Bayang – Bayang Kematian


oleh: Ustadz Mohammad Fauzil Adhim

Kalau Allah majukan usianya satu detik saja, tepat sebelum waktu pertemuan dengan hidayah, niscaya tak ada yang bisa diharap dari kehidupan sesudah mati. Kalau Allah mencabut nyawanya dan menutup lembaran hidupnya tepat di saat ia meludahi Tuhan dan membelakangi kebenaran, niscaya tak ada tangis yang sanggup mengubah nasibnya di tanah pekuburan. Ratapan do’a para tetangga, juga sanak saudara dan orangtua, tak akan mampu menyelamatkannya dari kehinaan.


Maka sungguh, satu detik nafas kita yang masih tersisa, adalah anugerah besar dari Allah Ta’ala yang menentukan surga neraka kita. Kepada-Nya kita perlu bersyukur dan mempersiapkan diri kita untuk mempertanggungjawabkan setiap tetes nikmat yang Allah Ta’ala berikan kepada kita. Bukankah Allah Ta’ala sudah berfirman, “Kemudian, sungguh, kamu akan ditanya pada hari itu dari nikmat (yang kamu peroleh hari ini).” (QS. At-Takaatsur, 102: 8).

Ya, kita akan ditanya. Karenanya, kita perlu berusaha agar setiap detik nafas kita dapat mengantarkan kita kepada ridha-Nya. Sesungguhnya kebaikan itu bukan ditentukan oleh berapa harta yang kita punya, tetapi oleh seberapa besar kita berharap pada kehidupan sesudah bumi dilipat dan langit digulung. Apabila bumi diguncang, dan langit diruntuhkan, apakah yang bisa kita harap dari perbuatan, perkataan dan isi hati kita?

Jika seluruh perjalanan hidup kita untuk meraih dunia dan menggenggamnya erat-erat, maka tidak ada yang menakutkan melebihi kematian. Bahkan seandainya manusia tidak menyadari kehidupan sesudah mati, tetaplah kematian sebagai peristiwa paling menakutkan, meski sangat sedikit yang bisa belajar dari kematian. Betapa banyak peristiwa kematian terjadi di sekeliling kita, bahkan atas orang-orang yang sangat kita cintai, tetapi betapa sedikit kita belajar. Kita baru tergugah, biasanya, ketika kematian itu terasa sangat dekat dengan kita. Ia datang mengancam, menimbulkan rasa takut yang mencekam, sesudah itu menggerakkan hati untuk bertanya, “Apa yang sudah kulakukan untuk berpulang? Betapa menakutkan apa yang di seberang, dan betapa menggiurkan apa yang ada di seberang lainnya. Tetapi jalan hidup yang membawa pada kebahagiaan belum kulalui.”

Bayang-bayang kematian, perjumpaan dengan orang-orang tercinta yang sudah meninggal, membuat kita –seharusnya—bertanya tentang bekal yang sudah kita siapkan untuk memulai kehidupan sesudah mati; kehidupan yang tidak memberi kesempatan kepada kita untuk berbenah dan berusaha.

Sesungguhnya ada tiga jenis kehidupan. Pertama, kehidupan yang memberi kita apa yang butuhkan tanpa berusaha. Inilah kehidupan sebelum lahir. Setiap kita memperoleh curahan kasih-sayang tanpa meminta. Kedua, kehidupan sesudah lahir hingga datangnya kematian. Sedih dan gembira, gagal dan sukses, penderitaan dan kebahagiaan datang silih berganti. Usaha kita sangat berpengaruh. Begitu juga akibat tindakan orang lain, bisa berpengaruh terhadap diri kita. Ketiga, kehidupan sesudah mati dimana hanya ada satu jenis kehidupan; sengsara atau bahagia. Tak ada waktu untuk berusaha. Kalau masih ada pahala atau dosa yang terus mengalir, tetap aliran pahala dan dosa itu bermula dari kehidupan kita di dunia.

Kematian adalah penutup segala usaha, dan pembuka kehidupan baru yang hanya memberi kita satu warna. Sesungguhnya, yang paling dekat dengan hidup kita adalah kematian. Setiap detik nafas kita adalah perjalanan mendekati kematian. Sedangkan yang paling jauh dari hidup kita adalah kemarin. Apa yang terjadi kemarin, semakin hari semakin menjauhi diri kita. Apa yang terjadi kemarin, seminggu kemudian sudah menjadi “seminggu yang lalu” dan 40 tahun kemudian sudah menjadi sejarah. “Dulu….” Dan “dulu” tak pernah kembali.

Kalau hari ini kita berpulang, kemanakah alamat tujuan akhir kita? Surga? Atau neraka?

———

Silahkan jumpai penulis di Facebook/ twitter @kupinang

2 thoughts on “Bayang – Bayang Kematian

  1. {Betapa banyak peristiwa kematian terjadi di sekeliling kita, bahkan atas orang-orang yang sangat kita cintai, tetapi betapa sedikit kita belajar. Kita baru tergugah, biasanya, ketika kematian itu terasa sangat dekat dengan kita.}
    Astagfirullah.. ;_O

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s