Ketemu Pepeng (TvOne): Ikhtiar


pict: pikiran-rakyat.com

Hikmah, hal yang satu ini biasanya akan datang pada saat-saat akhir dari suatu peristiwa. Kita sering mengatakan, pasti ada hikmahnya, saat kita tertimpa suatu kemalangan, kesialan atau apapun yang tidak menyenangkan. Tapi, tahukah kita, bahwa sebenarnya hikmah itu tak hanya ada saat terjadi satu hal yang buruk baru ada hikmah di baliknya. Dari hal-hal yang menyenangkan pun sebenarnya ada hikmah di sebaliknya, hanya saja kita belum tau apa itu. Tadi malam, saya menonton sebuah tayangan talk show yang sangat bagus dan inspiratif. ‘Ketemu Pepeng’, ya pada talk show tadi malam, Mas Pepeng mengambil tema tentang ikhtiar. Mudah-mudahan kita bisa mengambil pelajaran dari ketiga tamu Mas Pepeng tadi malam.

1. Een Sukaesih; Lumpuh Kaki & Tangan, Tapi Terus Mengajar Sampai 23 Tahun

pict: republika.co.id

Lumpuh yang mendera kaki dan tangan tak membatasi dirinya untuk mengabdi bagi masyarakat di sekitarnya. Mungkin prinsip teguh itu yang selalu dipegang erat Een Sukaesih (47).

Perempuan berhati mulia asal Sumedang ini tetap tak berhenti mengajar anak-anak di sekitar rumahnya. Dengan segala keterbatasannya, Een terus membantu anak-anak belajar meski itu mesti dilakukan di kamar tidurnya yang hanya berukuran 2×3 meter. Setiap saat, puluhan anak yang memadati kamarnya, datang untuk belajar bersama sambil mengerjakan PR.

Pekerjaan mulia itu terus dilakukannya selama 23 tahun. Dinding kamar Een dipenuhi coretan berisi catatan pelajaran. Een adalah lulusan Sekolah Pendidikan Guru (SPG) dan D3 di IKIP Bandung (kini UPI Bandung). Namun, takdir membuatnya menjalani profesi guru dengan kondisi lumpuh.

Sebelum lumpuh datang menghampirinya, Een adalah CPNS di sebuah SMA di Sumedang. Namun, tiba-tiba tangan dan kakinya lemas dan tidak bisa bergerak. Penyakit aneh itu membuatnya lumpuh hingga sekarang. Saat itu, murid-muridnya selalu datang ke rumah untuk mengerjakan PR, dan hingga kini puluhan anak tetap belajar pada dirinya.

Menurut penuturannya dalam acara ‘ketemu pepeng’, wanita ini berprinsip dan berpegang pada satu hadits nabi: ‘khairun nas, anfa’uhum linnas’, sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya. Oleh karena itu dia tidak pernah lelah untuk selalu memberikan manfaat kepada masyarakat. Tentu dalam batas-batas kemampuannya.

2. Dede Rachman; Mampu Berprestasi Meski dalam Keterbatasan Fisik

pict: majalengka-online.com

Meski dengan keterbatasan yang ada, tidak berarti menjadi sebuah hambatan untuk berkarya dan tetap berprestasi. Salah satu contohnya adalah Dede Rachman salah seorang siswa Sekolah Dasar (SD) Pinangraja I, Kecamatan Jatiwangi, Kabupaten Majalengka, Kamis (5/5/2011 ) lalu dengan semangatnya bocah yang memiliki keterbatasan atau (maaf, red) cacat kaki dan tangan ini karena karya dan prestasinya diundang pihak TVOne untuk mengikuti rekaman talkshow acara “Ketemu Pepeng” episode Hari Pendidikan Nasional.

Endang Suhendar, orang yang mengasuh Dede Rachman, mengaku bersyukur siswa binaannya, Dede Rachman meskipun memiliki keterbatasan namun mampu berkarya dan berprestasi. Salah satu prestasi siswa kelas V ini adalah juara II Calistung se-Kecamatan Jatiwangi dan Juara pertama lomba nyanyi se-Kabupaten Majalengka pada peringatan Hardiknas.

“Selain pandai menyanyi, Dede juga senang bermain bola volli, skateboard dan masih banyak lagi, harapannya selain akan terus mendampingi Dede yang memiliki cita-cita untuk melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi, adalah harapan Dede yang ingin memiliki kursi roda”.

Pada acara “Ketemu Pepeng” tadi malam, Dede diminta Mas Pepeng untuk menyanyikan sebuah lagu tentang kasih sayang orang tua. Dede pun menyanyikan lagu ‘Bunda’-nya Melly Goeslow dengan merdu.

3. Mansur; Tak Bisa Melihat, Bukan Alasan untuk Mengemis

pict: ddhongkong.org

Ada kesibukan di rumah kecil di Jalan Raya Otista Gg. H. Maung RT 11/03 Kelurahan Ciputat Kecamatan Ciputat, Tangerang Selatan sejak subuh menjelang. Mansur (33) bersama istrinya mengepak kerupuk dagangan mereka, yang akan dijual berkeliling kampung. Sepintas, dia tampak tak berbeda dengan pedagang-pedagang keliling lainnya. Tapi ada sesuatu yang membedakannya dengan orang lain, sebuah kelebihan yang lahir di balik kekurangannya. Mansur adalah lelaki penyandang tunanetra, yang tak mau berpangku tangan saja atau menyerah dengan kondisi fisiknya.

Mansur menjadikan keterbatasannya itu pupuk semangat untuk menghadapi tantangan kehidupan. Kondisinya ini memang bukan bawaan sejak lahir. Waktu berusia 5 tahun, Mansur menderita sakit mata. Ketika usianya menginjak 10 tahun, penyakit mata ini berujung pada kebutaan permanen. Sempat terpuruk sebentar, Mansur kemudian bangkit dan termotivasi untuk tetap survive dengan jalan terus berikhtiar. Sampai suatu hari, Mansur mendapatkan jodohnya dan menikahi Iis Nurmayani (30) yang selalu setia menemaninya sampai kini. Mahligai ini telah memberi mereka dua orang buah hati: Muhammad Ansori (11) dan Nova Reviandi (3).

Sebagai seorang tunanetra yang harus berkeliling sambil memikul barang dagangan, Mansur sangat menyadari bahaya yang bisa saja setiap saat menimpanya. Namun semua itu dia serahkan hanya kepada Allah. Pendapatannya sebagai pengasong kerupuk kering tidaklah sebanding dengan biaya hidup di kota besar seperti Tangerang. Setiap bungkus kerupuk seharga Rp 5000 yang berhasil dia jual, Mansur mendapatkan komisi Rp 2000.

Walau begitu, Mansur tetap bersyukur dengan keadaannya, dan bangga dengan usaha yang dijalaninya. “Nikmat Allah begitu besar,” katanya. Dua anak yang dititipkan Sang Ilahi padanya lahir dalam keadaan normal dan sempuna. Ini pula yang membuatnya memiliki harapan besar di masa mendatang.

Selain itu, Mansur yang sebelumnya adalah tukang pijit, mulai menyadari betapa kekurangan dalam dirinya bukan alasan untuk menjadi peminta-minta dan memelas rasa iba dari orang lain. Mansur juga menyayangkan kawan-kawan sejawatnya yang senasib dengannya yang masih terus menengadahkan tangan, karena baginya di saat ada kemauan untuk tidak bermanja dengan keterbatasan, pasti ada kelebihan di balik kekurangan.

“Kalau ada kemauan pasti ada jalan. Kalaupun saya seperti ini, saya yakin di masa yang akan datang anak-anak saya bisa berhasil dan hidup bahagia,” imbuhnya.

Di rumah kecil berukuruan 2,5 x 3 meter dan hanya beralaskan tikar, Mansur merajut kebahagiaan dengan keluarga kecilnya, meski gubuk kecil itu juga bukan milik mereka. Mungkin matanya tidak bisa melihat, tapi anugerah Allah yang tersemat di sekujur tubuhnya yang lain, membuat Mansur yakin, bahwa dia tak perlu jadi pengemis atau peminta-minta.

Salut dengan mereka bertiga, di tengah keterbatasan fisik, mereka tak pernah menyerah bahkan semangat mereka lebih baik dari rata-rata orang yang dikaruniai fisik sempurna.

-dari berbagai sumber.

4 thoughts on “Ketemu Pepeng (TvOne): Ikhtiar

  1. Assallammualaikum wr.wb
    Salam hormat kepada acara tvone Ketemu Pepeng sebagai salah satu acara favourit keluarga kami

    Kami mengirim email ini ingin menceritakan tetang anak kami yang menderita kelumpuhan akibat terserang GBS ‘Guillain Bare Syndrome,mudah-mudahan kisah hidup anak kami akan memberikan inspirasi,support dan motivasi utuk banyak orang seperti halnya kepada keluarga kami sendiri Amien.

    Nama anak kami adalah Yogaswara tp nama paggilan di saat kecil dan teman-temannya ogest umur 37 tahun alamat.kami jln pajajaran Raya no.94 Perum 3 Tangerang-Banten,anak kami terserang penyakit GBS ‘Guillain Bare Syndrome pada tahun 1991 disat umur 17 tahun yang menyebabkan kelumpuhan dari lehar sampai kaki tapi kami masih bisa bersyukur sampai saat ini anak kami masih bisa menjalani hidupnya dengan sabar dan tawakal walau hanya dapat menggerakan tangan sebelah kiri itupun dengan jari yang mengepal selama lebih dari 20 tahun lamanya.

    Kami telah banyak berikhtiar semampu dan semaksimal mungkin berusaha melakukan berbagai cara pengobatan dari medis dan alrernatif agar anak kami dapat kembali mempunyai fisik normal lagi seperti sedia kala tapi Tuhan berkehendak lain sampai saat ini anak kami belum meunjukan tanda-tanda kemajuan dari perkembangan fisiknya,buang air besar dan kecilpun masih sering sangat sulit hingga bisa terlihat sangat kesakitan dan juga masih sering merasakan sesak nafas dikareakan otot nafasnya telash terganggu.

    Setiap saatnya anak kami harus merasakan perrih-perih seperti terkena luka sayatan dikedua tangan dan kakinya padahal tidak terdapat luka,pada bagian tulang ekor,pantat dan pinggul terdapat bekas luka DECUBITUS yang cukup dalam dan sampe saat ini masih ada sisa luka yang masih belum sembuh.

    Selama 20 tahun anak kami di rawat dan di jaga oleh tantenya yaitu neni yang telah tinggal serumah dari dia masih kecil yang telah kami anggap seperti anak kandung kami,neni sangat telaten merawat anak kami dalam semua hal tanpa kenal lelah dan waktu,pengorbanannya begitu sangat besar untuk kami dan anak kami.

    Hingga saatnya pada tgl 6 maret 2011 anak kami menikah dengan teman SMAnya dulu namanya Dian Dearyana yang berstatus janda beranak dua,suaminya yang terdahulu telah meninggal akibat sakit pada tahun 2003,kami bersyukur karena akhirnya anak kami bisa menikah yang akan memberikan lebih berkah lagi tuk kami dan khususnya untuk anak kami dan juga meringankan beban neni yang telah merawat lebih dari 20 tahun,kami sangat bersyukur dian mau menerima dengan segala kekurangan anak kami dan kamipun sangat bersyukur orang tua dian mau menerima segala kekurangan fisik anak kami yang juga belum mempunyai pekerjaan ataupun penghasilan.

    Semangat hidup anak kami sangat besar melebihi orang-orang yang lebih beruntung dalam fisiknya,anak kami masih dapat membuat karya dengan menciptakan lagu dan bernyanyi walau dengan keterbatasan fisik dan nafasnya,alhamdulillah hasil ciptaan lagu-lagunya telah diberi kesempatan oleh salah satu perusahaan rekaman yaitu label KECI yang rencananya untuk project album Faby Marcellia yang banyak orang mengingatnya sebagai Feby Mamamia,mudah-mudahan dapat diterima,dinikmati pecinta dan industri musik selain itu anak kamipun sedang membuat project Band bersama adik dan sepupunya yang bernama PapaRomantic semua lagunya diciptakan oleh anak kami dan mudah-mudahan dapat dikontrak oleh salah satu perusahaan rekaman,kami merasa yakin ciptaan lagu-lagu dan suara anak kami akan dapat dinikmati semua lapisan masyarakat dan idustri musik, anak kami sangat meng idolakan Dedy Mizwar Karena karya-karya beliau telah banyak memberikan inspirasi sebagai motivator dalam perjalanan hidupnya.

    Disaat keluarga kami mendapat cobaan yang sangat besar,anak kami selalu memberikan support,motivasi dan doa untuk tetap tegar,ikhlas,sabar dan berdoa hingga dia sadur menjadi sebuah lagu untuk motivasi kekuatan kami dalam menjghadapi cobaan,kami sangat bersyukur ternyata masih banyak sahabat dan teman-temannya yang sangat peduli dan sayang kepada anak kami,seperti Kiki yang selalu setia menunggu anak kami selama dirawat di salah satu Rumah Sakit di Bandung selama hampir 4 bulan dan Yana vocalist band Marvell membuat lagu yang terInspirasi dari anak kami walau belum sempat di publikasikan kepada pecinta musik, mereka tergabung dalam KC 457 Comunity Bandung.

    Apapun adanya tetang anak kami,kami sangat bangga dengan semangat hidup yang di jalaninya walau masih banyak cobaan yang dia lalui tapi telah memberikan banyak inspirasi tuk kami,keluarga dan teman-temannya,kami sebagai orang tuanya ingin melihat anak kami tetap dan lebih bahagia dan juga sangat berharap dan berrdioa suatu saat anak kami dapat mewujudkan visi dan misinya dalam berkarya amien.

    Demikianlah cerita singkat dari kisah perjalanan hidup anak kami,semoga dapat menjadi inspirasi banyak orang untuk lebih mengerti lagi makna dari hidup
    Kami ucapkasn terima kasih banyak kepada acara ketemu Pepeng yang telah meberikan inspirasi untuk kami dan keluarga.

    Hormat kami

    H.Purnama Rd.Hj Nurdjanah

    ( ayah ) ( Ibu )

  2. Tolong dong mas di fasilitasi ada teman dari lombok yang berniat tulus untuk mengobati pepeng dengan Cara tradisional tanpa imbalan apapun dengan ikhlas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s