Faqih


“Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” QS. At Taubah: 122

gambar diambil dari: nurona89.blogspot.com

Selain berilmu, kefaqihan juga menjadi prasyarat generasi rabbani. Kefaqihan adalah pengetahuan yang mendalam tentang dienul Islam, sebagai hasil interaksi dan usaha-usaha implementasi ilmu. Menarik pendapat Iman Syafi’I mengani kefaqihan ini. Imam yang madzhabnya diikuti mayoritas Muslim Indonesia ini berujar bahwa para ahli hadits adalah seumpama tukang obat. Ia memiliki ilmu yang banyak tentang meracik obat, namun tidak paham akan kondisi pasien. Karenanya para fuqaha lah yang memiliki otoritas laksana dokter, merekalah yang punya wewenang ilmiah untuk memfatwakan takaran dan jenis obat yang diberikan untuk penanganan penyakit tertentu. Sudah barang tentu, untuk penyakit-penyakit ringan seumpama pilek atau bisulan, tukang obatpun tahu obat yang mujarab.

Sebab itulah, kegiatan tafaquh harus kita tingkatkan seiring-sejalan baik secara individual operasional di aktivitas da’wah kita sehari-hari, maupun secara kumulatif di dalam jama’ah da’wah. Lantas, apa saja aspek kefaqihan yang mesti didalami? Kegiatan tafaqquh itu meliputi paling tidak sepuluh ruang lingkup:

1. Fiqhul ahkam

Penguasaan mengenai hukum syari’at menghasilkan kepastian dan kelegaan. Ia akan menjelaskan benar tidaknya sebuah keputusan dilihat dari sudut pandang ketetapan kitab wa sunnah. Ia menjelaskan tentang benar-salah. Ia membantu memposisikan dengan benar status hukum sebuah pekerjaan. Apakah halal atau haram, jaiz kah atau terlarang, istihab atau makruh. Kepastian ini kemudian memberikan kelegaan dalam bertindak, sehingga semua pekerjaan da’wah –juga aktivitas harian, tentunya- dapat berjalan dalam keadaan flow, mengalir. Lebih dari itu, standar inilah yang membuat seluruh mekanisme da’wah diridhoi oleh Allah SWT.

“Bagi tiap-tiap umat telah Kami tetapkan syari’at tertentu yang mereka lakukan, maka janganlah  sekali-kali mereka membantah kamu dalam urusan (syari’at) ini dan serulah kepada (agama) Tuhanmu. Sesungguhnya kamu benar-benar berada pada jalan yang lurus.” QS. Al Hajj: 22

2.  Fiqhud da’wah

Melalui pendalam fiqhud da’wah dalam konteks yang syamilah mutakamilah, kebijakan-kebijakan akan mempunyai tingkat akurasi, ketetapan yang tinggi dalam hal situasi, kondisi, timing maupun dalam hal menentukan objek yang menjadi sasaran.

Salah seorang ulama negeri jiran, Singapura, Ustadz Muhammad Hanif Hassan, dalam bukunya Fiqh Da’wah dalam Al Qur’an menyebutkan bahwa kegagalan pemahaman fiqh da’wah dapat mengakibatkan kemudharatan yang besar. Kita tidak bisa menafikan bahwa manusia bukanlah makhluk yang homogenous, karananya tidak mungkin setiap saat kita melakukan generalisasi. Bahkan dalam banyak kesempatan Al Qur’an mengajarkan tentang human segmentation dan pola pendekatan yang berbeda satu sama lain. Mengenai hal ini, baik kiranya kalau kita merujuk pada beberapa buku populer tentang bahasan ini. Rata-rata buku-buku tersebut berjudul sama, Fiqh Da’wah. Ada karangan Ustadz Mustafa Masyhur rahimahullah, Ustadz Jum’ah Amin ‘Abdul ‘Aziz hafidzhullah, As Syahid Sayyid Quthb rahimahullah. Dalam konteks Melayu, ada Fiqh Da’wah dalam Al Qur’an-nya Ustadz Muhammad Hanif Hassan. Bahkan tokoh besar Masyumi, DR. Muhammad Natsir rahimahullah juga mengarang buku Fiqh Da’wah. Usdah baca, belum?

Ada satu contoh kearifan dalam da’wah yang diceritakan salah seorang murabbi saya dahulu. Entah cerita ini hanya tamsil yang beliau buat atau benar-benar terjadi, saya belum sempat menanyakannya. Alkisah, seorang ustadz muda lulusan perguruan tinggi Islam dikirim ke sebuah desa pelosok. Konon di desa ini masyarakatnya masih mempraktekkan sinkretisme antara ajaran Islam dan kepercayaan terhadap arwah nenek moyang. Jadi kadang-kadang shalat, kadang-kadang klenik. Sekali waktu puasa, lain kali bikin sesajen (rasanya nggak Cuma di pelosok yang begini, di kota juga masih banyak). Kebetulan jadwal kedatangan ustadz muda ini bertepatan menjelang perayaan besar tradisi nenek moyang penduduk setempat. Pada hari pemujaan ini biasanya mereka meletakkan sesajen sambil berdo’a dipimpin seorang ‘pemuka agama’ di depan sebuah pohon besar yang umurnya sudah ratusan tahun. Pohon yang dianggap keramat, tempat bersemayamnya arwah nenek moyang mereka. Selaku orang yang paling alim di desa tersebut, sang ustadz pun diminta memimpin do’a pada hari pemujaan itu. Nah lo…

Timbullah kecamuk dalam pikiran sang ustadz. Kalau diterima jelas syirik dan ia sebagai orang yang dibesarkan dalam pendidikan agama yang baik amat sangat tahu konsekuensi sebuah kesyirikan. Namun jika ditolak, masyarakat akan membeci beliau, menganggap sombong, sesat dan lainnya. Di kemudian hari, pasti da’wah yang menjadi misi utamanya di desa itu tidak diterima. Bahkan jika ia salah bersikap mungkin saja kejadiannya lebih buruk, warga bisa melakukan kekerasan atau pengusiran, bahkan pembunuhan. Memang sih, kemungkinan ini mati syahid, tapi apa tidak ada jalan yang lebih menguntungkan?

Sebagai orang yang cukup ilmu dan pengalaman, beliau mengambil jalan yang menurut saya brilian. Ia menerima ajakan itu. Pada hari H, beliau datang dengan style meyakinkan. Berjubah, bersorban. Namun ia tidak langsung berdo’a. Ia malah membuat ma’lumat yang agak ganjil. “Bapak-bapak, Ibu-ibu dan Saudara-saudari yang saya cintai, agar lebih terjaga kesakralan acara kita, izinkan saya bersemedi dahulu sebentar di balik pohon ini.” Warga manggutmanggut dan manut saja. Beliau kemudian duduk bersila sekitar sepuluh menit di balik pohon. Selama itu, suasana hening. Warga semakin yakin bahwa ustadz baru ini sakti. Tiba-tiba dia bangkit dan dengan suara lantang berteriak, “Dengar semuanya! Saya mendapat wangsit dari yang punya pohon. Ia menyuruth kita menebang pohon ini”. Warga yang hadir kaget, namun belum berani protes. “Kalau tidak seluruh desa akan terkena sial”, sambung sang ustadz. Salah seorang bertanya ragu-ragu bercampur takut, “Masa begitu Pak Ustadz?”. “Iya, kita disuruh menebang pohon ini dan membuat jadi papan, lalu dibuatkan mushalla. Selama empat puluh hari wajib shalat lima waktu berjama’ah. Terserah Bapak-bapak dan Ibu-ibu saja, kalau saya memilih untuk patuh. Biar tidak kuwalat…”. Mendengar kata pamungkas ‘kuwalat’ itu, tanpa perlu dikomando lagi warga pun segera mengemasi barang sesajen dan melaksanakan perintah sang ustadz.

Coba lihat kata-kata yang bergaris miring. Sakral dimaksudkan ustadz tersebut dengan kesucian, suci dari syirik maksudnya. Wangsit itu ia analogikan dengan ilham, ide-ide yang diberikan Allah SWT dalam lintasan pikirannya. Yang punya pohon maksudnya Allah, karena hakikatnya semua yang di langit dan di bumi hanyalah milik Allah. Begitu pula kata-kata sial dan kualat berarti dosa dan maksiat yang dalam keyakinan kita memang mengundang petaka dan musibah.

Sungguh indah cara bertuturnya, sungguh cerdas. Empat puluh hari shalat berjama’ah pernah diidentifikasi Rasulullah SAW sebagai tanda-tanda bersihnya seseorang dari kemunafikan. Mungkin inilah harapan sang ustadz pada komunitas barunya. Di akhir cerita, mushalla baru itu berkembang menjadi pusat kegiatan warga desa, berangsur-angsur lewat bimbingan sang ustadz yang dikasihi Allah ini, mereka mendapatkan pemahaman yang benar dalam beragama. Subhanallah.

Tidak perlu membayangkan seandainya ustadz memilih pendekatan kontradiktif dengan mengumbar beraneka umpatan syirik, bid’ah dan sebagainya. Sudah tentu hasilnya tidak sebaik ini. Memang Islam itu solusi, bukan tuduhan, penghakiman dan caci maki.

Untuk lebih mudah dalam memahami fiqh da’wah, secara ringkas, Ustadz Jum’ah Amin ‘Abdul ‘Aziz menyimpulkan beberapa lanasan:

  • Menjadi qudwah (model, contoh) sebelum dakwah
  • Menjalin keakraban sebelum pengajaran
  • Mengenalkan sebelum memberi tugas
  • Bertahap dalam pembebanan tugas
  • Mempermudah, bukan mempersulit
  • Mendahulukan perkara ushul (dasar) sebelum furu’ (cabang)
  • Memberi kabar gembira sebelum ancaman
  • Memahamkan, bukan mendikte
  • Mendidik bukan menelanjangi atau mempermalukan
  • Menjadi murid seorang guru, tidak sekedar bermodal baca buku

Selain itu, biar lebih gampang untuk menerapkannya secara efektif dan efisien dalam amal dakwah kita, perlu juga untuk menyeimbangkan faktor ABCD di bawah ini dengan model, pendekatan serta materi yang disampaikan. Insya Allah.

A –> Audience          Siapa sasaran da’wahnya?

B –> Behaviour         Bagaimana sasaran perilaku yang diharapkan (kognitif, afektif dan psikomotor)?

C –> Condition          Bagaimana kondisi yang diharpkan?

D –> Degree               Seberapa tingkat perubahan kompetensi yang diharapkan?

bersambung: Fiqh Amal Jama’i & Fiqh Muwazanah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s