Gunakan kesempatan yang masih diberi
moga kita takkan menyesal
Masa usia kita jangan disiakan
kerna ia takkan kembali

Ingat lima perkara sebelum lima perkara
Sihat sebelum sakit
Muda sebelum tua
Kaya sebelum miskin
Lapang sebelum sempit
Hidup sebelum mati
[source Raihan; Demi Masa]


Waktu merupakan salah satu nikmat Alloh yang sangat berharga. Bahkan nilainya sangat relative, tentu saja bagi kita seorang mukmin, ia merupakan hal yang tak boleh disiakan. Sebagaimana disebutkan di syair nasyidnya raihan di atas.

Sayangnya kita seringkali lalai dalam memanfaatkan waktu kita sebagaimana seharusnya, yaitu untuk beramal shalih. Kita justru menggunakannya untuk hal-hal yang tidak manfaat bahkan cenderung mubazir. Bahkan, na’u dzubillah, kita gunakan untuk maksiat. Semoga kita tidak termasuk golongan orang-orang yang terakhir.

Berikut ini beberapa sebab dimana kita sering lalai dalam memanfaatkan kesempatan untuk beramal shalih:

1.    Kurang peka terhadap kebaikan

Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. (Yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rizki yang kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rizki (nikmat) yang mulia. (al-Anfal: 2-4)

Pada ayat tersebut Allah menyebutkan beberapa sifat orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Pertama, mereka adalah orang-orang yang jika disebut Nama Allah, mereka gemetar dan takut. Kedua, jika dibacakan ayat-ayat Al-Qur’an, iman mereka menjadi bertambah. Ketiga, mereka bertawakkal hanya kepada Allah semata. Keempat, mereka menegakkan shalat dengan menyempurnakan seluruh syarat, rukun, wajib dan sunnahnya. Dan kelima, mereka adalah orang-orang yang gemar berinfak dari rizki yang diberikan kepada mereka, dan ini mencakup pembayaran zakat serta pemenuhan hak-hak sesama, baik yang wajib maupun yang sunnah. [source]

Dua sifat pertama di atas menunjukkan bahwa orang beriman adalah orang-orang yang senantiasa peka terhadap seruan Alloh baik itu lewat ayat-ayat Alloh dalam Al qur’an (qauliyyah) maupun tanda-tanda kebesaran Alloh di alam sekitar kita (kauniyyah).

2.    Tidak mempunyai Ilmu Pengetahuan

Bagaimana kita mau shalat dhuha jika kita tidak pernah tau bagaimana caranya, kapan waktunya, fadhilahnya dan seterusnya. Bagaimana kita mau berpuasa jika kita tidak pernah tau syarat, rukun dan tuntunannya serta kelebihan-kelebihan orang yang berpuasa.

Kita seringkali enggan melaksanakan suatu amalan lantaran kita tidak tahu ilmunya, tidak tahu keutamaan-keutamaan dari amalan tersebut dan lain sebagainya. Adalah benar kita tidak boleh mengamalkan sesuatu yang kita tidak tahu ilmunya, artinya kita tidak boleh beramal lantaran ikut-ikutan dan harus tahu ilmu/ dalil dari amalan tersebut. Tapi kita tidak boleh menjadikan hal tersebut sebagai alas an untuk tidak beramal. Justru hal itu harus menjadikan alas an bagi kita untuk senantiasa mencari ilmu sebaik-baiknya.

“…niscaya Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” [Al Mujaadilah: 11]

3.    Alloh menunda kesempatan beramal tersebut

Alloh seringkali menunda kesempatan kepada kita lantaran kita belum siap untuk melaksanakannya. Atau kita akan melaksanakan dengan setengah-setengah jika memang kita diberikan kesempatan kepada kita. Padahal, “Alloh menyukai orang yang bekerja secara ihsan” (Al Hadits).

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari) keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. [Al ‘Ankabut: 69]

4.    Tidak proaktif

Seringkali kesempatan itu hilang lantaran kita yang kurang proaktif menyambut kesempatan itu datang. Mari kita lihat bagaimana proaktif-nya para sahabat nabi dalam meraih kesempatan untuk berjihad di jalan Alloh. Mari kita tengok kisah tentang Hanzalah, pengantin Surga yang dimandikan malaikat.

Hanzalah menikahi Jamilah, sang kekasih, pada suatu malam yang paginya akan berlangsung peperangan di Uhud. Ia meminta izin kepada Nabi SAW untuk bermalam bersama istrinya. Ia tidak tahu persis apakah itu pertemuan atau perpisahan. Nabi pun mengizinkannya bermalam bersama istri yang sangat dicintainya.
Hanzalah muncul seperti langit yang sangat dekat. Dia menangis seakan akan ia merasakan detik detik perpisahannya. Ia berusaha menenagkan hatinya menghimpun cinta kecil menuju cinta yang besar agar dapat memberi keagungan dan keindahan. Hanzalah harus mengeluarkan keputusan dengan cepat. Bersama dengan hembusan angin fajar pertama, ketika ia mendengar genderang prang, maka segera ia menghambur keluar, ia tidak menunda lagi keberangkatannya supaya ia bisa mandi terlebih dahulu.
Ia berangkat diiringi oleh deraian air mata kekasih yang dicintainya. Ia berangkat dengan kerinduan mengisi relung hatinya. Kerinduan saat saat pertama yang sebelumnya sangat dinantikannya, saat mereka berdua terikat dalam jalinan suci. Namun semua itu berlalu bagaikan mimpi. Hanzalahpun akhirnya berangkat menuju medan laga untuk memenangkan cinta yang lebih besar atas segalanya. Bahkan untuk meraih kemenangan atas dirinya sendiri. Benar, Hanzalah menang atas Hanzalah, dan berakhirlah ujian. [source]

Sebagaimana kita tahu akhir dari kisah ini adalah hanzalah sahid di medan uhud. Dan Rasulullah bersabda, “Sungguh aku melihat para malaikan memandikan jasad Hanzalah bin Abu Amir diantara langit  dan bumi dengan air awan di dalam piring piring dari perak”

5.    Tipe Manusia

  • Quiters: tipe orang yang selalu ingin cepat buru-buru mencapai tujuan tapi di sisi lain dia juga mudah menyerah saat ujian datang.
  • Campers: tipe orang yang mudah puas dan nyaman di zona aman.
  • Climbers:tipe pejuang sejati yang siap mengambil setiap resiko yang ada. Tipe ini digambarkan dalam firman Alloh; Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar.[Ali Imran: 146]

Demikianlah, mudah-mudahan kita termasuk orang-orang yang senantiasa bisa memanfaatkan setiap kesempatan untuk beramal shalih, aamiin.

2 thoughts on “Penyebab Lalai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s