Kita tidak bisa mengklaim pasti sukses, tidak pula bisa memastikan akan gagal. Tapi kita bisa memilih dengan sadar untuk tumbuh sehat bersama harapan.

Hidup tak semata sukses dan gagal. Itu terlalu hitam putih. Sebab sukses artinya ada ukuran yang menakar sesuatu di garis sukses. Meski relatif tapi pasti. Sebagaimana gagal punya penjelasan yang menyebut. Meski relatif tapi nyata. Hidup punya sisi lain yang jauh lebih luas; harapan.

Seharusnya kita tidak melihat pergulatan hidup ini hanya dengan hitungan sukses dan gagal. Itu terlalu egois. Ketidapastian hidup dengan segala komplikasinya, seharusnya kita hadapi dengan kelenturan jiwa, dan disitulah tempat harapan berkembang.

Harapan adalah suasana batin yang seharusnya kita bangun dalam skala yang sangat besar. Di pemerintahan seharusnya kita tumbuhkan harapan. Di jalanan selayaknya kita sebarkan harapan. Di dunia bisnis semestinya kita bagi harapan. Di rumah kita semai harapan. Di tempat kerja kita padu-padankan harapan.

Kita pasti ingin punya presiden yang kuat memancarkan harapan. Tidak banyak berkeluh kesah, mengeluh, apalagi merasa lemah. Masalah pasti ada. Tapi seharusnya presiden bisa menularkan semangat harapan, artikulasi harapan, ekspresi harapan, bahkan juga pidato resmi yang menyemangati harapan rakyat banyak.

Kita pasti ingin punya aparat kepolisisn yang tegas melakukan pembelaan. Dengan itu sinyal-sinyal harapan akan rasa aman menyebar ke masyarakat. Tidak saja di pusat-pusat kegiatan, tapi juga di dalam diri mereka secara individu. Maka semua orang tak perlu ngeri berjalan malam karena khawatir diserang geng motor yang tiba-tiba seperti siluman.

Kita pasti ingin punya tetangga yang mau saling menjaga harapan. Sehingga siapapun yang tinggal di rumah, sendiri atau dengan yang lain, sebagi dosen senior UI atau mahasiswa biasa UIN, merasa nyaman mengisi siang atau malam. Mereka tidak khawatir ada orang yang tiba-tiba menyakiti apalagi menghilangkan nyawanya.

Kita pasti ingin etalase-etalase berita pewartanya pandai menumbuhkan harapan. Pengabar di koran, tv, majalah atau internet, seharusnya bekerja lebih serius untuk memilih bahan dari peristiwa-peristiwa positif, berdedikasi, dan produkti,f yang bisa turut menyalakan energi harap di masyarakat. Kejahatan tidak mungkin sirna. Tapi itu tidak harus berulang-ulang menjadi menu utama pemberitaan membanjiri setiap ruang dan waktu.

Memang, harapan yang baik belum tentu berakhir sukses. Tapi belum tentu juga berujung gagal. Namun masyarakat yang sungguh-sungguh mengelola harapan, pada lini-lini pribadi dan sosialnya, akan memiliki kualitas yang jauh lebih baik. Ini mungkin terlalu psikologis. Tapi dari sanalah berbagai keadaan bermul, sekaligus kesana pula bermuara.

Kita tidak bisa mengklaim pasti sukses, tidak pula bisa memastikan akan gagal. Tapi kita bisa memilih dengan sadar untuk tumbuh sehat bersama harapan.

Editorial Tarbawi Edisi 274 th. 13

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s