‘Alim (2) Ilmu Bahasa & Sejarah


Postingan kali ini masih lanjutan dari seri Biarkan Dakwah Bermetamorfosa. Setelah kita membahas tentang ‘Alim dari segi Ilmu Syari’at, berikut ini uraian tentang ‘Alim dari segi Ilmu Bahasa dan Sejarah. Mari kita simak sama-sama uraiannya.

2.       Ilmu Bahasa

Karena bahasa adalah alat yang menjelaskan makna. Tanpa mengerti bahasa, maka pemahaman akan serba terbatas. Bahasa menunjukkan budaya, ia mencerminkan peradaban suatu bangsa. Barangkali ada beberapa prioritas utama dalam mempelajari bahasa. Bahasa Arab dan Inggris mungkin menjadi kebutuhan primer. Yang pertama menjadi prasyarat mempelajari agama. Bukankah suatu hal yang jika tidak dipenuhi akan menyebabkan tidak terlaksananya kewajiban maka berstatus wajib secara hukum? Nah kalau memahami agama adalah kewajiban, maka mari bersama-sama menyadari bahwa belajar bahasa Arab adalah kewajiban pula. Karenanya mulailah alokasikan waktu khusus untuk mempelajari dasar-dasarnya. Bahasa Inggris yang sekarang menjadi bahasa pergaulan internasional juga tidak boleh ditinggalkan begitu saja. Apalagi dengan alasan sepele bahwasanya itu bahasa orang kafir yang otomatis jadi haram. Buang jauh-jauh pikiran jumud model demikian. Bukankah dahulu Rasulullah menugaskan sahabatnya belajar bahasa Ibrani agar terhindar dari tipu daya Yahudi? Kalau kita berbahasa Inggris dengan baik, dan memiliki skor TOEFL yang lumayan, misalnya, maka dunia menjadi mudah dijelajahi. Setelah itu, bahasa lain menjadi pilihan bagi kita. Mungkin ada yang melihat kemajuan perkembangan Cina sehingga mempelajari bahasa Mandarin. Ada yang tertarik dengan bahasa Perancis karena ingin menjelajah Eropa dan Afrika, dan sebagainya.

Oh ya, jangan lupa juga untuk senantiasa memperbaiki bahasa Indonesia kita. Sebab jujur saja banyak di antara kita –yang paling terpelajar sekelas doktor sekalipun-, masih kagok dalam berbahasa dengan bahasa ibu kita sendiri. Terutama dalam komunikasi aktif di masyarakat. Mungkin yang perlu dilatih adalah kefasihan, kelancara berbicara. Pronounciation, pelafalan kata-kata juga mesti jelas. Selain itu, diksi atau pilihan kati juga mesti tepat. Mudah dimaknai dan sesuai dengan segmen pendengar. Khatibunnas ‘ala qadari ‘uqulihim, berbicaralah pada manusia sesuai dengan tingkat pengetahuannya. Belajarlah dari Rasulullah SAW, yang kata-katanya jelas, sedikit namun padat maknanya, jawami’ul kalam.

“Perkataan Rasulullah SAW adalah perkataan yang jelas, dapat dipahami setiap orang yang mendengar” (HR Abu Dawud)

Mengenai hal ini, sekarang banyak media yang dapat digunakan. Beberapa lembaga juga sudah mulai mengadakan pelatihan public speaking dengan biaya yang terjangkau. Mudah-mudahan Allah memberi kita kesempatan menjadi orang yang perkataannya fasih, lancar dan lebih pentiing lagi benar dan berbobot. Ah, saya jadi teringat da’I kharismatik KH Abdullah Gymnastiar. Kajian beliu sederhana ‘hanya’ dengan bahasa keseharian namun penuh hikmah dan pencerahan.

3.       Ilmu Sejarah

“Dan sesungguhnya Kami telah menurunkan kepada kamu ayat-ayat yang memberi penerangan dan contoh-contoh dari orang-orang yang terdahulu sebelum kamu dan pelajaran bagi orang-orang yang bertaqwa” (QS. An Nuur: 34)

Syaikh Muhammad Ghazali Rahimahullah pernah bercerita tentang kejadian pasca syahidnya Ustadz Hasan Al Banna. Ketika rumah beliau coba direnovasi oleh para ikhwan, maka didapati di pustakanya ribuan buku. Sebagian besarnya adalah buku sejarah yang rata-rata telah ditandai poin-poin pentingnya. Subhanallah! Inilah modal beliau mendirikan jama’ah Ikhwanul Muslimin, yang memang perkembangannya di dunia amat cepat. Dalam beberapa tahun saja da’wahnya telah menyebar di lebih dari 70 negara yang membuatnya menjadi gerakan Islam terbesar di abad empat belas Hijriyah.

Ibnu Khaldun menjelaskan dalam Muqaddimah-nya yang terkenal itu, bahwa dalam hakikat sejarah terkandung pengertian observasi dan usaha mencari kebenaran (tahqiq). Mencari keterangan yang mendalam tentang sebab dan asal muasal benda-benda yang wujud, serta pengetahuan tentang substansi, esensi, dan sebab-sebab terjadinya peristiwa.

Allah yang Maha Berilmu bahkan menempatkan sejarah pada sebagian besar isi Al Qur’an untuk dijadikan pelajaran bagi orang-orang beriman. Agar akal mereka dapat difungsikan untuk menganalisa sebab-sebab keruntuhan bangsa terdahulu, di samping –tentu saja- mempelajari bagaimana kaum terdahulu menggapai kejayaan di bawah naungan rahmat Allah SWT.

Tentu refleksi perjalanan sejarah orang-orang shalih yang terdahulu menjadi refleksi sejarah yang berguna bagi kita, agar dapat diikuti jejak historisnya. Utamanya adalah sejarah para anbiya ‘alaihimussalam, terutama Rasulullah Muhammad SAW. Kemudian para generasi terbaik dari kalangan sahabat dan para tabi’in. Sejarah kontemporer tentu saja tidak mungkin ditinggalkan, utamanya sejarah yang penting bagi peradaban manusia khususnya lagi sejarah Indonesia.

Sejarah orang-orang thalih (jahat), juga perlu untuk dimaknai. Fungsi mempelajari sejarah kelam ini setidaknya ada dua. Pertama, agar tidak terjebak pada model kedurhakaan yang sama. Dalam hal ini penting bagi kita untuk membaca kisah kehancuran Kaum ‘Aad, Tsamud, Madyan dan yang lainnnya. Fungsi kedua adalah fungsi penangkalan. Seperti polisi yang belajar kriminologi untuk memahami modus dan cara penanganan kejahatan, maka umat Islam harus pula mempelajari modus kejahatan terhadap agama ini, dengan harapan dapat merumuskan langkah yang tepat dalam menyusun strategi untuk menghadapinya. Mengingat Rasulullah SAW sudah mengabarkan berita nubuwah bahwa umat ini suatu ketika akan menjadi rebutan kaum yang lain, seperti orang berebut makanan, dan fase itu benar-benar kita rasakan saat ini. Dalam konteks itulah kita butuh mempelajari sejarah musuh-musuh Islam, terutama Zionis dengan gerakannya yang sangat berbahaya, Freemasonry. Sejarah peradaban barat sebagai kekuatan dominan juga mesti kita pelajari, secara kritis tentunya. Alhamdulillah, saat ini banyak penulis yang dianugerahkan Allah SWT ilmu, kemauan dan kemampuan untuk mengkaji hal-hal tersebut sehingga kita dapat dengan mudah mengakses referensi yang cukup memadai di pasaran. Salah satu referensi yangpopuler adalah Ad Difa’ ‘anil Islam (Membela Islam), karya Syaikh Mustafa Najib rahimahullah.

Pada akhirnya, seluruh pengetahuan sejarah tersebut akan mengantarkan kita menjadi orang yang mampu berpikir longitudinal. Menjadikan masa lalu sebagai point of experiences, menghubungkannya dengan point of reality, yakni masa sekarang. Dalam menghadapi berbagai persoalan, selanjutnya menggunakannya sebagai point of prediction untuk rencana-rencana penataan masa depan. Dari sinilah tercipta manajeman hidup yang seimbang secara waktu. Manajemen yang antisipatif, bukan managemen by accident yang selalu gagal semata-mata karena mengulangi masa lalu.

To be continued (‘Alim -Ilmu Sosial-)…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s