Ayah


Di mana kegaduhan merdu
Di mana kebisingan syahdu
Di mana belajar yang selalu diselingi senda gurau
Di mana masa kanak-kanak yang membara
Di mana boneka dan buku-buku yang berserakan di atas lantai
Di mana renekan yang tak bermaksud
Di mana pengaduan yang tak tersebab
Di mana tangis dan tawa
Di mana duka dan ceria
Yang bersatu dalam satu masa
Di mana perebutan untuk duduk di sampingku

Ketika mereka akan makan dan minum
Mereka saling berdesakan untuk duduk di sisiku
Dan dekat dengan ku di mana saja mereka bergerak
Dengan dorongan fitrah mereka menuju kepadaku

Pada saat mereka takut dan senang
Ketika mereka riang
Senandung mereka adalah ‘Papa’
Ketika mereka jauh
Bisikan mereka adalah ‘Papa’
Ketika mereka dekat
Ratapan mereka adalah ‘Papa’

Kemarin mereka memenuhi rumah kita
Sayang, sekarang mereka telah pergi
Seakan-akan kesunyian itu menimpakan bebannya yang berat ke dalam rumah ini
Ketika mereka pergi
Seunyinya rumah ibarat tenangnya orang sakit
Seisi rumah diselimuti kesedihan dan kelelahan

Mereka telah pergi
Ya, mereka telah pergi
Namun, tempat tinggal mereka adalah hatiku
Mereka tidak jauh, meskipun tidak pula mereka dekat

Ke mana saja jiwaku berpaling
Ku selalu melihat mereka
Kadang mereka diam
Kadang mereka melompat
Di dalam benakku
Di dalam rumah yang tak pernah mengenal lelah ini

Masih kurasakan senda gurau mereka
Masih kulihat pancaran sinar mata mereka
Ketika mereka berhasil
Masih kulihat linangan air mata mereka
Ketika mereka gagal

Di setiap sudut rumah
Mereka tinggalkan suatu kesan
Di setiap pojok rumah
Mereka tinggalkan kegaduhan

Aku meilhat mereka
Pada kaca-kaca jendela yang mereka pecahkan
Pada dinding-dinding yang mereka lubangi
Pada pegangan pintu yang mereka patahkan
Pada daun pintu yang mereka gambari
Pada piring-piring yang ada sisa-sisa makanan mereka
Pada bungkus permen yang mereka lemparkan
Pada belahan apel yang mereka sisakan
Pada lebihan air yang mereka tumpahkan

Ke mana saja mataku memandang
Ku selalu melihat mereka
Bagaikan sekumpulan burung dara yang terbang melayang
Kemarin mereka singgah di Qornail
Sekarang mereka didekap Halab

Air matalah yang aku tahan dengan tabah
Ketika mereka bertangisan pada saat mereka pergi
Hingga ketika mereka bertolak

Mereka telah merenggut jantung dari rongga dadaku
Kudapatkan diriku bagaikan seorang bocah
Yang penuh dengan perasaan
Air mataku jatuh tertumpah bagaikan air bah
Kaum wanita akan merasa heran
Bila melihat seorang lelaki menangis
Lebih heran lagi jika aku tidak menangis
Tak selamanya tangisan itu kelemahan

Aku, dan di dalam diri ini ada keteguhan lelaki, adalah seorang ayah

=======================================

-Umar Bahauddin Al Amiri (1915-1992)-

disalin dari: Tarbawi edisi khusus: Ayah Punya Caranya Sendiri Mencintai Kita

One thought on “Ayah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s