Salah satu contoh betapa kerdilnya pemikiran orang-orang #JIL di negeri kita bisa terlihat pada screenshot ini. #IndonesiaTanpaJIL

Pikiran kerdil adalah milik orang2 yg kerdil. “Buat apa mikirin Palestina, sementara masalah di negeri ini saja sudah banyak?”.

Pertama, org yg mengatakan hal ini kerdil karena lupa hutang budi. Ketika RI merdeka, mufti Palestina adalah salah satu tokoh yg sangat kuat mendukung. Padahal saat itu masalah di negeri mereka sudah banyak.

Kedua, org ini kerdil karena cuma mampu memikirkan masalahnya sendiri. Orang2 besar pasti punya kebutuhan pribadi, dan kadang2 kebutuhannya sendiri tidak terpenuhi juga. Tapi yang membedakan org besar dan org kerdil adalah kenyataan bahwa orang2 besar tdk hidup utk dirinya sendiri. Mereka memikirkan orang lain. Setiap Muslim harus bermental pemimpin, harus berusaha menanggung beban orang lain. Kita semua diajarkan utk tdk berpikir kerdil.

Ketiga, orang ini sudah jelas kerdil di hadapan Allah SWT, karena kualitas keimanan seseorang dinilai dari besarnya rasa cintanya kepada sesama Muslim. Kalau darah sudah tertumpah dan nyawa sdh melayang tapi amarah itu blm juga hadir, mungkin karena memang merasa tidak bersaudara. Jangan salahkan siapa2 kalau kelak tak ada yang mau menolong manusia2 kerdil ini, karena tdk ada yang merasa bersaudara dengannya.

Quoted from: Akmal Sjafril

Harusnya Tak Ada Tanya, “Kenapa Bela Palestina?”

Islamedia– Kisah Israel – Palestina adalah kisah usang? Kisah ini memang lebih tua dari kisah perjuangan merebut kemerdekaan Bangsa kita, Indonesia. Pada 14 Mei 1948, kisah perang antara Israel – Palestina makin memuncak karena Israel dengan lancangnya mendeklarasikan diri sebagai sebuah negara. Bahasa kasarnya, kisah Israel – Palestina adalah kisah basi.

Kini, mencuat lagi kisah tentang kejamnya penjajahan Israel atas Palestina. Kita mungkin tak lagi heran atas kisah kebiadaban Israel. Karena sedari dulu memang begitulah kisahnya.

Harusnya memang tak ada lagi kalimat “Palestina kembali terluka”. Karena memang Palestina senantiasa terluka, hanya luka-luka yang sebelumnya bisa jadi tidak terekspos media. Ya, Palestina memang senantiasa terluka oleh blokade dan intimidasi Israel. Menurutku, kalimat yang lebih tepat adalah “Palestina masih terluka”.

Mungkin menurutmu, kisah Palestina terkesan kisah usang dan basi. Tapi kisah perjuangan mereka tak pernah usang untuk membakar semangat dukungan dunia untuk kemerdekaan Palestina. Kisah kegigihan mereka tak pernah basi untuk membuat kita tertunduk dalam karena malu pada mereka yang tetap kuat menggigit agama. Kisah mereka bukanlah kisah monoton yang hanya berkisah tentang hilangnya nyawa, karena kematian mereka adalah sebuah syahid yang didamba.

Permasalahan ini bukan semata tentang konflik Israel – Palestina saja. Cakupan permasalahannya lebih luas dari itu. Ini tentang penjajahan, penindasan dan penistaan.

Sebenarnya kita perlu mencari alasan kenapa harus mendukung Palestina? Karena persoalan Palestina adalah pelanggaran HAM berat. Kebengisan Israel ini sangat menyandra setiap jiwa-jiwa yang masih bernurani. Ya, apa pun agamanya, bagi mereka yang masih bernurani, pasti turut mendukung terhentinya agresi militer Israel.

Terlebih lagi, jika dilihat dari segi historis, Palestina memiliki peran besar bagi Bangsa Indonesia. Disaat negara-negara yang lain belum mengakui kemerdekaan Indonesia, Palestina menjadi pendukung terdepan dalam kemerdekaan Indonesia. Syaikh Amin Al-Husaini, seorang mufti agung Palestina, menyeru kepada seluruh pemimpin Arab untuk memberikan pengakuan untuk Indonesia.

Rasanya kedua sudah cukup menjadi alasan dan bahan renungan bagi kita untuk membantu kemerdekaan Palestina.

Korban kebiadaban Israel bukan hanya pejuang Hamas, tapi juga kaum perempuan dan anak-anak tak berdosa. Ini perlu menjadi perhatian khusus. Jangan-jangan Israel sengaja mengincar nyawa mereka agar terputus generasi penerus para pejuang kemerdekaan Palestina.

Ya, seorang perempuan adalah aset berharga juga madrasah pertama. Ia yang melahirkan para jundullah dan ialah sang pendidik saat sang ayah harus pergi ke medan perang. Ialah yang menanamkan jiwa-jiwa pemberani dan tawakal pada anak-anak mereka. Hingga setiap anakl di Palestina tak takut dan gentar lagi ketika roket dan peluru bertebaran saat mereka tengah asik bermain. Karena keberhasilan sang ibu yang telah menanamkan nilai tawakal tingkat tinggi, hingga mereka yakin bahwa peluru dan roket itu sudah punya alamatnya masing-masing.

Belakangan ini marak bertebaran foto-foto anak kecil baik korban luka maupun korban jiwa. Miris dan ingin sekali meminta pada mereka untuk tidak menampilkan atau membagikan foto-foto itu. Karena stiap kali melihat foto anak-anak korban kebiadaban Israel, rasanya hati begitu ngilu dan mata tak mau menatapnya. Inilah ironisnya. Disatu sisi kita pasti tak tega menyaksikan foto berdarah itu apalagi jika yang menjadi korban adalah anak kecil mungil yang tak berdosa. Tapi jika kita tak mengekspos foto mereka, sbisa jadi dunia tidak akan tahu bahwa inilah yang tengah terjadi di sana. Bahwa anak-anak kecil nan lugu inilah yang menjadi korbannya.

Perjuangan Palestina ini tidak sepenuhnya mendapat dukungan dari semua negara, Amerika Serikat adalah salah satunya. Bahkan dengan tegas Presiden AS, Barrack Obama mendukung aksi yang dilancarkan oleh Israel karena menganggap bahwa serangan Israel ke Palestina merupakan serangan balasan atas tindakan HAMAS yang meluncurkan roket ke Israel. (Okezone,19/11/12) Sungguh sebuah dukungan yang sebelah mata sangat terlihat atas sikap Presiden AS ini. Tidakkah dia melihat bahwa Palestina begitu ‘pengap’ karena blokade yang dilakukan Israel. Sungguh, alasan pemblokiran ini saja sudah cukup bagi Palestina untuk melawan Israel. Karena blokade ini ‘mematikan’ mereka secara perlahan karena memutus akses perdagangan, bantuan dan lainnya.

Bahkan PBB yang kerap kali menjungjung tinggi HAM belum nampak jelas aksinya atas agresi Israel hingga detik ini. Harusnya PBB belajar dari Indonesia. Negara berkembang sekelas Indonesia saja mampu membentuk Densus 88 yang tegas, lugas, main sergap dan angkat senjata pada tersangka teroris, apalagi Israel yang jelas-jelas merupakan state terrorist. Terrorism is the systematic use of violence to create a general climate of fear in a population and thereby to bring about a particular political objective. (The Britanica Encyclopedia)

Harusnya makin jelas siapa the real terrorist di sini. Kekuatan Israel yang di backing penuh oleh AS menjadikannya ‘besar kepala’, karena merasa didukung oleh negara super power. Untuk itulah, kita harus bersatu padu melawan dan medukung perjuangan Palestina.

Yakinlah, sekecil apapun kontribusi yang diberi akan berdampak bagi perjuangan Palestina untuk merdeka. Baik itu berupa doa, sumbangan material maupun aksi solidaritas.

Munajat doa tulus kalian akan mengalir halus dalam jiwa-jiwa mereka, yang menambah kekuatan tersendiri bagi kebesaran hati. Sumbangan harta kalian akan menjadi amunisi nyata untuk membeli senjata ataupun mengobati yang terluka. Aksi solidaritasmu yang berkumpul dengan penuh senandung pekikan takbir akan menyiutkan nyali musuh-musuh mereka, menjadikan mereka gentar karena nyatalah kita mendukung kemerdekaan Palestina.

#Pray, Fight and Free Palestine

Anisa Prasetyo Ningsih
Aktivis KAMMI UNJ

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s