Back to Masjid


Sepekan yang lalu saya harus pulang kampung untuk satu urusan keluarga. Singkat cerita, di kampung saya ada satu ‘langgar’ (dalam istilah kita, mushalla) yang masyarakat sekitar menyebutnya ‘langgar bodol’ (langgar usang). Bukan karena bangunannya yang reot, usang ataupun buruk, tapi lebih karena langgar ini memang keberadaannya termasuk yang paling awal di kampung saya.

Saat itu, saya bersama kakak sepupu dan kelaurga hendak shalat Dzuhur berjamaah. Sayang sungguh disayang, sepertinya ‘langgar bodol’ ini sudah benar-benar menjadi langgar bodol dalam artian sebenarnya dan nyaris tak pernah dipakai untuk shalat berjamaah lagi. Sajadah dan bangku yang berantakan melengkapi debu dan pasir yang mengotori lantai. Sarang laba-laba yang bergelantungan di langit langit menambah lagi legitimasi bahwa langgar itu sudah ‘tak berpenghuni’ atau lebih tepatnya dicampakkan penghuninya. Entah kapan terakhir kali langgar ini dipakai shalat berjamaah. Sayang sekali saya juga tidak menjumpai satu orangpun untuk dimintai konfirmasi.

Kisah tentang langgar bodol saya sudahi sampai disitu saja. Saya ingin beralih pada masjid terdekat dari rumah saya, tempat dulu kami, anak-anak kecil dan remaja menghabiskan seperempat malam pertama untuk mengaji, dan mengkaji kitab kitab suci dan kitab-kitab fiqih. Masjidku ini, kini juga begitu sepi, meskipun nasibnya masih sedikit lebih baik dari kisah ‘langgar bodol‘. Di masjid ini, tak ada lagi anak-anak yang ramai melantunkan hafalan surat-surat pendek selepas maghrib. Disini juga tak ada lagi anak-anak remaja yang mengantri untuk mendapatkan giliran membaca kitab kuning di hadapan sang guru. Entah sudah berapa lama, shaf kedua dan seterusnya di masjid ini kosong, bahkan shaf pertama pun hanya ‘dihuni’ beberapa orang saja yang tak habis jari tangan ini untuk menghitungnya. MasyaAlloh

Hal itu tentu saja berbanding terkebalik dengan apa yang saya dapati di masjid atau mushala di kota, khususnya yang saya pernah tinggal di sana (Bogor & Jakarta, -red.). Se-sepi2nya masjid atau mushala di sana, untuk shalat fardu lima waktu, insyaAlloh masih ada minimal satu shaf. Walaupun belumlah bisa dikatakan ideal, saat ini, kehidupan beragama di kota juga terbilang lebih baik daripada yang saya lihat di kampung.

Melihat keadaan di atas, saya sedikit bersyukur dan lebih banyak prihatin. Bersyukur, karena geliat kesadaran masyarakat akan pentingnya melaksanakan ajaran agama semakin tumbuh di kota-kota besar. Tapi di sisi lain, kejadian di atas juga merupakan satu tamparan keras, bahkan sangat keras bagi saya yang berasal dari kampung dan kini tengah tinggal di Jakarta. Mungkin sudah saatnya, para penyeru dakwah untuk ‘turun gunung’. Karena kondisi seperti ini tidak bisa dibiarkan.

Mungkin kenyataan seperti diataslah menjadi salah satu penyebab, kenapa di daerah-daerah di negeri kita ini sering terjadi bencana. Yang tak jarang memakan banyak korban harta maupun jiwa.

Masih segar dalam ingatan kita, prak-porandanya Yogyakarta dengan ‘amukan’ Merapi yang didahului oleh tsunami di Mentawai dan banjir bandang di Wasior. Rakyat Indonesia juga tidak akan pernah lupa bagaimana luluh lantaknya bumi Serambi Mekah oleh terjangan tsunami terdahsyat di muka bumi. Lantas apa yang harus kita lakukan?

Back to Masjid…

InsyaAlloh solusinya ada di Masjid. Anda setuju???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s