KEKALAHAN. Siapa yang menginginkan kekalahan? Namun sebelum banyak beranjak, kita sepakati dahulu makna kekalahan disini. Para du’at fii sabilillah tidaklah pernah merasakan kekalahan. Mereka akan selalu mendapatkan kemenangan. Sebagaimana janji Alloh dalam firman-Nya: “Alloh telah menetapkan, Aku dan Rosul-Ku pasti menang. Sesungguhnya Alloh Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (Qs. al-Mujadilah: 21)

Maka bukanlah sebuah kekalahan saat Sayyid Quthb menyerahkan lehernya di tiang gantungan. Senyum manisnya yang amat lebar saat itu mengajarkan kita akan makna kemenangan yang hakiki. Bukanlah pula disebut sebuah kekalahan saat seorang ‘Abdulloh ‘Azzam menyerahkan jasadnya berkeping-keping menjadi serpihan tak berbentuk saat ledakan bom merenggut jiwa. Kekuatan tekadnya menjadi obor semangat kemerdekaan bangsa Afghanistan atas kezholiman adidaya komunis Uni Sovyet.

Tidaklah sebuah kekalahan saat Rosululloh saw berlumuran darah di padang Uhud. Kehilangan sahabat-sahabat terbaik, termasuk paman tercintanya Hamzah ibn ‘Abdul Muththolib. Ketegaran dan pelajaran akan resiko perjuangan menjadi inspirasi jutaan kemenangan da’wah para ummatnya.

Sekali lagi, bukanlah kekalahan saat raga hancur lebur dan darah berserakan. Karena saat semua itu menjadi saksi syahadah dalam mizan-Nya kelak, maka kemenangan hakiki telah tercium harum memancar.

“Kalah” dalam bahasan kali ini adalah saat harapan kejayaan dunia, luput dari pelukan Islam. Laksana laskar Diponegoro saat menangisi kepergian sang pangeran menuju pengasingan. Atau pilu jutaan rakyat Aljazair mendapati Syaikh Abbas Madani, pemimpin FIS, duduk di kursi pesakitan selayaknya kriminal.

Karena kemenangan dan kekalahan dunia mutlak milik Alloh swt. Tidaklah Ia memberikan kecuali kepada yang diinginkan-Nya, dan mencabutnya dari yang diinginkan-Nya. “Katakanlah: Wahai Tuhan yang Memiliki kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki…” (Qs. Ali ‘Imron: 26)

Namun bukan berarti kaum Muslimin bersifat jabbariyyah (apatis), menunggu saja saat kemenangan dengan keyakinan bila saatnya tiba, Alloh pasti akan memberikannya. Karena kemenangan menuntut syarat-syaratnya. Dan sebaliknya, saat syarat itu tidak terpenuhi maka sama saja dengan berjuang untuk kalah; kecuali saat Alloh berkehendak lain.

Ada kalanya, saat segala sunnatulloh kemenangan sudah sedemikian rapi disiapkan, kemenangan tak kunjung datang jua.

Menjadi Kalah dalam Da’wah?
Andi -sebut saja demikian- adalah pemimpin lembaga eksekutif di kampusnya. Jiwa kepemimpinannya dan pembawaannya yang berwibawa membuat banyak mahasiswa kagum padanya. Momentum politik nasional yang “panas” dapat dilaluinya dengan cukup memuaskan. Dia mampu membawa massa besar untuk memperbaiki kepemimpinan nasional.

Prestasi itu menjulangkan namanya, namun tidak kebesaran jiwanya. Berbagai kasus dan fitnah melanda dirinya. Dari amanah keuangan hingga prospek-prospek politik masa depan. Berujung pada perpecahan internal yang dikhawatirkan dapat berimplikasi amat luas di kemudian hari.

Kasus ini bukan satu dua melanda para pemegang amanah da’wah; terutama da’wah di bidang siyasi yang penuh intrik, gelimang kekuasaan dan rayuan uang. Cukup banyak kasus melanda yang membuat para aktivis mengelus dada. Bukan apa-apa, mereka adalah pembawa nama da’wah. Gerak-gerik mereka adalah representasi da’wah. Hingga bila kemudian suatu hari terjadi kesalahan, masyarakat dengan mudahnya menunjuk hidung lembaga da’wah sebagai biang keladi yang harus bertanggung jawab.

Menyedihkan.

Hari ini, zaman makin keras mendera. Layaknya pepatah, makin tinggi posisi maka tantangan akan semakin keras menerpa. Dibutuhkan jiwa-jiwa sekokoh karang untuk melewatinya. Jiwa-jiwa Kholid yang tak silau akan kemenangan, sekaligus tak jeri akan kekalahan. Tak mabuk akan kekuasaan sekaligus tak lemah akan penderitaan. Karena sejatinya, jiwa seorang da’i adalah pemenang; apapun kondisinya.

Apa yang dapat dilakukan oleh seorang aktivis Islam saat menjabat dalam kepemimpinan publik? Sejauh mana ia dapat mewujudkan idealismenya yang selalu digembar-gemborkannya?

Demikianlah, komitmen paling mudah untuk dikatakan dan tidak sulit untuk ditekadkan. Namun komitmen membutuhkan pembuktian, dan amal adalah bukti konkrit sebuah komitmen. Maka teruslah beramal, hingga kelak Alloh sendiri yang menghentikan kita dari aktivitas amal tersebut; dan syahid fii sabilillah. Aamiin.

Wallohu a’lam.

Sumber: Al-Izzah No. 02/Th. 4/Maret 2004 M

Taken From: IHIMA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s