Lebaran Tanpa Mudik


Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, lebaran tahun ini kami (saya dan keluarga) memaksakan diri -lebih tepatnya terpaksa- mengesampingkan ‘ritual’ mudik pulang kampung ke rumah orang tua di Majenang.

Cerita bermula sejak sekitar 2 bulan yg lalu, dimana kami dititipi anggota keluarga baru dalam diri anak pertama kami, Irsyad Izzul Haq (sekalian kenalan๐Ÿ™‚ ). Berhubung umurnya yg masih sangat belia, tak tega rasanya jika harus memaksakan Irsyad untuk ikut mudik ke kampung halaman. Di samping jaraknya yg cukup jauh (ยฑ7 jam perjalanan naik bis) kondisi fisik anak kami juga belum memungkinkan untuk dibawa pergi terlalu jauh. Setidaknya itu yang kami pikirkan.

Saya gak bisa membayangkan, segimana sedihnya ibuku, sedangkan saat kami pulang saja saat kami semua anak-anaknya sungkeman memohon maaf, selalu saja air matanya tak pernah terbendung. Apalagi jika hal itu digantikan lewat telepon? Hiks :(( Jujur mata ini berkaca-kaca saat menuliskan tulisan ini, karena membayangkan tangis ibunda tercinta. Rencananya kami baru akan menelepon ke rumah besok pagi, sepulang dari shalat ‘Ied.

Sedih memang, tapi apa daya, setiap keputusan pasti mempunyai konsekuensinya masing-masing. Dari jauh, kami hanya bisa berdo’a; Mudah-mudahan Allah berikan kesehatan kepada kami, orang tua kami, saudara-saudara kami, sanak saudara kami, dan kepada kita semua. Dan memberikan kesempatan kepada kita untuk kembali berkumpul dalam kesempatan-kesempatan yg diridhai-Nya.

Rabbighfirli wa li walidayya warham huma kama rabbayani shaghira.
ุขู…ู‘ููŠู’ู†ูŽ ุงูŽู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ุขู…ู‘ููŠู’ู†ูŽ

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s