Dengan terjun langsung ke kancah dakwah, seorang Muslim akan tahu sekecil apa pun perkembangan umat ini, lalu mensyukurinya. Pun memahami setiap permasalahan umat, lalu berupaya mencari solusinya.

Ketiga, menjadi bagian dari perjuangan dan dakwah Islam

Islam dan perjuangan Islam hari ini tidak membutuhkan tambahan para pengamat. Umumnya pengamat hanya melihat Islam dan perjuangan Islam dari “kejauhan” atau dari luar. Karenanya, tidak sedikit pengamat yang mudah menyederhanakan persoalan atau menggeneralisir penilaian.

Bukanlah berita baru bila ada pengamat yang tidak objektif menilai sebuah perjuangan atau situasi yang dialami umat Islam. Bila pengamat melihat betapa kemaksiatan masih merajalela, segeralah ia mengatakan, “Mana hasil dakwah? Omong kosong! Tidak ada efek dari berbagai ceramah dan pengajian yang dilakukan di masjid atau disiarkan media massa.” Dalam anggapannya seolah memang tidak ada manfaat sama sekali apa yang dilakukan orang-orang yang aktif di kancah dakwah.

Namun ada kalanya pengamat juga over estimasi. Misalnya dengan mengatakan segala sesuatu sudah cukup. Tidak ada masalah pada umat Islam dan dakwah Islam. Semua yang terjadi sudah ideal.

Amat berbeda dengan pelaku dakwah dan perjuangan Islam. Orang yang terjun langsung dalam liku-liku perjuangan dakwah akan melihat persoalan secara objektif dan merespons segala capaian, sekecil apa pun, dengan penuh rasa syukur. Bertambahnya orang yang dapat membaca Qur’an saja, dalam kacamata seorang pejuang, adalah sebentuk keberhasilan yang disyukurinya. Terlebih lagi keberhasilan memberi pengaruh dalam hal-hal yang terkait dengan kepentingan publik.

Itulah beda pengamat dengan pelaku. Apalagi bila pengamat sudah dimuati beban kebencian dan iri dengki. Memang sejak zaman Rasulullah saw, model pengamat yang mengamati kaum Muslimin dengan pandangan kebencian sudah ada. Perilaku itu disebutkan dalam Qur’an sebagai perilaku orang munafik. Jika mereka melihat seorang Muslim bersedekah dalam jumlah kecil, mereka mengatakan bahwa Allah tidak membutuhkan sedekah yang kecil. Jika mereka melihat seorang Muslim mengeluarkan infak dalam jumlah besar, mereka mengatakan bahwa hal itu dilakukan dengan riya.

Tentang itu Allah swt menjelaskan, “(Orang-orang munafik itu) yaitu orang-orang yang mencela orang-orang Mukmin yang memberi sedekah dengan sukarela dan (mencela) orang-orang yang tidak memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekadar kesanggupannya, maka orang-orang munafik itu menghina mereka. Allah akan membalas penghinaan mereka itu, dan untuk mereka azab yang pedih” (QS At-Taubah [9]: 79).

Jadi, mari kita hadir bukan sebagai pengamat, melainkan pelaku perjuangan dan dakwah Islam. Penting dimengerti oleh setiap Muslim, semua umat Islam dapat memberi kontribusi untuk perjuangan Islam dan dakwah Islam. Melakukan perjuangan Islam bukan hanya monopoli para ustadz, muballigh, kyai, atau orang dengan label dan gelar tertentu. Tidak!

Harap dicatat, jika kita mengacu pada generasi sahabat dalam kancah perjuangan Islam, maka ketahuilah bahwa tidak semua sahabat adalah penghafal Quran (huffazh), tidak semua sahabat adalah mufassir, tidak semua sahabat menghafal banyak hadits, dan tidak semua sahabat ahli fiqih (faqih). Toh mereka tetap diakui sebagai para pejuang Islam, dengan peran dan posisinya masing-masing. Misalnya, Khalid bin Al-Walid, ia bukanlah tipe ulama seperti yang kita kenal di zaman ini. Ia ‘hanyalah’ ahli strategi perang dan kepemimpinan di medan laga.

Esensi perjuangan Islam adalah i’laa-u kalimatillahi, menegakkan kalimat Allah. Maknanya adalah segala upaya yang ditujukan untuk menjadikan ajaran Islam sebagai rujukan dalam setiap sendi kehidupan. Dan dakwah adalah upaya mengajak orang ke arah itu.

Jadi, pastilah dakwah mempunyai manfaat yang tinggi, antara lain:

  1. Dakwah mendatangkan pahala yang besar

Tentang agungnya pahala berdakwah, Rasulullah saw bersabda, “Sungguh, jika Allah memberi petunjuk kepada seseorang melalui (usaha dakwah) kamu, maka (pahalanya) bagimu lebih baik dari unta-unta merah” (HR Bukhari dan Muslim).

Siapa yang menunjukkan kepada kebaikan maka ia memperoleh pahala seperti pahala orang yang melakukannya” (HR Muslim).

  1. Dakwah menghadirkan curahan rahmat Allah

Menyeru manusia kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar akan mendatangkan rahmat dari Allah. Firman-Nya, “Orang-orang yang beriman laki-laki dan perempuan, sebagian mereka adalah menjadi penolong bagi sebagian lain. Mereka menyuruh mengerjakan yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS At-Taubah [9]: 71).

Rasulullah saw bersabda, “Semoga Allah mencerahkan (membahagiakan, merahmati) seseorang yang mendengar dari kami satu hadits (ajaran Islam) lalu ia menyampaikannya kepada orang lain. Sebab boleh jadi pembawa suatu pemahaman (ajaran Islam) menyampaikan kepada orang lain yang (menjadi) lebih paham dari dirinya. Dan boleh jadi pembawa (penyampai) suatu pemahaman tidak termasuk orang yang faqih” (Shahih Ibnu Hibban).

3. Memerintahkan kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran akan menjauhkan malapetaka di dunia

Ada sunnatullah yang berlaku di dunia ini, yakni manakala kerusakan dan penyimpangan dibiarkan merajalela di suatu negeri, Allah akan membinasakan negeri tersebut. Sejarah kehidupan telah membuktikan kebenaran sunnatullah tersebut. Al-Qur’an mengisahkan kepada kita contoh-contoh bangsa besar yang hancur akibat menyimpang dari agama Allah. Allah berfirman, “Apakah mereka tidak memerhatikan berapa banyaknya generasi-generasi yang telah kami binasakan sebelum mereka, padahal (generasi itu) telah Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, yaitu keteguhan yang belum pernah Kami berikan kepadamu, dan Kami curahkan hujan yang lebat atas mereka dan Kami jadikan sungai sungai mengalir di bawah mereka, kemudian Kami binasakan mereka karena dosa mereka sendiri, dan Kami ciptakan sesudah mereka generasi yang lain” (QS Al-An’am [6]: 6).

4. Mengajak orang lain kepada kebaikan akan mendorong pembersihan jiwa (tazkiyatunnafs)

Saat kita mengajak orang lain kepada kebaikan, kita akan selalu berusaha untuk menjadi seperti yang kita serukan. Sungguh, itu karunia yang luar biasa. Saat berdakwah kita meyakini firman Allah swt, “Hai orang-orang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqan dan menghapuskan segala kesalahan-kesalahan dan mengampuni (dosa-dosa) mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar” (QS Al-Anfal [8]: 29). Inilah sebuah dorongan dalam diri kita.

Jika Rasulullah saw bersabda, “Akan senantiasa ada sekelompok dari umatku yang menegakkan kebenaran. Mereka tidak terganggu oleh orang-orang yang menghinadinakan mereka, tidak pula oleh orang yang menentang mereka, hingga datang kemenangan dari Allah dan mereka tetap (konsisten) dalam keadaan demikian.” Jika Rasul bersabda demikian, adakah kita termasuk di dalamnya?

diambil dari: Majalah Ummi edisi No.10 Tahun XXI

Artikel terkait:

2 thoughts on “Komitmen Muslim kepada Islam (4)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s