Musik dalam Islam


Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.(QS. 31:6)

::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir (Indonesia) DEPAG -Surah Luqman 6

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa ayat ini diturunkan herhubungan dengan Nadar bin Haris. Ia membeli seorang hamba wanita yang bekerja sebagai penyanyi. Ia menyuruh wanita itu bernyanyi untuk orang yang hendak masuk Islam. Ia berkata kepadanya: “Berilah ia makanan, minuman dan nyanyian”. Kemudian ia berkata kepada orang yang akan masuk Islam itu: “Ini adalah lebih baik dari yang diserukan Muhammad kepadamu, yaitu salat, puasa dan berperang membantunya”.

Menurut riwayat Muqatil, Nadar bin Haris ini adalah seorang pedagang yang sering pergi ke Persia. Di sana ia membeli kitab-kitab yang bukan bahasa Arab, kemudian isi kitab itu disampaikannya kerpada orang-orang Quraisy, dengan mengatakan: “Jika Muhammad menceriterakan kepadamu kisah kaum Ad dan Samud, maka aku akan menceriterakan kepadamu kisah Rustam dan Isrindiar dan cerita-cerita raja-raja Persia”. Kaum musyrikin Quraisy itu sering mendengarkan perkataan Nadar ini, dan berpaling mereka dari mendengarkan Alquran.

Ayat ini menerangkan bahwa di antara manusia itu ada yang tidak mengacuhkan perkataan yang bermanfaat, yang dapat menambah keyakinan manusia kepada agama dan memperbaiki budi pekertinya. Mereka lebih suka mengatakan perkataan-perkataan yang tidak ada manfaatnya, menyampaikan khurafat-khurafat, dongengan-dongengan orang purbakala, lelucon-lelucon yang tidak ada artinya, seperti yang dilakukan Nadar bin Haris. Kalau perlu mereka menggaji penyanyi-penyanyi untuk diperdengarkan suaranya kepada orang banyak. Isi nyanyiannya dan suaranya itu dibuat sedemikian rupa sehingga dapat merangsang orang yang mendengarnya, melakukan perbuatan-perbuatan yang dilarang dan berakibat tambah menjauhkan seseorang dari agamanya.

Diriwayatkan dari Nafi’, ia berkata: “Aku berjalan bersama Abdullah bin Umar dalam suatu perjalanan , maka kedengaran-lah bunyi seruling, lalu Umar meletakkan anak jarinya ke lubang telinganya, agar ia tidak mendengar bunyi seruling itu dan ia menyimpang melalui jalan yang lain, kemudian ia berkata: “Ya Nafi”, apakah engkau masih mendengar suara itu?”. Aku menjawab: “Tidak”. Maka ia mengeluarkan anak jarinya dari telinganya dan berkata: “Beginilah aku melihat yang diperbuat Rasulullah saw, jika ia mendengar bunyi semacam itu”.

Pada riwayat yang lain dari Abdurrahman bin `Auf, bahwa Rasulullah saw bersabda: Aku dilarang (mendengarkan)dua macam suara (bunyi) yang tidak ada artinya dan menimbulkan perbuatan jahat, yaitu suara lagu yang melalaikan dan seruling-seruling setan dan (kedua) suara ketika ditimpa musibah, yaitu yang menampar muka, mengoyak-ngoyak baju dan nyanyian setan.

Menurut Ibnu Masud, yang dimaksud dengan perkataan “lah wal hadis” dalam ayat ini, ialah nyanyian yang dapat menimbulkan kemunafikan di dalam hati. Sebagian ulama mengatakan bahwa semua suara , perkataan, nyanyian, bunyi-bunyian yang dapat merusak ketaatan kepada Allah dan mendorong orang-orang yang mendengarnya melakukan perbuatan yang terlarang. disebut “lahwal hadis”.

Dari ayat dan hadis-hadis di atas dapat diambil kesimpulan bahwa yang dilarang itu ialah mendengarkan nyanyian yang dapat membangkitkan nafsu birahi yang menjurus ke perbuatan zina, seperti nyanyian yang berisi kata-kata kotor, demikian pula nyanyian atau musik yang menyebabkan pendengarnya mengerjakan perbuatan-perbuatan terlarang, seperti minum khamar dan sebagainya.

Mendengar nyanyian atau musik yang tujuannya untuk melapangkan pikiran waktu-waktu istirahat, waktu hari raya tidaklah di larang. Bahkan disuruh mendengarkannya, jika nyanyian atau musik itu mempunyai arti yang baik, menambah iman, memperbaiki budi pekerti, menambah semangat bekerja dan berjuang.

Berkata Qusyairi: “Ditabuh gendang di hadapan Nabi saw, waktu beliau memasuki kota Medinah, lalu Abu Bakar ingin menghentikannya, maka Rasulullah saw berkata: “Biarkanlah mereka menabuh gendang, hai Abu Bakar, hingga orang-orang Yahudi mengetahui bahwa agama kita tidak sempit”. Mereka menabuh gendang disertai dengan nyanyian-nyanyian dan syair-syair, di antara bait-baitnya berbunyi: “Nahnu Banatun Najjar. Habbaza Muhammadun min Jar” (kami adalah wanita-wanita Bani Najjar. alangkah baiknya nasib kami, Muhammad menjadi tetangga kami”.

Demikian pula Rasulullah saw menyuruh menabuh gendang di waktu melaksanakan walimah suatu perkawinan.
Pada ayat ini Allah SWT menerangkan akibat mendengar dan memperdengarkan nyanyian, musik dan perkataan yang terlarang itu, yaitu mereka akan memperoleh azab yang sangat menghinakan di hari kiamat, akibat perbuatan mereka yang tidak mengindahkan yang hak dan memilih kebatilan, menukar petunjuk dengan dosa.

Tafsir (Indonesi)  Jalalain -Surah Luqman 6

(Dan di antara manusia ada orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna) maksudnya (untuk menyesatkan) manusia; lafal ayat ini dapat dibaca liyadhilla dan liyudhilla (dari jalan Allah) dari jalan Islam (tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu) kalau dibaca nashab yaitu wa yattakhidzahaa berarti diathafkan kepada lafal yudhilla, dan jika dibaca rafa’ yaitu wa yattakhidzuhaa, berarti diathafkan kepada lafal yasytarii (olok-olokan) menjadi objek ejekan dan olokan mereka. (Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan) azab yang hina sekali.

Wallohu A’lam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s