#Peringatan|Kisah ini hanyalah fiktif belaka, jika ada kesamaan nama, tempat ataupun kejadian, hal itu hanyalah kebetulan semata yang tidak disengaja. | Cerita ini saya tulis beberapa tahun yang lalu dan sempat saya publish di forum intranet tempat saya bekerja. Saya sudah lupa, darimana saya terinspirasi menulishkan cerita ini. | Selamat menikmati, semoga Kita bisa mendapatkan pelajaran setelah membacanya.🙂

Jreng-jreng-jreng…

————————————————————————————

Pict: sekolahalamjogja.wordpress.com

Pict: sekolahalamjogja.wordpress.com

Pak Badrun, kerutan di dahinya menampakkan usianya tak muda lagi, pun begitu dengan permukaan kulit di bawah kedua matanya. Sebagian rambutnya mulai memutih dan sebagian lagi coklat kemerahan.

Menurut para tetangganya, Pak Badrun adalah orang yang hidup berkecukupan. Kehidupan rumah tangganya pun terbilang harmonis. Sampai pada satu hari dimana cobaan itu datang, usaha yang dibangunnya sejak lima tahun ke belakang bangkrut, ditipu rekan bisnisnya sendiri. Istrinya minta cerai lantaran Pak Badrun tak mampu lagi memberinya nafkah yang cukup. Kedua anaknya ikut dengan ibunya. Dia hidup sendiri, dia merasa sangat kesepian, kendatipun tetangga-tetangganya sering menemaninya ngobrol, memberinya support yang maksimal. Tapi dia tetap merasa benar-benar sendiri.

Dan peristiwa itupun terjadi, Pak Badrun berputus asa atas semua cobaan yang menderanya. Dia merasa menjadi orang paling tidak beruntung kala itu. Berbagai macam cara sudah ia lakukan, minta bantuan kepada saudara, orang tua, tetangga, semuanya sudah dilakukan.  Hingga terpikirlah olehnya sebuah kesimpulan, dia bisa keluar dari permasalahan yang ada dengan cara mengakhiri hidupnya.

Mati? ya sepintas hal itu akan membebaskan kita dari setiap permasalahan yang membelenggu kehidupan. Tapi apakah semudah itu? Ternyata, Pak Badrun pun sadar tidak semudah  itu Ia bisa keluar dari masalahnya. Pertama, Ia mencoba mengakhiri hidupnya dengan cara melompat dari gedung bertingkat di dekat pasar. Pagi itu dia sudah bersiap-siap meloncat dari lantai paling atas di gedung itu. Tapi begitu melihat ke bawah, kengeriannya muncul. “Sakit”, serunya di dalam hati, “kalau saya loncat dari sini pasti akan sakit menjelang ajalku”, lanjutnya masih membatin. Iapun mengurungkan niatnya itu.

Siang itu, Pak Badrun masih memikirkan bagaimana caranya dia bisa mati tanpa harus merasakan rasa sakit. Pak Badrun pun ‘terpaksa’ harus memutar otaknya kembali. Lama dia berpikir, sampai juga pada kesimpulan berikutnya, “saya bisa bunuh diri di rel kereta api”. Dalam bayangannya ia akan berbaring di rel, saat kereta api lewat. Dengan begitu dia tidak akan merasa sakit karena dia pasti langsung mati saat tubuhnya di lindas kereta api.

@@@

Pagi-pagi buta dia sudah menyusuri rel kereta, mencari tempat yang dirasa sepi dan tidak akan ada orang yang melihat ketika dia sedang berbaring. Dia pun mendapatkan tempat yang diinginkannya itu di perbatasan kota tempatnya tinggal dengan persawahan milik kampung terdekat dari kota itu. Dia pun berbaring, di atas rel kereta, sekitar lima belas menit lamanya dia menunggu kereta pertama lewat. Dan selama itu pula dia tidak mendapati satupun kereta lewat. Pukul 06:28, kereta yang dinanti-nantikannya datang dari arah kota. Mula-mula getarannya mulai terasa di rel tempatnya berbaring, lambat laun suarnya pun mulai terdengar menderu.

Pak Badrun menoleh kereta yang sudah mulai kelihatan gerbong lokomotifnya, dari apa yang dilihatnya dia tau, kereta itu kereta antar kota, sepertinya bertujuan akhir di Surabaya. Getaran rel semakin kencang, suaranya pun semakin terdengar keras. Sampai sekitar 20 meter dari tubuhnya, secara mengejutkan, Pak Badrun harus melompat menjauh dari rel kereta. Karena, lagi-lagi Ia takut dan ngeri membayangkan sakitnya dilindas kereta.

Ia pun pulang ke rumah masih dengan keadaan lunglai. Ia harus memikirkan lagi, bagaimana caranya Ia bisa mati tanpa harus merasa sakit.

Sesampainya di rumah Ia menceritakan hal-hal yang terjadi selama ini, termasuk percobaan bunuh dirinya itu kepada tetangganya. Tetangganya yang orang baik dan perhatian itupun kagetnya bukan main. Di tengah  keheranannya, “Cobalah datang ke ‘Si Mbah’, dia terkenal sebagai orang yang bijak dan cobalah tanya kepadanya, barangkali dia bisa memberimu solusi”, sang tetangga memberi saran.

“Siapa mas? Rumahnya dimana? Bisakah dia memberikan saya solusi pada permasalahan saya, mas?”, desak Pak Badrun.

“InsyaAlloh, dia bisa memberi solusi. Rumahnya ada di kampung sebelah, sebelah masjid Al Islah. Namanya ‘Si Mbah’ Cobalah datang kesana!”, Jawabnya menenangkan.

“Baik mas, saya akan kesana, sekarang juga!”, serunya mantap.

@@@

“Assalamu’alaikum, kulo nuwun…”, Pak Badrun ber-uluk salam.

“Wa’alaikumussalam”, terdengar sayup-sayup suara orang tua menjawab salam dari dalam rumah sederhana berbilik bambu itu.

Tak lama kemudian, seorang laki-laki berumur enam puluh-an keluar, “Cari siapa nak?”, tanya pak tua itu pada Pak Badrun.

“Saya mau ketemu ‘Si Mbah’ Pak.” Jawab Pak Badrun singkat.

“O ya, saya sendiri nak, ada yang bisa saya bantu? Mari masuk dulu…” seru ‘Si Mbah’ antusias.

Pak Badrun masuk dan duduk di kursi yang sepenuhnya terbuat dari bambu. Pak Badrun pun menceritakan semua kejadian yang dialaminya selama ini. Sementara Pak Badrun menceritkan pengalaman hidupnya secara runtut dan jelas, ‘Si Mbah mendengarkan dengan seksama sambil sesekali manggut-manggut. Di akhir cerita, Pak Badrun memberikan kesimpulannya bahwa dia ingin mati saja, tapi dia juga tidak mau mati dengan cara yang menyakitkan.

‘Si Mbah’ memahami apa yang diinginkan orang yang ada di hadapannya itu. Dia berpikir sejanak sebelum memberikan saran atau solusi. “sebentar”, serunya pada Pak Badrun sambil berdiri dan masuk ke dalam bilik di belakang ruang tamu. Dalam hati, Pak Badrun bertanya-tanya, “apa gerangan yang akan dilakukan ‘Si Mbah’ ini?”. Sejurus kemudian, ‘Si Mbah’ kembali keluar dari biliknya sambil membawa tiga botol air.

“Ini dia, dengan ini kamu akan mati tanpa merasa sakit”, serunya pada Pak Badrun sambil meletakkan tiga botol itu di meja tepat di depan Pak Badrun.

“Bagaimana caranya ‘Mbah’?” tanya Pak Badrun sedikit gugup.

‘Si Mbah’ pun memberi penjelasan singkat, “Jika kamu meminum air pada botol pertama, berarti umurmu tinggal dua hari lagi,” Pak Badrun masih bingung dengan maksud ‘Si Mbah’. “Kemudian saat kamu meminum botol yang kedua, berarti umur kamu tinggal satu hari lagi, dan jika kamu meminum air pada botol yang ketiga berarti kamu sebentar lagi akan mati.” Lanjut ‘Si Mbah’ tenang.

@@@

Pak Badrun pulang masih dalam keadaan bingung dan bertanya-tanya. Tapi dia tidak mau  ambil pusing, “saya akan tetap menjalankan saran ‘Si Mbah’”, bisiknya dalam hati.

Akhirnya dia meminum air pada botol pertamanya. Dia senang sekali karena dua hari lagi, dia akan mati. Tapi hati kecilnya berbisik, “Umurmu tinggal dua hari, lakukanlah hal yang bermanfaat untuk dirimu sendiri.” Ia pun mengiyakan apa kata hatinya itu. “Saya akan melakukan hal-hal yang bermanfaat hari ini.”, serunya penuh semangat.

Pak Badrun pun berkeliling ke rumah saudaranya, tetangga, mantan istrinya, anak-anaknya dan semua orang yang dikenalnya. Didatanginya satu persatu rumah mereka. meminta maaf kepada semua orang, memohon maaf jika selama ini sudah membuat repot dan jika selama ini banyak salah. Hari itu ia jadi sangat baik, ketika bertemu seseorang, dia langsung menyapa dan menyalaminya. Jika dia tau ada orang yang butuh bantuannya, Ia akan membantunya. Diberikannya harta-hartanya kepada orang-orang disekitarnya, anak-anak yatim, fakir-miskin dan masih banyak lagi.

Pak Badrun mengakhiri hari itu dengan hati senang, tentram dan sangat bersyukur kepada Alloh. Karena telah diberi solusi yang sangat bagus melalui ‘Si Mbah’.

Hari berikutnya, Pak Badrun meminum air pada botol keduanya. Hal itu berarti umurnya tinggal satu hari saja. Pikirnya, hari ini Ia harus melakukan hal-hal yang terbaik yang bisa dia lakukan. Dari sejak malamnya dia shalat tahajjud dengan khusyuknya, menangis-nangis, mengiba di hadapan Rabb-nya, memohon ampun atas kelalaiannya, berdzikir tiada henti. Tilawah, sebanyak-banyaknya sampai waktu subuh. Dia pun mengerjakan dua rekaat Sholat Fajar, sebelum pergi menuju masjid untuk menunaikan Sholat Subuh berjama’ah. Selesai sholat subuh, dia juga menyempatkan untuk menyapa dan kembali meminta maaf kepada semua jama’ah yang ada.

Selesai itu semua dia masih duduk di masjid sambil kembali ber-tilawah. Waktu isyraq pun menjelang, dia mengerjakan sholat dua rakaat kemudian bergegas pulang ke rumahnya yang memang tak begitu jauh dari masjid. Sesampainya di rumah, ia kembali berfikir, ternyata hidup saya dua hari ini begitu indah, begitu tenang, begitu tentram.

Namun hatinya kembali dilanda kebingungan dan ketakutan, dalam pikirannya, hari ini adalah hari terakhir hidupnya. Padahal dia baru menikmati indahnya hidup. Apa yang harus dilakukannya? Haruskah dia tetap meminum air dari botol ke tiga yang diberikan ‘Si Mbah’.

Ia memutuskan untuk kembali mendatangi ‘Si Mbah’. Sesampainya di rumah ‘Si Mbah’ dia menceritakan dilema yang dialaminya. Kali ini ‘Si Mbah’ mendengarnya sambil mesem-mesem. Kemudian ‘Si Mbah’ mengomentari, “Apa boleh buat? Kamu sudah minum air di botol yang ke dua, berarti hari ini hari terakhir hidupmu”, masih dengan mesem-mesem. “Kamu harus minum air di botol yang ke tiga itu, dan jika kamu meminumnya berarti hidupmu tinggal sepuluh hitungan”, lanjutnya dengan nada memaksa. Dengan nada yang berat, Pak Badrun mengiyakan anjuran ‘Si Mbah’, “baik ‘Mbah’ saya akan minum air ini”.

Pak Badrun pun benar-benar meminumnya.

Sesaat setelah Pak Badrun meminum air itu ‘Si Mbah’ pun menghitung mundur, “Sepuluh, sembilan, delapan…”. Dada Pak Badrun Bergetar begitu kuat, jantungnya berdegup sekencnag-kencangnya, aliran darahnya serasa akan berhenti, keringatnya bercucuran keluar.

Nah pada hitungan terakhir, ternyata tidak terjadi apa-apa selain ketakutan yang muncul dari raut muka Pak Badrun dan keringat yang meluncur dengan derasnya. “Tenang saja nak, kamu akan baik-baik saja,”, seru ‘Si Mbah’ membuyarkan ketakutannya. “Air yang kamu minum itu air biasa saja, jadi tidak akan menyebabkan kematian padamu”. “Sekarang kamu pulanglah, renungkan pelajaran apa yang bisa kita ambil dari tiga botol air itu.” lanjutnya menutup perbincangan.

-Mazchay-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s