Ketika Islam jadi pegangan hidup, setiap Muslim yang ada di muka bumi ini sesungguhnya adalah saudara yang lebih kuat ikatannya daripada saudara sedarah. Kesadaran ini menimbulkan semangat saling tolong dan saling bela antarsesama Muslim.

Kedua, menjadi bagian dari umat Islam

Setelah memastikan diri sebagai bagian dari Islam, komitmen seseorang kepada Islam juga dibuktikan dengan memosisikan dirinya sebagai bagian dari umat Islam. Sungguh besar “tubuh”–menggunakan perumpamaan yang dipakai Rasulullah saw–umat Islam hari ini. Hasil survei The Pew Forum on Religion and Public Life yang dirilis Oktober 2009 menyebutkan, “Populasi umat Islam di seluruh dunia mencapai 1,57 milyar atau 23% populasi dunia yang kini berjumlah 6,8 miliar jiwa. Angka itu menunjukkan sekitar 1 dari 4 orang penduduk dunia memeluk agama Islam.”

Lembaga itu menambahkan, Islam menjadi agama kedua terbesar di dunia setelah Kristen yang dianut sekitar 2,1-2,2 miliar jiwa. Menariknya, perkembangan Islam di Eropa termasuk yang paling pesat. Harun Yahya, ilmuwan Muslim kenamaan dewasa ini, mengatakan, “Islam berada di titik perkembangan pesat di Eropa. Perkembangan ini telah menarik perhatian yang lebih besar di tahun-tahun belakangan, sebagaimana ditunjukkan oleh banyak tesis, laporan, dan tulisan seputar ‘Kedudukan Kaum Muslim di Eropa’ dan ‘Dialog antara Masyarakat Eropa dan Umat Muslim’. Beriringan dengan berbagai laporan akademis ini, media massa sering menyiarkan berita tentang Islam dan Muslim.”

Harun Yahya meyakini bahwa peningkatan populasi Muslim ini tidak dapat dianggap hanya disebabkan oleh imigrasi. Meskipun imigrasi dipastikan memberi pengaruh nyata pada pertumbuhan populasi umat Islam, banyak peneliti mengungkapkan bahwa permasalahan ini dikarenakan oleh faktor lain, yaitu angka perpindahan agama yang tinggi.

“Suatu kisah yang ditayangkan NTV News pada 20 Juni 2004 berjudul ‘Islam adalah Agama yang Berkembang Paling Pesat di Eropa’ membahas laporan yang dikeluarkan badan intelijen domestik Prancis. Laporan tersebut menyatakan bahwa jumlah orang yang memeluk Islam di negara-negara Barat terus bertambah, terutama pascaperistiwa serangan 11 September. Misalnya, jumlah mualaf di Prancis meningkat sebanyak 30 sampai 40 ribu orang pada tahun lalu,” imbuhnya (dikutip dari: us2.harunyahya.com).

Tentu saja realitas itu perlu kita syukuri, sebab perkembangan umat Islam yang demikian pesat dari sisi kuantitas merupakan salah satu pembenar terhadap keyakinan kita; bahwa di alam semesta ini, dan dalam kancah pertarungan antara hidayah dan kesesatan, hanya ada satu kekuatan yang berpengaruh, yakni kekuatan Allah swt. Hanya ada satu rencana yang berlaku yakni rencana Allah swt, dan hanya ada satu kendali yang efektif yakni kendali Allah swt.

Semua kekuatan, segala rencana, dan setiap kendali manusia bertekuk lutut di hadapan kekuatan, rencana dan kendali-Nya. Benarlah firman-Nya: “Dan barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak seorang pun yang dapat menyesatkannya. Bukankah Allah Maha Perkasa lagi mempunyai (kekuasaan untuk) mengazab?” (QS Az-Zumar: 37). Lihat juga QS Ash-Shaff: 8 dan An-Naml: 50.

Jadi, di satu sisi kita berbahagia dan bersyukur, tapi di sisi lain kita boleh bertanya, sudahkah setiap Muslim memosisikan dirinya sebagai bagian dari umat Islam yang besar itu? Apakah setiap Muslim sudah memerankan dirinya sebagai anggota tubuh pada diri seseorang atau bagaikan komponen dalam satu bangunan, sebagaimana yang disebut Rasulullah saw dalam sabdanya?

 “Perumpamaan orang-orang beriman dalam hal saling mencintai, saling menyayangi dan saling berempati adalah bagaikan satu tubuh. Jika satu anggota tubuh itu merasakan sakit maka seluruh tubuh turut terjaga dan merasa demam” (HR Muslim).

“(Sikap) seorang mukmin terhadap mukmin lainnya bagaikan bangunan, satu sama lain saling menguatkan” (HR Bukhari dan Muslim).

Lalu, apa konsekuensi dari afiliasi kepada umat Islam itu? Konsekuensinya antara lain:

Pertama, menempatkan diri sejajar dengan Muslim lainnya, di bagian bumi mana pun mereka tinggal. Tidak ada perasaan lebih mulia atau lebih tinggi hanya karena perbedaan kebangsaan, ras, warna kulit, status sosial, harta atau parameter-parameter duniawi lainnya. Dalam momentum yang amat penting dan strategis, yakni haji wada’ (perpisahan), Rasulullah saw menegaskan, “Wahai segenap manusia, ingatlah bahwa Tuhan kalian adalah satu dan bahwa ayah kalian adalah satu. Ingatlah, tiada keutamaan bagi bangsa Arab atas bangsa non-Arab, tidak ada keutamaan bagi bangsa non-Arab atas bangsa Arab, tidak pula bagi bangsa berwarna kulit merah atas bangsa berwarna kulit hitam dan tidak pula bangsa berwarna kulit hitam atas bangsa berwarna kulit merah melainkan dengan ketakwaan.”

Kedua, menghormati dan menjaga kehormatan, harta, fisik dan jiwa Muslim lainnya. Artinya, kita tidak boleh menodai, melukai, merusak, atau merampas kehormatan, harta, fisik, jiwa sesama Muslim. Dalam kesempatan haji wada’ itu pun Rasulullah saw menyatakan, “Sesungguhnya darah kalian, harta kalian, dan kehormatan kalian adalah haram (dilanggar, dinodai, dirampas) seperti haramnya hari ini, bulan ini dan negeri kalian ini.”

Dalam kesempatan lain, Rasulullah saw juga bersabda, “Muslim (sejati) adalah orang yang (menyebabkan) orang-orang Muslim lainnya selamat dari (gangguan) lidah dan tangannya.”

Ketiga, menjauhkan sesama Muslim dari segala marabahaya. Orang yang merasakan dirinya sebagai bagian dari umat Islam akan merasa sakit dan menderita bila ada saudaranya yang mengalami kenestapaan, baik fisik maupun psikis. Oleh karena itu ia akan senantiasa berusaha menjauhkan segala sesuatu yang menyakitkan dari tubuh umat Islam. Sebaliknya, orang munafik–orang yang yang Islamnya hanya pura-pura–justru merasa senang manakala umat Islam mendapat gangguan dan petaka, dan merasa sedih jika umat Islam memperoleh kebahagiaan. Allah swt melukiskan sikap orang-orang munafik itu dalam ayat-Nya: “Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi Jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan” (QS Ali ‘Imran:120). Juga dalam QS Al Ahzab: 19.

Keempat, menghadirkan solusi untuk berbagai persoalan yang dihadapi kaum Muslimin khususnya dan umat manusia pada umumnya. Kehadiran seorang Muslim hendaknya menjadi bermakna dan bukan menjadi beban bagi orang lain. Dalam kehidupan, dunia ini tidak mungkin sunyi dari orang-orang yang bernasib nestapa dan membutuhkan sentuhan tangan untuk memberdayakannya. Beliau bersabda: “Barangsiapa mengenyahkan satu kedukaan dunia dari seorang Mukmin maka Allah mengenyahkan kedukaan darinya pada hari kiamat. Barangsiapa memberikan kemudahan bagi orang yang kesulitan maka Allah akan memberinya kemudahan di dunia dan akhirat. Dan barangsiapa menutupi (aib) seorang Muslim maka Allah akan menutupi (aib)-nya di dunia dan akhirat. Dan Allah senantiasa menolong hambanya selama ia menolong saudaranya” (HR Muslim).

Menjadi bagian dari umat Islam berarti seorang Muslim tidak hanya menambah bilangan, tapi  juga menambah manfaat dan kualitas. Allahu A’lam.  To be continued…

Ust. Tate Qomarudin, Lc

diambil dari: Majalah Ummi edisi No.6 Tahun XXI

Related Posts:

One thought on “Komitmen Muslim kepada Islam (3)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s