Tadarus yang arti asalnya ‘menghapus’ merupakan amaliah terhadap Al Qur’an yang tujuan utamanya ‘menghapus’ tulisan Al Qur’an dalam mushaf dan mengalihkannya ke dalam hati, akal, pikiran dan amal perbuatan.

Setiap kali Ramadlan tiba, suasana malam yang biasanya sunyi selalu berubah menjadi ramai dengan kegiatan tadarus al-Qur`an. Kegiatan yang biasanya menggunakan pengeras suara sampai terdengar oleh masyarakat sekitar itu hampir rata digelar di semua masjid. Umumnya, praktik dari tadarus al-Qur`an itu adalah membaca al-Qur`an secara berjama’ah. Umumnya juga, tidak semuanya membaca bersama-sama secara bersamaan, tetapi bergiliran seorang-seorang, dan yang lain turut memperhatikan bacaan orang yang sedang membaca al-Qur`an.

Membiasakan tadarus al-Qur`an semacam itu di setiap malam Ramadlan memang merupakan sunnah Nabi saw. Sebagaimana dijelaskan oleh Ibn ‘Abbas:

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ  أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ أَجْوَدَ مَا يَكُوْنُ فِي رَمَضَانَ حِيْنَ يَلْقَاهُ جِبْرِيْلُ وَكَانَ جِبْرِيْلُ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ فَلَرَسُوْلُ اللهِ  حِيْنَ يَلْقَاهُ جِبْرِيْلُ أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيْحِ الْمُرْسَلَةِ

Rasulullah saw itu adalah orang yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan lagi pada bulan Ramadlan ketika Jibril menemuinya. Jibril menemuinya pada setiap malam bulan Ramadlan untuk tadarus al-Qur`an dengannya. Dan sungguh Rasulullah saw itu ketika Jibril menemuinya lebih lembut lagi dalam hal kebaikan daripada angin yang bertiup (Shahih al-Bukhari kitab bad’il-wahyi bab kaifa kana bad’u al-wahyi ila Rasulillah no. 6, kitab fadla`ilil-Qur`an bab kana Jibril ya’ridlul-Qur`an ‘alan-Nabi saw no. 4613; Shahih Muslim kitab al-fadla`il bab kana an-nabiy ajwada an-nas bi al-khair min ar-rih al-mursalah no. 6149).

Dari keterangan di atas jelas disebutkan bahwa Nabi saw tadarus al-Qur`an setiap malam Ramadlan bersama Jibril. Dalam riwayat Muslim terdapat penegasan bahwa amal tadarus tersebut dilakukan setiap malam sampai Ramadlan berakhir (hatta yansalikha). Masih dari riwayat Muslim juga, disebutkan bahwa Nabi saw yang mentadaruskan al-Qur`an kepada Jibril, berbeda dengan riwayat di atas dimana Jibril yang mentadaruskan al-Qur`an kepada Nabi saw. Menurut al-Hafizh Ibn Hajar, ini menjadi isyarat bahwa masing-masingnya terlibat tadarus secara bergantian (Fathul-Bari kitabfadla`ilil-Qur`an bab kana Jibril ya’ridlul-Qur`an ‘alan-Nabi saw no. 4613).

Dengan demikian salah kaprah jika di setiap malam Ramadlan yang diagendakan itu hanya sebatas buka shaum di mana, makan di mana, belanja di mana? Atau nonton hiburan apa untuk melepas lelah setelah seharian menahan lapar dan haus? Yang semestinya diagendakan setiap malam itu justru malam ini surat apa dan ayat berapa yang harus dibaca, dikaji, dan dihafal? Malam ini, malam esok, dan malam selanjutnya ikut tadarus al-Qur`an di masjid mana, dengan bimbingan ustadz siapa? Itu yang selayaknya menjadi agenda utama di setiap malam Ramadlan.

Dilihat dari makna kebahasaannya, menurut Ibn Manzhur, tadarus itu arti asalnya ‘menghapus’. Digunakannya istilah ini pada al-Qur`an mengisyaratkan bahwa amaliah tadarus itu harus sampai ‘menghapus’ tulisan al-Qur`an dan memindahkannya ke dalam hafalan.

دَرَسَ الْكِتَابَ يَدْرُسُه دَرْساً وَدِرَاسَةً وَدَارَسَهُ، مِنْ ذَلِكَ، كَأَنَّهُ عَانَدَهُ حَتَّى انْقَادَ لِحِفْظِهِ

Darasa al-kitab yadrusuhu-darsan/dirasatan, juga dârasahu asalnya dari itu (terhapus), maknanya seolah-olah ia melawannya (kitab) sampai ia tunduk/mudah dihafal (Lisan al-‘Arab 6 : 79)

Hal yang sama dikemukakan oleh ‘Allamah ar-Raghib al-Ashfahani. Beliau menjelaskan bahwa maknatadarus itu adalah “keterhapusan sesuatu sehingga yang tersisa bekasnya”. Ketika dikenakan pada al-Qur`an arti tadarus adalah menghafal. Karena menghafal harus dengan banyak membaca, maka banyak membaca itu pun disebut dars/tadarus.

وَكَذَا دَرَسَ الْكِتَابُ وَدَرَسْتُ الْعِلْمَ تَنَاوَلْتُ أَثَرَهُ بِالْحِفْظِ. وَلَمَّا كَانَ تَنَاوُلُ ذَلِكَ بِمُدَاوَمَةِ الْقِرَاءَةِ عُبِّرَ عَنْ إِدَامَةِ الْقِرَاءَةِ بِالدَّرْسِ

Demikian halnya dengan darasa al-kitabu dan darastu al-ilma: Aku mengambil atsar (sisa/tulisan)-nya dengan menghafal. Dan karena mengambil hal itu (atsar dari kitab/ilmu) dilakukan dengan cara merutinkan membaca, maka diungkapkanlah pengertian ‘sering membaca’ itu dengan dars (Mu’jam Mufradat Alfazh al-Qur`an, hlm. 169).

Penjelasan dua ulama pakar bahasa Arab di atas menunjukkan bahwa tadarus al-Qur`an pada hakikatnya bukan hanya membaca mushhaf al-Qur`an, meski kegiatan tersebut masuk kategori tadarus. Sebab pada faktanya Nabi saw yang ummi (buta huruf—rujuk QS. al-‘Ankabut [29] : 48),demikian juga para shahabat umumnya yang ummi (QS. al-Jumu’ah [62] : 2)tidak mungkin hanya sekedar membaca mushhafnya, sebab Nabi saw dan para shahabat umumnya tidak bisa ‘membaca tulisan’. Nabi saw dan para shahabat yang ummi kalaupun membaca al-Qur`an, membacanya lewat hafalan (‘an zhahri qalbin). Hafalan Nabi saw berasal dari bacaan yang didiktekan Jibril dan dijamin sepenuhnya akurat oleh Allah swt (QS. al-Qiyamah [75] : 16-19). Sementara hafalan shahabat berasal dari bacaan yang didiktekan oleh Nabi saw (Shahih al-Bukhari kitab bad`il-wahyi no. 5). Dengan demikian, tadarus al-Qur`an harus melampaui “membaca mushhaf”. Tadarus al-Qur`an harus sampai “menghafal al-Qur`an”.

 

Model Tadarus al-Qur`an

Mengamati hadits-hadits tentang tadarus al-Qur`an, semuanya menginformasikan bahwa praktik itu dilakukan Nabi saw berdua dengan Jibril, secara bergantian mempersembahkan al-Qur`an, di malam-malam bulan Ramadlan saja. Tentunya tidak berarti bahwa di luar Ramadlan tidak ada aktivitas serupa terhadap al-Qur`an dari Nabi saw. Hanya khusus bulan Ramadlan, kegiatan untuk al-Qur`an itu dilakukan secara khusus dan berdua dengan Jibril. Ini menunjukkan bahwa tadarus al-Qur`an yang dilakukan oleh Nabi saw di bulan Ramadlan itu semacam kegiatan “evaluasi” tahunan untuk mengecek ulang keakuratan bacaan dan hafalan al-Qur`an. Bagi umat Islam, ini bisa dijadikan contoh berinteraksi dengan al-Qur`an secara benar. Tepatnya, dalam amaliah kita terhadap al-Qur`an harus dikhususkan dalam bulan Ramadlan untuk “mengevaluasi” bacaan dan hafalan al-Qur`an seluruhnya. Bahkan sebagaimana halnya Nabi saw dengan Jibril, kegiatan “evaluasi” tersebut diusahakan semampu mungkin dengan menetap pada satu guru atau satu majelis selama satu bulan Ramadlan.

Praktik tadarus al-Qur`an yang hari ini sudah berjalan semarak di masyarakat adalah sebuah langkah awal yang bagus. Yakni bahwa tadarus al-Qur`an itu dilakukan sampai satu bulan penuh, mencakup keseluruhan surat al-Qur`an yakni 30 juz, mengevaluasi keakuratan bacaan al-Qur`an di setiap suratnya, dan dilakukan dengan pengawasan dari seorang Ustadz dibantu oleh semua jama’ah. Maka dari itu, kegiatan semacam ini pantang untuk dilewatkan oleh siapapun; pria, wanita, orang tua, atau kawula muda.

Karena konteksnya “evaluasi” maka diharapkan setiap orang tidak merasa cukup dengan amaliah membaca al-Qur`an sendiri di rumah dengan target yang sifatnya individu. Sebab aktivitas “setoran” bacaan sebagaimana halnya Jibril dan Nabi saw tidak ada dalam aktivitas membaca sendiri tersebut. Terlebih keakuratan membaca tidak dijamin sepenuhnya, sebab tidak ada yang menegur. Orang yang membaca al-Qur`an sendiri pasti akan merasa benar semuanya, tidak ada yang salah. Maka dari itu sudah seharusnya menggabungkan diri dalam sebuah jama’ah/kelompok tadarus al-Qur`an. Dalam hal ini, setiap orang dituntut mempunyai target yang jelas, yakni mengevaluasi dan meningkatkan kemampuan juga keakuratan dalam membaca al-Qur`an. Target sederhananya, meski sulit untuk direalisasikan, adalah 30 juz al-Qur`an terbaca semuanya dengan benar.

Seorang Ustadz atau siapapun yang sudah mahir dalam hal membaca dan menghafal al-Qur`an sudah semestinya tidak merasa cukup dengan amaliah sendiri. Harus disisihkan juga waktu setiap malam untuk memeriksa bacaan kaum muslimin pada umumnya. Ini adalah di antara bentuk kepedulian terhadap sunnah tadarus al-Qur`an di bulan Ramadlan ini. Selain tentunya, mengajarkan al-Qur`an adalah kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan. Terlebih ketika faktanya jama’ah-jama’ah tadarus al-Qur`an mudah ditemukan di bulan Ramadlan, sehingga termasuk “membiarkan dalam kekeliruan” yang jelas-jelas dilarang agama, jika seorang Ustadz merasa tidak tertarik untuk membimbing bacaan jama’ahnya.

Setiap DKM (Dewan Keluarga Masjid), Pengurus Majelis Ta’lim, Madrasah atau Yayasan, sudah seharusnya merancang program tadarus ini seoptimal mungkin, sehingga mampu melibatkan semua pihak, tidak hanya kaum bapak-bapak saja misalnya, tetapi juga ibu-ibunya, pemuda-pemudinya, termasuk anak-anak. Dalam hal ini misalnya bisa dirancang program tadarus dalam berbagai halaqah(lingkaran/kelompok); halaqah untuk bapak-bapak, halaqah untuk ibu-ibu, halaqah untuk pemuda,halaqah untuk pemudi, dan halaqah untuk anak-anak. Setiap DKM juga harus berusaha seoptimal mungkin agar kegiatan tadarus ini dihadiri oleh seorang Ustadz yang sudah teruji keilmuannya dalam hal bacaan dan hafalan al-Qur`an, sehingga kegiatan tadarus betul-betul mengarah pada tujuan “mengevaluasi” bacaan al-Qur`an jama’ah masjid. Hal lain yang tidak boleh dilupakan adalah harus dirancang pula agar program ini bisa bertahan setiap malam sampai akhir bulan Ramadlan. Tidak seperti yang lumrah ditemui, ramai di awal Ramadlan, melempem di pertengahan dan akhir Ramadlan. Hal-hal terkait teknis, seperti pengadaan mushhaf, penerangan lampu, termasuk konsumsi, adalah di antara hal-hal yang tidak boleh diabaikan.

Terakhir, tadarus al-Qur`an harus sampai pada mengevaluasi hafalan al-Qur`an. Meski dalam konteks masyarakat Indonesia hal ini masih dirasa jauh, tetapi dengan kesamaan persepsi dan keyakinan bersama, hal ini sebenarnya tidak mustahil dilakukan di masjid-masjid sekitar kita. Dalam hal ini tidak perlu didikotomikan lagi antara membaca, menghafal, memahami dan mengamalkan al-Qur`an. Sebab seseorang tidak mungkin faham kalau ia tidak hafal. Pemahaman seseorang sangat terikat hafalan. Jika faham tapi tidak hafal, itu pertanda pemahamannya hilang, dengan kata lain ia tidak faham. Demikian juga sebaliknya, seseorang yang menghafal al-Qur`an pasti harus dengan faham akan kandungannya, jika tidak seperti itu hafalannya tidak mungkin tercapai. Demikian halnya, tidak termasuk orang yang hafal al-Qur`an kalau ia tidak mengamalkan al-Qur`an. Sebaliknya, seseorang tidak mungkin mengamalkan kandungan al-Qur`an yang ia sendiri tidak menghafalnya. Semuanya berjalin kelindan menjadi sebuah kesatuan amaliah untuk al-Qur`an. Tadarus al-Qur`an adalah saat yang tepat untuk mengevaluasi semua amaliah tersebut, yang berawal dari membaca dan menghafal.

Interaksi dengan al-Qur`an secara Benar

Peningkatan kualitas tadarus al-Qur`an seperti dipaparkan di atas akan sangat ditentukan oleh amaliah terhadap al-Qur`an lainnya yang juga harus diamalkan di luar bulan Ramadlan. Jika merujuk pada ayat-ayat al-Qur`an, setidaknya ada lima istilah yang digunakan oleh al-Qur`an untuk menunjuk amaliah tersebut, yaitu:

Pertama, iqra atau qira`ahIni misalnya bisa ditemukan dalam wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi saw yang jelas memerintahkan iqra; bacalah (QS. Al-‘Alaq [96] : 1-5), juga dalam surat al-Isra` [17] : 106.

Dan Al Qur’an itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannyaperlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian (QS. al-Isra` [17] : 106).

Makna iqra`/qira`ah itu sendiri adalah membaca melalui teks atau membaca lewat hafalan (‘an zhahri qalbin). Pada zaman Nabi saw iqra` dipraktikkan dengan cara membaca lewat hafalan, sebab Nabi saw dan para shahabat umumnya ummi (buta huruf). Kegiatan membaca melalui hafalan tersebut sangat dimungkinkan terjadi karena aktivitas membaca al-Qur`an para shahabat sangat sering, sesering masyarakat hari ini berinteraksi dengan media, TV salah satunya. Jika hendak diibaratkan, aktifitas membaca lewat hafalan itu seperti lagu/musik yang akrab di masyarakat kita dan biasa didendangkan lewat hafalan tanpa perlu sengaja menghafalnya, melainkan merutinkan mendengar dan meniru lagu tersebut, sehingga hafallah jadinya. Nabi saw pernah memberikan arahan kepada ‘Abdullah ibn ‘Amr:

اِقْرَإِ الْقُرْآنَ فِى شَهْرٍ. قُلْتُ إِنِّى أَجِدُ قُوَّةً حَتَّى قَالَ: فَاقْرَأْهُ فِى سَبْعٍ وَلاَ تَزِدْ عَلَى ذَلِكَ

“Bacalah al-Qur`an dalam satu bulan.” Aku menjawab: “Aku masih kuat lebih dari itu.” Sabda Nabi saw:“Bacalah dalam tujuh hari, dan jangan lebih dari itu.” (Shahih al-Bukhari kitab fadla`il al-Qur`an bab fi kam yaqra` al-Qur`an no. 5054)

Hadits ini menginformasikan bahwa para shahabat diperintah oleh Nabi saw untuk membaca al-Qur`an dalam 30 hari sampai 7 hari. Artinya dalam satu hari membaca al-Qur`an antara 1 s.d 5 juz. Kalau dihitung pada jam berarti mereka menyempatkan waktu untuk membaca al-Qur`an antara 1 s.d 5 jam. Dengan pola membaca seperti inilah para shahabat pada umumnya mampu membaca sekaligus hafal al-Qur`an.

Kedua, tilawah. Ini misalnya terlihat dalam ayat berikut:

Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi (QS. Fathir [35] : 29).

Asal kata tilawah adalah tala yang artinya ‘mengikuti’ (lihat QS. As-Syams [91] : 2). Tilawah biasa diartikan membaca sebab membaca adalah mengikuti huruf per huruf untuk dilantunkan. Akan tetapi menurut ‘Allamah ar-Raghib, tilawah itu bermakna juga mengikuti dengan tubuh, sikap, atau hukum. Dalam hal ini, Ibn Mas’ud menjelaskan: “Demi Allah, sesungguhnya tilawah yang sebenarnya itu adalah menghalalkan yang halalnya, mengharamkan yang haramnya, membacanya sebagaimana yang diturunkan Allah, tidak mengubah-ubah firman dari tempatnya, dan tidak mena`wilkannya sedikit pun dengan pena`wilan yang tidak benar” (Tafsir Ibn Katsir QS. Al-Baqarah [2] : 121). Maksudnya, membaca al-Qur`an dalam makna tilawah ini tidak sekedar membaca teks ayatnya saja, tetapi juga mengamalkannya.

Ketiga, tartil. Al-Qur`an menyatukan amal tartil ini dengan amal shalat Tahajjud.

Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk shalat tahajjud) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit. Atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al-Quran itu dengan tartil. Sesungguhnya Kami akan menurunkan kapadamu perkataan yang berat. Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan. Sesungguhnya kamu pada siang hari mempunyai urusan yang panjang/banyak (QS. Al-Muzzammil [73] : 1-7).

Asal kata tartil adalah ratl yang bermakna ‘menyusun dan merangkai sesuatu dengan baik’. Maksud dari tartil al-Qur`an adalah mengeluarkan kalimat dari mulut dengan ringan dan benar (Mu’jam Mufradat Alfazh al-Qur`an, entri ratala). Berdasarkan QS. Al-Muzammil [73] : 1-7 di atas, tartildipraktikkan pada waktu shalat Tahajjud dengan penuh penghayatan. Sehingga dengan sendirinya, amal tartil ini mencakup: membaca, menghafal dan memahami isinya. Tanpa disatupaketkan dengan shalat Tahajjud, membaca al-Qur`an secara tartil tidak mungkin tercapai.

Keempat, iddikar. Asal katanya idztikar, dari dzikr; peringatanBerdasarkan kaidah sharaf, huruf dzadan ta diidghamkan menjadi dal, jadilah iddikar. Maknanya, merenungkan peringatan dan pengajaran al-Qur`an, dengan kata lain mengambil pelajaran dan menjadikannya ibrah. Firman Allah swt:

Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yangmengambil pelajaran? (QS. Al-Qamar [54] : 17, 22, 32, 40).

Kelima, tadabbur. Asal katanya adalah dubur; ujung sesuatu. Maksudnya, menurut al-Biqa’i adalah “merenungkan akibatnya dan kesudahan perkaranya” (Nazhmud-Durar fi Tanasubil-Ayat was-Suwar, QS. 4 : 82). Makna tadabbur menurut az-Zuhaili adalah ta`ammul  ma’anihi wat-tabasshur bi ma fihi;merenungkan maknanya dan menghayati kandungannya (Tafsir al-Munir, QS. 4 : 82). Allah swt mengingatkan:

Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur’an ataukah hati mereka terkunci? (QS. Muhammad [47] : 24, An-Nisa` [4] : 82)

Ringkasnya, berinteraksi dengan al-Qur`an itu adalah membaca (tajwid/tahsin), menghafal (tahfizh,plus mendengarkan/tasmi’), dan memahami kandungan (tafsir) al-Qur`an. Ketiga amal ini harus sama-sama diperhatikan, sebab sama-sama diwajibkan. Jangan sampai ada yang “terperkosa” salah satunya, seperti terlalu fokus pada tajwid/tahsin sehingga abai dari tafsir, atau terlalu fokus pada tafsirsehingga abai dari tahsin dan tahfizh. Ketiga amal ini, pada bulan Ramadlan diintensifkan dalam tadarus al-Qur`an. Dengan demikian, tadarus al-Qur`an sangat tergantung dari kelima amaliah ini di bulan selain Ramadlan, demikian juga sebaliknya. Wal-‘Llahu a’lam.

Nashruddin Syarief

Taken From: http://pemikiranislam.net/2012/07/meningkatkan-kualitas-tadarus-al-quran/

One thought on “Meningkatkan Kualitas Tadarus Al Qur’an

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s