk yang tak tertahankan. Antara sadar berjaga dan rasa kantuk itulah Abu Hurairah dikejutkan oleh suara seseorang yang mendekati tumpukan makanan itu. Dengan hati-hati Abu Hurairah memastikan mengamati orang itu. Dan dengan sigap Abu Hurairah berhasil menangkapnya. “Siapa kamu?” tanya Abu Hurairah menginterogasinya. “Saya orang miskin, punya banyak anak dan tanggungan, kasihani kami, Tuan”. Pencuri itu mengiba untuk dimaafkan dan dilepaskan. Mendengar permintaan maaf pencuri yang mengiba itu, Abu Hurairah melepaskannya, setelah berjanji bahwa ia tidak akan mencuri lagi.

Keesokan harinya Rasulullah saw mensupervisi tugas yang diberikan kepada Abu Hurairah itu. “Apa yang engkau alami semalam?” tanya Nabi kepada Abu Hurairah. Dan Abu Hurairah menceritakan pengalamannya menangkap pencuri, tetapi pencuri itu mengiba meminta belas kasihan karena memiliki banyak anak, maka Abu Hurairah melepaskannya. Rasulullah saw menegaskan: “Pasti nanti malam ia akan datang kembali”. Rasulullah saw berpesan kepada Abu Hurairah agar berjaga dengan baik pada malam kedua.

Malam kedua Abu Hurairah kembali berjaga. Seperti malam sebelumnya, ia mengamati setiap sudut tumpukan makanan itu berada. Tetapi rasa kantuk tidak bisa di lawan ketika larut malam datang. Dan ketika Abu Hurairah mengantuk itulah pencuri itu datang kembali, hendak mengambil makanan zakat itu. Insting Abu Hurairah yang segera terjaga dan menangkap kembali pencuri itu dan mengancam akan membawanya ke hadapan Rasulullah saw.

Seperti malam sebelumnya, pencuri itupun mengiba meminta belas kasihan kepada Abu Hurairah. Ia mengeluhkan dirinya yang miskin dan memiliki banyak tanggungan, meminta jangan ditangkap dan dilepaskan saja. Karena memang tertangkap dan tidak ada barang yang dicuri, maka Abu Hurairah kembali terketuk hatinya dan membebaskan pencuri itu.

Keesokan harinya Rasulullah saw kembali mensupervisi pekerjaan Abu Hurairah. ‘’Apa kejadian yang kamu alami tadi malam?’’ tanya Rasulullah. Abu Hurairah menceritakan pengalamannya malam itu. Seperti yang telah Rasulullah nyatakan hari kemarin. Pencuri itu kembali datang. Dan ketika ditangkap pencuri itupun kembali mengiba, meminta belas kasihan karena dia orang miskin dan memiliki banyak tanggungan, dan Abu Hurairahpun melepaskannya.

Begitulah Rasulullah saw mengikuti perkembangan tugas yang telah diamanahkannya kepada salah seorang sahabatnya. Penugasan dan supervisi adalah cara kerja yang telah Rasulullah saw sejak dahulu kala. Rasulullah saw kembali mengingatkan kepada Abu Hurairah bahwa pencuri itu pasti akan datang lagi. Sikap Abu Hurairah yang tidak kejam dan banyak berbelas kasihan itu tentu tidak manakutkan bagi pencuri. Penjaga yang baik hati dan mudah memaafkan.

Malam ketiga kembali Abu Hurairah ronda, menjaga tumpukan makanan zakat yang telah terkumupul itu. Setiap sudut diawasinya dengan seksama. Larut malam menjelang rasa kantuk kembali menyerang. Dalam keadaan kantuk itulah kembali pencuri itu datang hendak mengambil makanan zakat itu, dan dengan sigap Abu Hurairah bangun tejaga. ‘’Kamu lagi, datang lagi, mencuri lagi, kali tidak akan aku lepaskan, akan aku bawa kamu menghadap Rasulullah saw,’’  kata Abu Hurairah kepada pencuri itu.

Kembali pencuri mengiba meminta belas kasihan agar dilepaskan dan tidak dibawa menghadap Rasulullah. Karena sudah yang ketiga kali, Abu Hurairah tidak mengabulkan permohonan itu. Ia tahan pencuri itu, untuk dibawa menghadap Rasulullah esok hari. Menunggu fajar tiba terjadilah perbincangan antara Abu Hurairah dan pencuri itu.Pribadi Abu Hurairah yang menyukai ilmu pengetahuan terkuak oleh pencuri itu, sehingga pencuri itu menyampaikan pelajaran kepada Abu Hurairah, ‘’Jika ingin bisa tidur tanpa ada gangguan setan maka bacalah ayat kursi Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Maha Hidup kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya‘’

Pelajaran ternyata dapat melunakkan hati Abu Hurairah, dan kembali Abu Hurairah melepaskan pencuri itu setelah memberikan pelajaran berharga baginya. Keesokan harinya kembali Rasulullah saw mensupervisi pekerjaan Abu Hurairah. ‘’Apa yang terjadi tadi malam?’’  Abu Hurairah menjawab, ‘’Pencuri itu mengajarkan sesuatu yang berguna, maka saya lepaskan ia.’’

Nabi bertanya kepada Abu Hurairah, ”Apa yang telah ia ajarkan kepadamu ?’’ jawab Abu Hurairah, ‘’Ia mengajariku jika kamu ingin tidur maka bacalah ayat kursi, sampai selesai, maka kamu akan senantiasa mendapatkan penjagaan Allah dan tidak akan didekati syetan hingga pagi’’.Setelah mendapatkan penjelasan dari Abu Hurairah Nabi bersabda: “Ama shadaqaka wahuwa kadzuub (yang ia sampaikan itu benar, padahal ia adalah pendusta), tahukah kamu siapa yang kamu tangkap tiga malam itu, wahai Abu Hurairah?” “Saya tidak tahu,” jawab Abu Hurairah.

Rasulullah mengatakan, “Dia itu setan.”Begitulah Rasulullah saw memberikan penilaian obyektif terhadap setan. Kejujuran setan tidak membuat Rasulullah terpedaya lalu menganggapnya sebagai makhluk baik yang telah berubah baik tidak lagi jadi musuh. Tetapi tabiat pendusta dan status musuhnya itu tidak membuat Rasulullah saw menafikan kebenaran yang disampaikannya. Ama shadaqaka wahuwa kadzuub (yang ia sampaikan itu benar, padahal ia adalah pendusta).

 

Muhith Muhammad Ishaq
Pengajar Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah Dirasah Islamiyah Al Hikmah, Jakarta. Pengajar Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin Darul Hikmah Bekasi. Anggota Badan Pengembangan Yayasan Islamic Center IQRO Pondok Gede Bekasi.

Majalah Sabili No 09/XVIII

Gambar: klik

5 thoughts on “Kejujuran Sang Pendusta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s