Beragam Watak Sama Kemuliannya [Parenting]


Oleh: Ust. M. Fauzil Adhim

Umar bin Khaththab ra. sangat berbeda wataknya dibanding pendahulunya, khalifah pertama Abu Bakar Ash-Shiddiq ra.. Umar bin Khaththab lebih temperamental, sekaligus lebih mudah tersedu-sedu menangis atas kekhilafan kecil yang ia lakukan. Sedangkan Abu Bakar Ash-Shiddiq lebih tenang pembawaannya. Tetapi keduanya memiliki kemuliaan yang sama. Keduanya termasuk orang mendapatkan jaminan masuk surga dan termasuk sahabat utama Nabi saw..

Lain Umar, lain pula Utsman bin Affan. Meskipun malu memang sifat para sahabat radhiyallahu ‘anhum, tapi Utsman bin Affan lebih pemalu. Lain pula ‘Ali bin Thalib. Ia paling lembut pembawaannya di antara yang lembut, halus perasaannya dan sangat mudah tersen¬tuh hatinya. Tetapi begitu ada perkara yang memerlukan ketegasan, dialah yang paling tegas di antara yang tegas sesudah Rasulullah saw.. Dialah yang paling pemberani di antara para pemberani.

Jika kita meneruskan penelusuran terhadap para sahabat, kita akan mendapati kekayaan watak yang sangat beragam. Abu Dzar Al-Ghiffari sangat pemberani. Ia siap menderita untuk keputusannya. Ia siap terasing. Salman Al-Farisi sangat mendalam berpikirnya dan dikenal kegigihannya dalam mencari kebenaran. Abu Hurairah berbeda lagi. Begitu pula para sahabat lainnya. Tetapi beragam watak, sama kemuliaannya. Empat khalifah pertama sangat berlainan wataknya, tetapi mereka semua termasuk di antara orang-orang yang mem¬peroleh jaminan masuk surga.

Seperti halnya para sahabat Nabi saw., anak-anak kita pun berbeda kesukaan, bakat dan wataknya. Berbeda pula kecenderungannya terhadap ilmu. Ibnu ‘Abbas ahli tafsir di kalangan para sahabat. ‘Ali bin Abi Thalib tempat para sahabat meminta pertimbangan. Tetapi semuanya memiliki pemahaman yang baik terhadap agama dan melaksanakannya dengan sungguh-sungguh.

Pelajaran apa yang bisa kita petik untuk anak kita? Biarkanlah mereka tumbuh dengan keunikan dan kelebihannya masing-masing. Izinkanlah anak-anak itu berbeda-beda wataknya, asalkan sifat sebagai seorang muslim tidak terlepas dari diri mereka. Biarkanlah mereka memiliki kelebihan berbeda-beda dalam ilmu maupun kecakapan hidup, asalkan mereka semua memiliki pemahaman yang baik terhadap agama dan bersungguh-sungguh melaksanakannya.

Jalan untuk menuju ke sana adalah dengan melimpahi anak-anak cinta kasih yang tulus, perhatian yang besar terhadap kebaikan-kebaikannya, serta kesediaan untuk bermain dan berbagi bersama mereka. Bukankah ketika hati mereka bahagia, pesan kita akan lebih mudah mereka terima?

Rasulullah saw. sangat jarang marah. Tetapi beliau pernah marah ketika ada seorang bapak yang tidak pernah mencium anaknya.

Pelajaran apa yang bisa kita renungkan dari peristiwa ini?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s