Islam tidak akan tegak jika umatnya tidak berpegang teguh pada nilai-nilainya. Bagaimana cara  Muslim  berkomitmen kepada Islam?

Pertama, menjadi bagian dari Islam

Seseorang menjadi bagian dari Islam artinya menjadikan apa saja yang muncul dari dirinya, baik perasaan, pikiran, ucapan, gerakan, perbuatan, atau kinerja, sebagai pelaksanaan ajaran Islam. Dia menjadikan dirinya etalase Islam.yang memamerkan  segala keindahan dan kebaikan Islam. Siapa pun yang melihatnya dapat merasakan dan melihatnya.

Tapi, jangan lalai, menjadi etalase Islam yang utama  adalah untuk dilihat dan dinilai Allah swt. Sebab, Dia memang menginginkan manusia tampil sebagai orang yang berserah diri kepada-Nya secara total. Sekali-kali Dia tidak meridhai adanya infiltrasi dari pihak lain, terutama setan, yang akan menyebabkan ada langkah, perilaku dan kebiasaan diluar Islam. Firman-Nya, “Wahai orang-orang yang beriman masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan (total) dan janganlah kaliam mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu” (QS Al-Baqarah [2]: 208).

Allah  akan melihat dan menilai apa yang menjadi pilihan manusia seperti perasaan, pikiran, ucapan dan perbuatan, dan bukan menilai apa yang menjadi kewenangan-Nya, seperti warna kulit, paras wajah, tinggi badan, bentuk tubuh. Rasulullah saw menegaskan, “Sesungguhnya Allah tidak akan memandang (menilai) tubuh-tubuh kalian tidak pula bentuk-bentuk kalian melainkan akan memandang (menilai) hati-hati kalian dan amal-amal kalian” (HR Muslim).

Lebih dari itu, menjadi etalase Islam juga merupakan bagian dari dakwah dan menampilkan keindahan Islam agar manusia tertarik dengan Islam. Bukankah sejarah telah membuktikan bahwa Islam dengan sendirinya berbicara dan mengajak manusia untuk memeluknya manakala ditampilkan secara benar dalam diri seseorang.

Rasulullah saw adalah penampil Islam terbaik, “Adalah akhlak Rasulullah saw itu Al-Quran.” Karenanya banyak orang yang tertarik dengan perilaku Rasulullah saw bahkan sebelum beliau berbicara. Khalifah Ali bin Abi Thalib telah mengislamkan seorang Yahudi bukan dengan kata-kata apalagi pedangnya, melainkan dengan menampilkan keadilan yang diajarkan Islam dalam sebuah persidangan.

Sebaliknya, jika seorang Muslim menampilkan perilaku-perilaku yang tidak mewakili Islam maka secara sadar atau tidak dia telah berkontribusi—sedikit atau banyak—dalam menghalangi manusia dari jalan Allah (shaddun ‘an sabilillah). Ini merupakan salah satu problem besar umat Islam hari ini. Sejak jauh hari, seorang ulama mengutarakan, “Al-Islamu mahjubun bil-muslimin” (Islam terhalang oleh kaum Muslimin sendiri).

Hal ini diakui Nikolaos Van Dam, Duta Besar Belanda untuk Indonesia yang menulis, “Banyak orang Barat belum pernah menapakkan kaki di negeri Arab atau dunia Islam, tetapi mereka mendapat kesan tentang Islam dan Muslim melalui media massa atau melalui hubungan langsung dengan berbagai macam kelompok pendatang Muslim yang tinggal di negeri mereka.”

Ia menambahkan, “Pengalaman dan kesan dari kejadian-kejadian tersebut sering mengarah pada pandangan negatif dibanding positif. Sering kali, bukanlah Islam yang dipahami, tetapi lebih pada perilaku Muslim yang dibiaskan sebagai gambaran Islam karena mereka bertindak ‘atas nama Islam’, tapi sesungguhnya mereka sama sekali tidak mewakili mayoritas Muslim.”

Masih menurut Van Dam, pandangan Islam di masyarakat umum di Eropa atau Barat, sekarang ini lebih sering dibentuk oleh peristiwa yang terjadi di dekat rumah atau tetangga dibanding dengan perkembangan negara-negara Muslim nun jauh di sana. (Republika, 29 Oktober 2009).

Harus kita akui, ada banyak perilaku—termasuk yang secara sadar dan terencana dilakukan seperti pembantaian manusia dan penghancuran fasilitas umum—yang diatasnamakan Islam, dan pula dilakukan orang yang berstatus Muslim, padahal Islam bersih dari cara-cara itu. Ini dapat terjadi manakala seseorang belum sepenuhnya mewarnai dirinya dengan Islam.

Tapi dapatkah Islam bekerja memengaruhi segala perasaan, pemikiran, pekerjaan manusia sedemikian rupa? Sejarah membuktikan bahwa Islam telah mampu merombak manusia menjadi manusia model baru. Islam dengan segala kelengkapannya telah berhasil menampilkan dalam sejarah kemanusiaan sosok-sosok yang menjadi agen kasih sayang dan pencerahan untuk kehidupan. Dan itu merupakan bukti dan pembenaran terhadap firman Allah, “(Pegang teguhlah) celupan (agama) Allah. Dan siapakah lagi yang lebih baik celupannya selain Allah? Dan kepada-Nya lah kami mengabdi” (QS Al-Baqarah [2]: 138).

Idealnya memang dalam segala hal kita menjadi etalase Islam. Artinya, tidak sesuatu pun yang tampil dari diri kita melainkan semuanya menjadi cerminan Islam. Tapi tampaknya yang mampu begitu hanya Rasulullah saw. “Dan sesungguhnya engkau – wahai Rasul – benar-benar berada dalam akhlak yang agung.”

Sahabat Nabi saw yang bernama Abu Dzar saja pernah terjebak dalam perilaku jahiliyah. Kejadiannya adalah saat dirinya dengan Bilal bin Rabah—semoga Allah meridhai keduanya–mempunyai persoalan, Abu Dzar memanggil Bilal dengan marah, “Wahai anak perempuan hitam!” Hal itu sampai kepada Rasulullah saw. Beliau kemudian menasihatinya, “Benarkah engkau mencaci ibunya? Sungguh di dalam dirimu ada perilaku jahiliyah.” Abu Dzar bertobat dan meminta maaf kepada Bilal.

Kita, meskipun tidak—kata optimistik dari ‘belum’—dapat secara sempurna menjadi penampil Islam secara utuh, namun paling tidak kita pasti mampu menampilkan beberapa hal yang diajarkan Islam dalam diri kita. Jangan sampai kita yang mengklaim sebagai Muslim, namun tidak ada satu pun yang kita tampilkan dalam diri kita yang merupakan tampilan Islam. Malah sebaliknya, segala yang tampil dari kita hanyalah langkah-langkah setan (khuthuwatusy-syaithan) atau perilaku jahiliyah.

Kita menyadari bahwa berkomitmen pada Islam melalui cara menjadi bagian dari Islam belum terealisasi optimal. Masing-masing kita pasti berbeda tingkat capaian atau kemampuan dalam menampilkan Islam dalam dirinya. Seperti yang Allah gambarkan, “Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan di antara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar” (QS Fathir [35]: 32).

Hal yang menggembirakan kita, Allah mengetahui segala kelemahan dan keterbatasan manusia. Karenanya, Dia pun menjadikan sikap tobat dan kembali, dari waktu ke waktu, untuk membenahi langkah kehidupan kita yang masih keliru. Dengan kemudahan ini, masihkah sulit bagi kita berkomitmen pada Islam? to be continued…

diambil dari: Majalah Ummi edisi No.8 Tahun XXI

4 thoughts on “Komitmen Muslim kepada Islam (2)

    • ‘alaykumussalam warohmatulloh…

      jazakumullohu khoiron katsir silaturrahimnya…
      ana yakin yang komentar pun tidak kalah keilmuannya. mari kita berbagi🙂
      salam ukhuwah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s