Pict: muchisha.blogdetik.com

Allah Ta’ala memanggil kita untuk berzikir mengingat-Nya. Sesungguhnya dengan mengingat Allah, hati akan tenang. Kita tidak merasa risau oleh dunia yang sesak dan tidak merasa berat oleh masalah-masalah yang barangkali menghadang setiap saat. Hati merasa tenang jiwa menjadi hidup dan dada menemukan kelapangannya sehingga pikiran kita jernih. Kita merasa ringan terhadap dunia karena hati kita mengingati-Nya.

Waktu berjalan dan masa bertukar. Ayat suci tidak berubah isinya, tetapi sebagian kita menyempitkan makna zikir hanya sebatas membaca lafaz-lafaz doa yang panjang dan hitung-hitungan yang memusingkan. Jalan untuk mengingat Allah seakan demikian sulitnya, padahal Allah sendiri tidak menetapkan aturan-aturan yang menyulitkan seperti itu. Selain shalat yang sudah ditentukan tata caranya, berdzikir bisa dilakukan kapan saja, di mana saja dan tidak harus berbentuk bacaan wirid yang rumit di atas sajadah panjang. Allah Ta’ala justru mengingatkan kita agar senantiasa mengingat-Nya (zikir) dalam keadaan duduk, berdiri, ataupun berjalan. Allah serukan kita untuk mengingati-Nya di mana pun, dalam keadaan apa pun, dan ketika sedang melakukan berbagai pekerjaan; apa pun jenisnya.

Mengingat Allah bermakna menyadari bahwa sesungguhnya Allah itu dekat, lebih dekat daripada urat leher kita. Maka ke mana pun engkau berpaling, di situlah engkau temukan wajah Allah.

Mengingat Allah berarti menyadari bahwa Ia dengar suara-suara kita yag lirih dan tak sanggup kita ucapkan, ataupun teriakan-teriakan yang tak sanggup kita tahan. Bukankah Allah Ta’ala berfirman, Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan bagimu. Maka, apakah yang merisaukanmu, jika Ia senantiasa bersamamu? Apakah yang membuatmu lemah jika Ia akan senantiasa menguati orang-orang yang dating kepada-Nya? Sungguh, tiada daya dan upaya kecuali semata karena Allah.

Tetapi sebagian kita menyempitkan maknanya. Zikir hanya sebatas mengucapkan lafaz-lafaz wirid. Zikir menjadi hanya sebatas metode untuk meraih ketenangan sesaat demi menepis kepenatan jiwa kita yang keruh. Seakan-akan kita sedang berjalan menuju Allah, tetapi sesungguhnya kita bersibuk dengan diri sendiri. Kita merasa mengingat kebesaran-Nya, padahal kita sedang asyik dengan kebesaran kita sendiri. Pada gilirannya, bukan ketenangan yang kita dapatkan melainkan keasyikan-keasyikan sesaat atau bahkan justru semakin suntuknya pikiran.

Kita tenggelam dalam tangis saat bersama-sama membacakannya bersama orang lain. Tetapi sesudah di rumah, kita kembali merasakan sempitnya dada, keruhnya hati, dan lemahnya jiwa. Sebabnya, kita tak sungguh-sungguh mengingat-Nya. Atau jangan-jangan kita berwirid hanya untuk mendapatkan katarsis demi melepas beban jiwa yang letih. Wallahu a’lam bishawab.

Diambil dari buku: Mencari Ketenangan di Tengah Kesibukan, Ust. Mohammad Fauzil Adhim

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s