Kuunu Rabbaniyyun -lanjutan Biarkan Dakwah Bermetamorfosa


“Tidak Wajar bagi seorang manusia yang Alloh berikan kepadanya Al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: “Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Alloh.” Akan tetapi (Dia berkata): “Hendaklah kamu menjadi orang-orang Rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.” (Ali ‘Imron: 79)

Sudah selesaikah perenungan sejenak itu kita lakukan? Apa hawa kesegaran dan semangat dakwah itu telah perlahan kita rasakan kembali di relung-relung jiwa dan sudut-sudut hati kita? Alhamdulillah… Ketika kesadaran berda’wah dan berjama’ah sudah kembali menancap kokoh di hati kita, bergelora dan meluap-luap, sekaranglah saatnya berbenah diri. Menyiapkan bekal sebanyak-banyaknya untuk mengarungi medan da’wah yang semakin hari terbentang semakin luas, menanam bibit kebaikan di setiap tanah kosong yang kita temui.

Memang, dakwah bisa dimulai dan diwujudkan dengan hal yang simpel dan sederhana. Namun orang bijak mengatakan faqidu syai’an lam yu’thi. Orang yang tidak punya apa-apa tidak mungkin bisa memberi. Maka semakin besar kemampuan yang kita miliki, semakin banyak pekerjaan yang bisa dilakukan. Itu artinya semakin besar pula pahala yang akan didapat. Tentu saja dengan syarat ada keikhlasan yang besar pula. Oleh karena itu, menyiapkan diri dengan berbagai kompetensi agar menjadi pribadi yang lebih baik menjadi sebuah keharusan. Lagipula tidak selamanya kita bisa mengandalkan metode-metode dakwah yang terlampau sederhana.

Lalu bagaimana muwashafat, karakteristik dai yang mesti kita bangun dalam diri kita? Jawabannya satu, rabbani. Ayat ke 79 dari surat Ali Imran yang dikutip di atas menjelaskan bahwa tidak ada nabi, rasul ataupun para penerusnya yakni para ulama yang menguasai ilmu dari kitabulloh, dikaruniai hikmah dari Alloh SWT melainkan mereka harus menyeru kepada kaumnya agar mereka menjadi manusia-manusia rabbani.

Ustadz Musyafa Ahmad Rahim, menjelaskan dalam sebuah artikel beliau bahwa secara eksplisit, Sifat manusia rabbani yang dimaksudkan di ayat tersebut adalah merkea yang secara tajaddud wal istimrar (rutin dan berkelanjutan) melakukan dua hal, yaitu: Dirasat kitab, mengaji, mengkaji dan mempelajari kitab Alloh SWT, dan ta’limul kitab, mengajarkan kitab Alloh SWT. Secara terbpisah, puluhan tahun lalu seorang tokoh besar pembaharu, Imam Syahid Hasan Al Banna pernah bertutur, “Seorang Muslim adalah pelajar yang mempelajari agama, pelaksana yang mengamalkannya, sekaligus tentara yang senantiasa berjihad.” Pada kesempatan lain, beliau juga berkata, “Ingatlah bahwa seorang Muslim adalah seorang guru yang memiliki semua sifat yang semestinya dimiliki seorang guru, cahaya ilmu, hidayah, rahmat dan perilaku lemah lembut.”

Jadi, seorang yang rabbani tidak berprofesi sebagai ‘penikmat dakwah’ semata, namun ia juga menjadi ‘pengemban dakwah’. Sebab dengan inilah dinamisasi akan terjadi dalam jiwa kita, sehingga ia selalu segar dan menyegarkan. Seperti air yang begitu dituang ke dalam gelas, segera diminum oleh orang yang haus.

Lebih lengkap lagi kalau kita merujuk pada kajian mendalam yang dilakukan oleh ulama besar yang bergelar Imamul mufassirin (pemimpin para ahli tafsir) yakni Ibnu Jarir At Thabari dalam kitabnya Jami’ul bayan fi ta’wil qur’an (lebih populer dengan nama tafsir At Thabari). Setelah Imam At Thabari menjelaskan berbagai pendapat ulama tentang pengertian rabbani ini, beliau sampai pada beberapa kesimpulan. Pertama, rabbani adalah mustawa atau level yang lebih tinggi dari sekedar faqih (memahami agama) dan ‘alim (penguasaan ilmu dari kitab Alloh). Kedua, rabbani ialah sebuah kejeniusan tersendiri yang mampu menggabungkan antara al-fiqh dan ‘alim dengan beberapa aspek vital lainnya, yakni:

  1. Al bashirah bissiyasah, punya sense of politics yang tinggi. Melek politik
  2. Al bashirah bittadbir, wawasan managerial yang memadai
  3. Al qiyamah bi syu’un arra’iyyah wa ma yushlhuhum fi dunyahum wa dinihim. Pro rakyat, yakni selalu melaksanakan dan menjalankan segala urusan rakyat dan segala hal yang membawa kemaslahatan mereka, baik dalam kehidupan dunia mereka apalagi kehidupan beragama.

To be continued…

One thought on “Kuunu Rabbaniyyun -lanjutan Biarkan Dakwah Bermetamorfosa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s