menghargai
Yang mahal itu bukan harga. Tapi kemampuan menghargai. Sebab harga itu berbeda-beda. Maka apa yang bernilai pasti punya harga mahalnya bagi yang mengerti. Tapi bisa jadi tidak di mata orang bodoh. Sebaliknya, orang dungu bisa menghina apa yang sangat sakral. Atau malah mengagungkan bermacam-macam sampah.

Begitulah kita saksikan selalu ada orang-orang degil yang menghina Nabi Muhammad. Rasul junjungan kita punya tempat sangat istimewa di dasar kesadaran setiap Muslim. Di sana membanjir berjuta alasan, bergelora, dan kemudian mengkristal menjadi satu raksasa keyakinan taat, hormat, kagum, respek, dan rindu tak bertepi pada Rasul, adalah gelombang jiwa yang tak dimengerti oleh manusia-manusia pandir.

Yang mahal itu bukan harga. Tapi kemampuan menghargai. Sebab apa yang semula kita anggap mahal, bisa tiba-tiba kita perlakukan dengan murah dan tak berguna. Kadang ini bukan soal berapa yang telah kita bayar. Tapi seperti apa kita memanfaatkannya secara penuh. Begitulah para perempuan Inggris berperilaku terhadap kosmetik. Mereka dikenal sangat royal. Survey tahun lalu menunjukkan bahwa sekitar Rp 14 Miliar dalam setahun dihabiskan para perempuan Inggris untuk membeli berbagai produk perawatan kulit.

Parahnya, tidak semua produk itu nantinya dipakai. Rata-rata mereka akan membuang sampai 3/4 dari seluruh kosmetik yang mereka beli. Mereka membeli sekitar delapan jenis produk, namun hanya dua jenis yang benar-benar digunakan. Satu dari tujuh perempuan itu juga mengaku menimbun produk tersebut sampai tiga tahun hingga akhirnya tak bisa dipakai lagi. Tidak mengherankan bila dalam suatu penelitian lain terungkap bahwa rata-rata perempuan di Inggris menyumbang 75 persen limbah dari produk kecantikan.

Yang mahal itu bukan harga. Tapi kemampuan menghargai. Bahkan seekor anjing pun kadang bisa menghargai apa yang tidak mudah dipahami manusia. Adalah Capitan, nama seekor anjing gembala di Argentina Tengah, telah enam tahun setia menunggu kuburan tuannya. Saat itu, setelah pemiliknya, Miguel Guzman, meninggal, tahun 2006, anjing itu kabur dari rumah. Keluarga Miguel pasrah dan mengira anjing itu mati. Seminggu kemudian ditemukan ada di samping kuburan tuannya. Sejak saat itu Capitan terus berada di sana. Anehnya, keluarga itu sama sekali tak pernah membawa Capitan ke kuburan sebelum ia ditemukan. Sesudah itu, setiap kali dibawa pulang ke rumah, anjing itu selalu kembali sendiri ke kuburan tuannya. Direktur pekuburan itu, kini selalu memberi makan dan merawatnya.

Yang mahal itu bukan harga. Hanya bila kita mengerti cara menghargai, maka kita akan punya harga.

diambil (dengan perubahan judul) dari: Khotorot/Editorial Majalah Tarbawi Edisi 282 Th. 14, Dzulhijjah 1433/ 4 Oktober 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s