1. Adab pilarnya, aqidah landasannya. Kuatnya fondasi memudahkan kita membangun apa saja, setinggi apa pun di atasnya.
  2. Tegaknya pilar mengokohkan bangunan yang kita dirikan, baik melebar maupun meninggi, tanpa menjadikannya retak, rapuh dan goyah.
  3. Lemah pilar tapi kuat fondasi, menyebabkan sulitnya kita membangun sesuai harapan.
  4. Fondasi tetap ada, tp makin tinggi makin berat beban yg harus ditanggung. Maka pilar & fondasi harus sama-sama kita perhatikan dg baik.
  5. Kuat pilar lemah fondasi, menjadikan mereka tahu & bersemangat thdp kebaikan, tp mereka sulit mewujudkan apa yang menjadi keyakinannya.
  6. Kuat pilar lemah fondasi mnjadikn perilaku mrk tampak baik, sikap mrk mngagumkan, tp ia sbnrnya lemah. Mudah merobohkan apa yg telah ada.
  7. Jika pun kebaikan itu tetap mrk kerjakan, boleh jadi tak brnilai krn brbagai kbaikan itu tanpa niat lurus untuk & karena Allah Ta’ala.
  8. Karenanya, ta’dib (proses pembentukan adab) di sekolah mnjadi keharusan, sbgmana tidak adanya tawar menawar dlm masalah pnanaman ‘aqidah.
  9. Ini berlaku u/ jenjang TK maupun SD, lebih-lebih SLTP-SLTA. Dan yg paling mendesak sekaligus mendasar u/ dibangun adalah tauhid & niat.
  10. Pertanyaannya, bagaimana mungkin? Bukankah anak-anak usia TK dan SD kelas bawah merupakan usia bermain?
  11. Jawabnya, jika anak telah memiliki antusiasme belajar, punya gairah bersekolah yang sangat tinggi, apakah belajar menjadi beban baginya?
  12. Lihatlah, adakah anak-anak mengeluh ketika mereka menirukan orang dewasa berdemonstrasi atau melakukan long march? Tidak.
  13. Kenapa? Karena mereka bersemangat. Maka manakah yang kita pilih? Membangun ketertarikan karena cara mengajar yang menarik dan >>
  14. >> materi yg ringan & penuh permainan, atau membakar semangat shg mrk tetap antusias meski pelajarannya menuntut keseriusan tinggi?
  15. Tetapi inilah agaknya yang sering kita lalaikan. Kita lebih sibuk memukau mereka dengan fun teaching, tapi lupa membangun jiwa mereka.
  16. Menanamkan tauhid & membangun niat lurus & kokoh pada anak bukan berarti penyampaian secara kognitif agar mereka memahami dengan baik.
  17. Pada usia TK dan SD kelas bawah, belum saatnya memberi pembelajaran ‘aqidah dengan penekanan secara kognitif.
  18. Yang mereka perlukan adalah dorongan, motivasi dan sentuhan hati agar mereka mengingini, mencintai dan bersemangat memegangi >>
  19. >> sekaligus melakukan apa-apa yang diserukan oleh agama. Ini yang paling pokok.
  20. Pada jenjang selanjutnya, pembelajaran secara kognitif untuk memahamkan mereka tentang tauhid dan niat mulai perlu kita berikan.
  21. Tetapi kita harus tetap ingat bahwa ta’lim itu bukan hanya memahamkan secara kognitif dan memberi gambaran yang jelas kepada anak.
  22. Kita harus ingat bahwa ‘alim adlh orang yg apabila smkn bertambah ‘ilmu, smakin bertambah pula rasa takut sklgus kecintaannya kpd Allah.
  23. Ini berarti, ta’lim itu mrpkn paket yg memuat pmbelajaran scr kognitif, tadabbur u/ mnyadari & mnghayati kbesaran Allah, >>
  24. >> sekaligus nashihah agar mereka merasa takut kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan mencintainya dengan penuh keimanan.
  25.  $yJ¯RÎ) Óy´øƒs† ©!$# ô`ÏB Ínϊ$t6Ïã (#às¯»yJn=ãèø9$# 3 žcÎ) ©!$# ͕tã î‘qàÿxî ÇËÑÈ
  26. “Sesungguhnya yg takut kpd Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha prkasa lg Maha Pngampun.” QS. 35: 28
  27. Maka, apakah yang terjadi jika berbagai ilmu pengetahuan diajarkan tanpa membimbing para murid untuk mengenali pencipta-Nya?
  28. Bukan rasa takut kpd Allah yg bertambah, melainkan smkn menguatkan keyakinan bahwa pnentu sgl sesuatu, termsk atas takdirnya sendiri, >>
  29. >> adalah kemauan dan kemampuan diri sendiri. Dan inilah yang sedang terjadi.
  30. Ini berarti, harus ada langkah penting di sekolah kita. Sekedar perubahan pada mata pelajaran, tak berpengaruh besar pada diri murid.
  31. Tanpa guru-guru yg terasah imannya, pljrn aqidah hanya akan brsifat kognitif. Dan ini tak dpt mnjadi landasan kokoh bg proses ta’dib.
  32. Maka, kita memerlukan guru-guru yang mencintai dien ini dan bersemangat belajar dien.
  33. Kita memerlukan guru yang meyakini dien ini dan menjadikannya sebagai penimbang, penakar dan penentu apakah gagasan, >>
  34. >> teori maupun metode yang muncul belakangan dapat kita terima, harus kita tolak seluruhnya atau kita ambil sebagian.
  35. Bukan sebaliknya, menakjubi segala hal yang tampak hebat, lalu mencari pembenarannya dalam dien ini.
  36. Sebab jika kita salah brsikap thdp dien, maka trbuka jalan lapang u/ mnyelisihi agama ini dg mngambil nash tanpa mngambil maksudnya.

Source: Ust. M. Fauzil Adhim

One thought on “Kultwit @kupinang tentang Pentingnya Ta’dib (Pembentukan Adab)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s